Iffa el em’s Weblog



MENJADIKAN SPIRITUALITAS BAGIAN DARI PSIKOTERAPI (Berdasarkan Pengalaman Pada Penanganan Anak Spesial)

Diantara anak terapi yang lain, Nafha merupakan anak yang sering mengalami tantrum dalam waktu lama. Durasi waktu terapi lebih banyak habis untuk menenangkannya. Nafha, gadis cilik yang imut, rambutnya yang ikal dibagian bawah semakin membuatnya terlihat seperti boneka. Usianya kurang lebih antara 4 – 4,5 tahun, ia merupakan anak special yang Allah titipkan kepada kedua orang tuanya.

Hal yang sangat menyenangkan terutama bagi saya sebagai terapisnya ketika selama 2 jam terapi ia tampak tenang dan kooperatif. Namun, merupakan hal yang sangat melelahkan secara fisik bahkan kadang psikis ketika ia mengalami tantrum. Menangis sambil minta digendong, dan tidak hanya itu saja tapi juga menarik-narik jilbab, menjambak rambut  ketika ia berhasil memasukkan tangannya ke dalam jilbab. Ketika kami abaikan, ia berlari mengejar menarik baju dan bahkan mencubiti pinggang kami. Satu orang sering tidak bisa mengatasi terhadap sikap tantrumnya, berbagai teknik telah kami terapkan. Bentuk empati untuk tahap awal, “Nafha menangis? Apakah Nafha marah? Bunda tunggu sampai tenang…” . Teknik ini lebih sering gagal, akan tetapi ini berguna untuk mengenalkan bentuk emosi yang dialami oleh anak. Selanjutnya jika ini tidak berhasil maka mengalihkan kepada permainan-permainan yang lain.  Jika dalam beberapa lama tantrum belum juga reda, maka  sikap selanjutnya adalah mengabaikan apa yang ia minta (jika hal itu memang tidak boleh untuk diberikan) atau tidak memberi respon terhadap perilaku anak. Beberapa teknik diatas lebih sering tidak mempan ketika diberikan kepada Nafha pada saat tantrum. Ia tetap menangis, menarik-narik baju dan mencubit pinggang, jika berhasil meraih kepala maka ia akan menarik jilbab hingga kadang jilbab hampir lepas. Sebuah penanganan yang benar-benar menguras tenaga, meski telah dibantu oleh teman kerja yang lain.

Teknik terakhir yang sering saya lakukan adalah pelukan beruang, teknik ini sering dilakukan pada anak berkebutuhan khusus ketika tantrum yang dialami belum juga reda. Memeluknya erat bisa dari depan atau belakang, mengalirkan energi positif pada anak, berusaha memahami apa yang dirasakan oleh anak. Pada saat melakukan pelukan beruang ini, saya mengintegrasikan dengan spiritualitas, Sambil memeluknya saya berdoa dengan khusyuk agar Allah memberikan ketenangan kepadanya dan agar Allah juga memberikan kekuatan dan kesabaran pada saya, tidak hanya itu saya juga sering membacakan ayat Kursi, shalawat atau syair Abu Nawas dengan lembut di telinga. Hasilnya perilaku tantrum berkurang dan lebih sering anak menjadi tenang. Jika diskalakan  1-9, tantrum berkurang menjadi skala 7 – 6.

Pengalaman ini membuat saya yakin bahwa spiritulitas menjadi bagian dari psikoterapi yang memberikan efek positif. Pengalaman bersama Nafha membuat rasa lelah saya hilang ketika saya menyerahkan ini kepada Allah, energi positif serasa mengalir ketika berdoa secara khusyuk. Saya semakin menyakini bahwa spiritualitas juga merupakan bagian dari psikoterapi, Meski pengalaman ini masih jauh untuk bisa dijadikan sebagai landasan teoritis, akan tetapi semoga pengalaman ini menjadi sebuah inspirasi dan kesadaran bagi kita untuk membumikan spiritualitas pada setiap apa yang kita kerjakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: