Iffa el em’s Weblog



Sekolah Inklusi, Sebuah Harapan

Latifah Masruroh

Masih terekam dengan jelas kondisi anak-anak berkebutuhan khusus di kampung Sidowayah, salah satu kampung pelosok kabupaten Ponorogo. Kampung ini memiliki banyak anak yang  berkebutuhan khusus baik secara fisik maupun mental, hampir disetiap RT terdapat anak dengan berkebutuhan khusus dan mereka tanpa mendapatkan pendidikan yang layak dan cenderung terabaikan. Dengan serba keterbatasan yang dimiliki, mereka hanya bisa duduk tak berdaya di emper rumah mereka yang berlantai tanah. Kondisi fisik dan mental yang terbatas membuat mereka tak bisa melakukan apapun bahkan untuk sekedar Bantu diri. Ketidakberdayaan inipun dilengkapi dengan kondisi pendidikan dan perekonomian keluarga mereka yang minim, tanpa memiliki pengetahuan tentang penanganan terhadap anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus.

Dan kini, saya kembali akrab dengan mereka (anak berekebutuhan khusus) semenjak bekerja di tempat terapi anak berkebutuhan khusus. Sisi hati saya trenyuh melihat wajah-wajah innocent mereka, bagaimanapun mereka adalah angugerah dari Tuhan yang menjadi amanah bersama.  Mereka butuh perhatian dan penanganan khusus untuk melewati masa-masa perkembangan yang cenderung terlambat dibanding anak tanpa berkebutuhan khusus. Keterlambatan dalam masa perkembangan ini juga memberikan pengaruh secara signifikan terhadap pendidikan yang seharusnya mereka tempuh.

Semua warga negara mempunyai hak yang sama terhadap pendidikan, termasuk didalamnya adalah anak berkebutuhan khusus. Demikian salah satu inti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31.  Hasil survey menunjukkan bahwa dalam setiap 150 kelahiran salah satu diantaranya menyandang autis, down syndrome dan kelainan anak yang lainnya. Pada saat ini jumlah merekapun terus bertambah, dengan berbagai penyebab, baik semasa dalam kandungan ataupun masa keemasan dalam perkembangan. Bagi orang tua yang menyadari sejak dini mereka akan memberikan penanganan sedini mungkin.

Permasalahan yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah pada saat mereka (anak berkebutuhan khusus) memasuki usia sekolah, kemana mereka akan menimba ilmu? Maka sekolah luar biasa menjadi tempat alternative bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka dengan berkebutuhan khusus, mereka berada dalam satu lingkungan dan bergaul dengan teman-teman senasib. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih riil. Hal ini karena berkaitan dengan dunia kerja yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Hal lain adalah mereka terbukti jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika mereka bergaul dengan anak-anak “normal’ (anak tanpa berkebutuhan khusus). Saat ini para orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus memperoleh angin segar dengan system sekolah baru. Sekolah inklusi, menjadi sebuah sekolah harapan untuk menumbuh kembangkan anak secara optimal, baik bagi anak dengan maupun tanpa berkebutuhan khusus.

Pada tanggal  26-29 September tahun 2005  para pakar dan praktisi sekolah inklusi dari 32 negara di dunia berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat untuk mengikuti International Symposium on Inclusion and The Removal Of Barriers To Learning. Dalam pertemuan ini mereka saling berbagi pengalaman mengenai sekolah inklusi di Negara masing-masing. Kehadiran sekolah inklusi merupakan upaya untuk menghapus batas yang selama ini muncul ditengah masyarakat, tidak hanya bagi anak normal dengan anak cacat (berkebutuhan khusus) akan tetapi juga bagi kalangan  mampu dan kurang mampu, serta perbedaan yang lainnya. Mereka (anak berkebutuhan khusus) dapat bersekolah dan mendapatkan ijazah layaknya anak normal. Dalam hal ini yang termasuk anak berkebutuhan khusus diantaranya adalah tunanetra, low vision, tunarungu, austis maupun anak-anak yang memiliki penyakit khusus. Disamping itu sekolah inklusi diharapkan dapat menjadi jembatan terhadap jarak yang terjadi pada anak normal dan cacat pada umumnya.

System Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan antara anak-anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama. Saat ini sekolah inklusi telah ada mulai dari tingkat TK hingga SMA, bahkan pemerintah mulai memarakkan dan memilih salah satu sekolah negeri untuk dijadikan sekolah inklusi.

Sistem belajar pada sekolah inklusi tidak jauh berbeda dengan sekolah regular pada umumnya. Mereka (para siswa) berada dalam satu kelas yang idealnya dalam satu kelas terdiri dari 1-6 anak berkebutuhan khusus dengan dua guru dan satu terapis yang bertanggung jawab dibawah koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Porsi belajar pada anak berkebutuhan khusus lebih kecil daripada yang ‘normal’. Hal ini tidak bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi. Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu anak-anak tersebut  akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke Ruang individu untuk mendapatkan perlakuan (bimbingan ) khusus. Dengan demikian diperlukan keberagaman metode pembelajaran agar supaya materi dapat tersampaikan secara merata kepada semua anak didik. Guru perlu memastikan bahwa semua siswa, terlebih mereka yang berkebutuhan khusus, sudah memahami penjelasan dengan baik. Ketika anak-anak berkebutuhan khusus belum bisa menerima materi dengan baik, sekolah pun harus siap melaksanakan program pembelajaran individual (PPI) atau IEP (individual educational program) untuk mendampingi satu per satu anak berkebutuhan khusus secara lebih intensif. Bentuk dari PPI atau IEP ini disesuaikan dengan kebutuhan yang perlu dikembangkan pada anak.

Bagaimana Dengan Penerapan Ujian?

Pendidikan bukanlah sebuah rutinitas ujian demi ujian tanpa memandang perbedaan kemampuan setiap individu. Inti dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan manusia. Demikian pula ketika anak berkebutuhan khusus dihadapkan dengan ujian sebagai hasil evaluasi. Sebagaimana dalam tulisan diatas substansi dari pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang seutuhnya, sehingga standart yang ditetapkan adalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak dan bentuk pelaporannya lebih banyak bersifat deskriptif. Demikian pula ketika menyangkut ujian kelulusan, dalam hal ini UAN, mereka perlu adanya dispensasi dengan memiliki standart khusus. Menyangkut masalah UAN ini telah disetujui oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa bahwa anak dengan berkebutuhan khusus tidak perlu mengikuti UAN (Julia Maria, januari 2008).

Manfaat Sekolah Inklusi

Meski sampai saat ini sekolah inklusi masih terus melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, namun dilihat dari sisi idealnya sekolah inklusi merupakan sekolah yang ideal baik bagi anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus. Lingkungan yang tercipta sangat mendukung terhadap anak dengan berkebutuhan khusus, mereka dapat belajar dari interaksi spontan teman-teman sebayanya terutama dari aspek social dan emosional. Sedangkan bagi anak yang tidak berkebutuhan khusus memberi peluang kepada mereka untuk belajar berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian. Disamping itu bukti lain yang ada mereka yang tanpa berkebutuhan khusus memiliki prestasi yag baik tanpa merasa terganggu sedikitpun.

Pengalaman penulis berada dalam sekolah inklusi (dalam hal ini Taman Kanak-Kanak), tidak menemukan permasalahan signifikan yang dihadapi,  justru kecerdasan emosi dan social anak-anak yang normal terasah dengan baik. Mereka menerima dan mau bermain dengan anak yang berkebutuhan khusus, mau memahami terhadap perilaku tidak wajar yang kadang dilakukan oleh mereka (anak berkebutuhan khusus), bahkan kepedulian mereka sangatlah tinggi terhadap teman yang berkebutuhan khusus. Lingkungan terpadu seperti ini dapat memenuhi tujuan-tujuan pendidikan kurikulum tradisional (regular) serta memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus baik secara fisik terlebih  sosial dan emosional.

Penutup

Meski saat ini Sekolah inklusi sudah mulai marak namun masih banyak pula masyarakat yang belum mengetahui dan memahami tentang sistem sekolah ini. Sehingga pemerintah, pemerhati pendidikan, guru dan Psikolog perlu terus mensosialisasikan system sekolah inklusi. Anak merupakan anugerah yang Allah berikan pada kita semua, termasuk anak dengan berkebutuhan khusus. Mereka adalah istimewa dengan keunikan masing-masing, dan menjadi amanah bersama untuk mendapatkan haknya termasuk dalam hal pendidikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: