Iffa el em’s Weblog



Bulan Ramadhan, Sebuah Madrasah Spiritual dan Emosional

Latifah Masruroh*

Ramainya Tarawih dan maraknya tadarus pada malam hari menjadi ciri khas pada bulan ramadhan, nuansa religius terlihat lebih kental dibanding bulan-bulan yang lain. Kondisi sosial terasa lebih hidup, orang-orang lebih banyak berbondong-bondong untuk bershodaqoh dan peduli kepada sesama terutama kaum mustadz’afin. Tidak hanya itu, kondisi perekonomian turut menggeliat, took-toko, pasar dan swalayan mulai banyak dipadati pengunjung, bahkan muncul pedagang-pedagang baru di pinggir jalan dengan menjual berbagai macam takjil. Ramadhan memberikan nuansa khas yang begitu unik.
Nuansa yang demikian semoga tidak hanya merupakan sebuah rutinitas belaka, akan tetapi semoga setiap diantara kita mampu membumikan nilai-nilai moral (moral values) yang terkadung dalam bulan Ramadhan.

Ramadhan, Madrasah Spiritual & Emosional
Ramadhan secara harfiah bermakna membakar sesuatu. Pengambilan nama bulan Ramadhan tidak terlepas dari sejarah orang-orang Arab terdahulu. Dalam tafsir Al-Kasysyaf, orang Arab memberikan nama-nam bulan (memakai system peredaran bulan) berdasarkan jatuhnya musim pada bulan itu. Sedangkan bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, sehingga disebut dengan bulan ramadhan, bulan yang sangat panas. Dalam sebuah hadis riwayat lain menyebutkan bahwa disebut bulan Ramadhan karena bulan ini membakar dosa-dosa umat manusia.
Terlepas dari apapun arti dari Ramadhan, mari kita melihat nilai-nilai moral (moral values) yang perlu dilaksanakan dalam bulan ini. Perintah utama pada bulan ini adalah melaksanakan puasa, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 183-185 dengan jelas Allah berfirman mewajibkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan. Puasa adalah menahan, menurut syara’ puasa (shiyam) adalah menahan diri dari makan dan minum serta bercampurnya antara suami istri pada siang hari. Puasa diawali dengan niat yang dilakukan sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa syarat-syarat tersebut merupakan syarat minimal bagi orang berpuasa, sehingga nilai moral yang terkandung didalamnya tidak berhenti hanya pada menahan lapar, dahaga dan bercampur antara suami istri. Esensi dari puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bersifat amoral, dan nabipun bersabda bahwa banyak diantara orang-orang yang berpuasa hanya memperoleh rasa haus dan lapar.
“betapa sedikitnya orang-orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang-orang yang kelaparan”.
Maka pada hakikatnya, puasa tidak hanya bersifat ritual semata akan tetapi nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya menjadi tujuan utama diwajibkan berpuasa. Setiap orang bisa saja mampu melakukan Puasa dengan ketentuan secara fiqhiyah, akan tetapi membumikan nilai-nilai moral yang terkadung didalamnya perlu perjuangan keras. Menahan untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela, menjaga kejernihan hati, dan belajar untuk bersabar merupakan bagian dari nilai-nilai moral yang terdapat dalam puasa. Kang Jalal dalam tulisannya “Shaum: Madrasah Ruhaniah” menjelaskan bahwa diantara pelajaran ruhaniah dalam shaum adalah: pertama, Ikhlas beramal semata-mata karena Allah. Puasa mengajarkan untuk beramal secara tulus, tanpa mengharapkan apapun terutama harapan kepada manusia. Puasa yang ikhlas merupakan wujud proses untuk menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh hawa nafsu. Kedua, Pembersihan diri. Puasa mendidik untuk menghindari perbuatan tercela sehingga dapat memperoleh taqwa. Ketiga, Ihsan. Berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dan berbuat baik dalam beribadah kepada Allah. Dengan demikian, puasa mendidik kita untuk beretika. Keempat, ibadah. Puasa merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka, ketika pelajaran dalam puasa ini dapat kita bumikan hal ini merupakan proses manusia seutuhnya.
Perintah kedua adalah melakukan zakat fitrah, dengan mengeluarkan sebagian kecil dari harta kita sebagai bentuk penyucian diri. Nilai moral yang terkandung dalam zakat fitrah ini tidak hanya proses penyucian diri akan tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Setelah hampir satu bulan melakukan proses penempaan diri melalui puasa, maka zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri dari dosa-dosa kita.
Anjuran ibadah yang lain adalah shalat tarawih, yang dianjurkan secara berjamaah. Sebuah ibadah yang tidak hanya bersifat secara vertical akan tetapi juga secara horizontal. Bersama-sama beribadah kepada Allah, berkumpul bersama tanpa memandang status sosial, nuansa kebersamaan terasa kental selama satu bulan. Anjuran yang lain adalah memperbanyak membaca Al-Quran secara beramai-ramai (tadarus). Nilai moral secara sosial juga terdapat dalam anjuran ini, membangun kebersamaan terutama dengan tetangga.
Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada bulan ramadhan ini merupakan bentuk pembelajaran secara spiritual dan emosianal. Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mengasah sisi spiritualitas kita dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan meluruskan niat. Serta mengajarkan kepada kita untuk mengasah kecerdasan emosi untuk lebih peduli kepada sesama, dan mampu menahan dari perbuatan yang amoral. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi madrasah spiritual dan emosional yang mampu mengasah sisi spiritualitas dan emosional yang seringkali kita abaikan. Dan Semoga dalam madrasah ini kita mampu mencapai puncak spiritualitas dan kecakapan emosi, sehingga pada akhir bulan ramadhan kita benar-benar menuju sebuah kemenangan hakiki, Kembali suci kepada fitrah manusia. Sehingga keresahan yang disampaikan oleh Dr.Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College Geogria dalam suatu konferensi di Universitas Michigan (Amerika) tidak menjadi kenyataan.
“kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan –lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit…. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan, kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual.”

Selamat Berpuasa!!!
@@@


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: