Iffa el em’s Weblog



BELAJAR DARI FARIST

Lathifah Masruroh

Namanya Farist, usia 7 tahun. Hasil assesment sebelum sekolah dan terapi adalah retardasi mental. Perawakannya kecil dengan tubuh yang kaku dan selalu mengeluarkan air liur. Riwayat kelahiran, Farist terlahir premature dengan usia kandungan 7 bulan kurang, lahir dengan berat badan 1 Kg 2 Ons dan berada dalam incubator selama 2 bulan. Suaranya yang terkadang terdengar berat menjadi khas tersendiri diantara yang lain.

Pertama kali saya memegangnya menjadi anak terapis, banyak hal yang membuat saya cukup stress disaat berhadapan dengannya. Membantu mengajarkan dan mengusap air liurnya adalah hal kecil yang tidak perlu dipermasalahkan. Akan tetapi menghadapi serta mengatasi hiperaktif dan  kondisi emosinya yang sangat labil merupakan hal yang sangat melelahkan secara fisik dan Psikis. Farist tidak bisa duduk tenang dalam waktu lama.  Ketika pintu ruangan terbuka maka itu merupakan celah baginya untuk bisa keluar, tidak hanya keluar ruangan tapi juga keluar sekolah dan keliling kompleks. Ketika saya mengejar dan memintanya kembali, dengan ekspresi kemenangan dia terus berlari mengelilingi kompleks Karimata V, dan disaat Farist melihat saya maka dia akan tetap terus berlari dan berlari dengan gerakannya yang gesit.

Cerita lain dari Farist adalah banyak hal perilakunya yang membuat kita seringkali kehabisan akal dan kesabaran. Ia sangat mudah terpengaruh dengan menirukan perilaku yang ia lihat, ini menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri ketika yang ditiru merupakan hal-hal yang negative. Berhadapan dengan Farist memiliki tantangan tersendiri, menguras tenaga fisik dan psikis. Ia suka memukul dan mengamuk disaat keinginannya tidak terpenuhi atau disaat diminta untuk melakukan suatu hal. Untuk memasang sepatu saja butuh waktu lama dan menguras tenaga, bagaimana tidak, ia membuang kaos kakinya terlebih dahulu kemudian lari keluar sekolah. Ketika dipanggil, maka ia akan terus berlari, terkadang membutuhkan guru lain untuk membantu menertibkannya.

Tantangan selanjutnya adalah disaat waktunya tiba untuk kelas indivisual ( Farist bersekolah di TK inklusi, ada saatnya ia berada di kelas individu dengan 1 terapis dan ada saatnya ia bersama teman-temannya di kelas A untuk mengasah kecerdasan social dan emosinya). Ini merupakan tantangan yang juga cukup melelahkan, ia harus dipaksa untuk berada di kelas individual, dengan cara halus ataupun tegas ia tetap menentang dengan berbagai cara, mulai dari memukul, mengamuk, ucapan caci maki serta mogok tanpa mau bergerak terutama ketika diajak untuk berjalan. Maka cara terakhir yang dilakukan adalah dengan menggotongnya dibantu doleh guru yang lain.

Didalam kelas individualpun, Farist belum bisa kooperatif. Ia tetap menentang dengan cara apapun, mulai  dari mengamuk dengan membanting benda-benda di dalam ruangan atau bahkan membuangnya keluar jendela, caci maki pada terapis sering kali keluar. Hal ini terjadi setiap kali akan melakukan kegiatan akademik yang lebih bersifat kognitif. Kejadian-kejadian diatas hampir terjadi setiap hari, psikolog sayapun mulai menyarankan dengan berbagai teknik. Hingga kemudian terjadi hal yang tidak terduga, Farist menjadi sangat menentang terhadap saya. Ia tidak hanya menentang disaat proses pembelajaran secara individual berlangsung, namun setiap kali saya dekati saja si Farist langsung berpaling muka dengan ekspresi wajah tidak suka. Aneh sekali, padahal jika berhadapan atau didekati oleh guru-guru yang lain temasuk psikolog saya ia tidak bersikap menentang keras. Berbagai cara sudah dicoba untuk mengatasi hal ini, Psikolog saya juga mulai berusaha keras untuk menemukan solusi bahkan dalam benak  beliau sempat terlintas untuk mengganti terapis saja. Pertanyaan besar bagi saya, jangan-jangan sayalah yang salah,  baik dari segi metode, sikap atau emosi sehingga tidak ada trust sedikitpun untuk saya.

Berbulan-bulan saya menghadapi sikap Farist yang demikaian. Pengenalan angka 1-3 saya lakukan selama 2 bulan, dan Farist belum  bisa juga untuk mengindentifikasikan angka 1-3. Berbagai teknik kami coba, mulai dengan system flowchart, kartu-kartu, kontekstualisasi dan yang lain, akan tetapi semuanya tidak membuahkan hasil. Hal yang paling mengherankan, Farist menjadi sangat tidak menyukai terhadap angka, jangankan  hanya menyebut angka, disaat saya nyanyikan lagu satu-satu aku sayang ibu dia langsung memalingkan muka, sebuah tanda penolakan.

Putus asa seringkali menghantui diri saya, saya merasa kehabisan akal untuk membuatnya setidaknya ada minat kepada angka. Hingga suatu ketika, pada tahun ajaran baru 2009-2010 TK yang menjadi bagian dari yayasan pindah ke jalan Riau, sehingga lokasi yang berada di Karimata ditempati untuk Resource center dan sentra anak berkebutuhan khusus. Semenjak itu Farist memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak disaat program individual berlangsung. Saya mulai berekperimen dengan berbagai hal, mengikuti permainannya yang aktif. Memanfaatkan mainan yang dimainkannya dengan memasukkan pengenalan angka. Awalnya ia masih menolak, membuangi kartu-kartu angka 1-4 yang saya pajang di dinding gabus. Moment ini saya pakai sebagai bahan pembelajaran, “ayo Farist Bantu bunda ambil kartu ini, ini 1, 2, 3, empatnya mana ya????”.  Saya mulai menemukan gaya belajarnya, dia bukan tipe gaya belajar dengan duduk tenang, melainkan tipe belajar kinestetik, belajar dengan aktif bergerak.

Pertemuan pertama, kedua dan ketiga Farist telah memberikan trust pada saya, ia tidak lagi banyak menentang, meskipun menentang namun pada akhirnya ia patuh. Saya mulai menemukan kemajuan  yang begitu pesat, dan ketika ia mulai bisa menyelesaikan suatu pekerjaan yang saya berikan maka muncullah perilaku exceeting, kegembiraan berlebih dan ia kembali menerima tantangan selanjutnya dengan penuh semangat.

Saya mulai sadar, saya telah menemukan cara memotifasinya untuk belajar. Ada rasa haru dan ketidak percayaan dengan perubahan Farist saat ini. Ia mulai memberikan trust secara penuh pada saya, mulai berminat untuk melakukan kegiatan akademik meski saya juga harus bergerak aktif (hitung-hitung olah raga), dan yang paling membuat saya tak percaya adalah ia sudah mulai bisa mengindentfikasikan angka 1-5 selama 6 pertemuan terakhir ini, sebuah perjuangan keras yang saya lakukan bersama psikolog saya sejak + 4 bulan yang lalu. Eksperimen yang begitu berharga bagi saya dan juga psikolog saya.

Beberapa pekan yang lalu saya mengalami acomodador, titik menyerah yang menghalangi kemajuan kita entah suatu traumatik, kekalahan, kekecewaan yang menyakitkan ataupun putus asa karena apa yang diperjuangkan tak kunjung membuahkan hasil. Saya pesimis dengan pencapaian yang diperolehnya selama ini, sedemikian parahkah kondisi retardasi mental yang dialaminya sehingga untuk mengenal angka 1-3 saja dibutuhkan remedial (pengulangan)  berkali-kali. Namun ternyata anggapan saya salah, semua itu lebih dikarenakan oleh belum menemukan titik minat sebagai pendekatan pembelajaran.

Farist telah memberikan pelajaran berarti bagi saya, darinya saya belajar tentang sebuah kesabaran, ketekunan, optimisme, ilmu dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Farist yang special, dengan senyumnya yang khas dikala ia mampu membuktikan dirinya bisa menyelesaikan permainan dan tugas yang saya berikan telah membuat luluh kepenatan yang saya rasakan.

Bunda…saya bisa!!!!!”

Begitu jelas terekam dalam benak saya, senyum kebahagiaan (meski terkadang air liurnya menetes jatuh) serta sorot mata kebahagiaan dari  matanya yang lentik menunjukkan sebuah optimisme untuk terus menapaki tonggak perkembangan selanjutnya.

Farist, andai kamu bisa menyampaikan dengan bahasa bunda, kau pasti akan berkata: “Bunda, meski aku jauh tertinggal dengan teman-teman sebayaku tapi aku tetap optimis untuk menapaki tonggak perkembangan selanjutnya. Bantu aku bunda untuk menapaki tonggak perkembangan selanjutnya”. Bunda tahu Farist, sikap menentangmu selama ini merupakan pesan yang kamu berikan agar bunda bisa memahami keinginanmu, termasuk bagaimana cara bunda bisa masuk dalam duniamu. Beberapa pelajaran telah Allah berikan melalui sosok Farist yang special. Terima kasih Farist, semoga bunda mampu berproses menjadi pribadi yang utuh.

@@@


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: