Iffa el em’s Weblog



The Devil Vs The Angel (Refleksi salah satu karya Paulo Coelho)

Latifah Masruroh

Membaca novel Paulo Coelho yang berjudul The Devil and Miss Prym, saya  merasa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bertarung dalam diri saya. Karya-karya Paulo tidak hanya memberikan sebuah inspirasi tapi juga pencerahan. Novel ini menceritakan tentang seorang lelaki yang mengunjungi desa terpencil yakni Viscos. Sebuah desa dengan pemandangan indah,  dimana para penduduknya dilingkupi oleh kejujuran, kedamaian dan tanpa ada kejahatan. Tujuan lelaki asing datang ke daerah tersebut adalah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai “apakah manusia ditakdirkan jahat ataukah baik?” Hingga bertemulah dengan miss Prym seorang gadis penjaga Bar hotel dimana lelaki itu menginap. Miss Prym adalah satu-satunya gadis di desa tersebut, dimana tidak ada lagi anak-anak dan gadis yang tinggal didesa Viscos, para gadis lebih memilih untuk berada di kota.

Lelaki asing tersebut meminta miss Prym untuk memberitahukan kepada penduduk tentang permintaannya terhadap penduduk setempat. Ia (lelaki asing) menawarkan 10 batang emas yang dapat  mencukupi kebutuhan dan kemakmuran desa yang hanya berpenduduk 280 orang tersebut. 10 batang emas itu dapat menjadi milik penduduk dengan syarat dalam waktu 3 hari desa tersebut harus ada yang terbunuh, desa dimana sejak 20 tahun tidak pernah terjadi kejahatan sedikitpun. Desa tersebut dipenuhi dengan kedamaian tanpa ada permusuhan, dan dalam waktu yang singkat harus berubah dengan nuansa pembunuhan. Jika tidak, maka 10 batang emas tersebut hanya akan menjadi impian belaka. Sebuah kedilemaan tidak hanya bagi miss Prym sendiri tapi juga seluruh penduduk desa Viscos.

Penggalan cerita yang membuat saya tertarik adalah pergumulan dalam diri miss Prym antara sang iblis dan malaikat (aspek jahat dan baik dalam diri miss Pry), keduanya bertarung dengan hebat, satu sama lain saling menjatuhkan dan ingin menguasai. Sang iblis terus merasuki dan membisiki, ia terbungkus dengan suatu kecerdasan tingkat tinggi, mampu berargumen secara rasional dan bisa diterima oleh akal. Sang iblis (aspek jahat) terus menyikut malaikat dalam diri miss Prym. Pergumulan itu terus berlangsung, adakalanya mailakat menang namun iblispun tak kalah cerdiknya. Pergumulan ini tidak hanya dialami oleh miss Prym saja akan tetapi juga sang lelaki asing, bahkan sang malaikat dalam diri lelaki asing hampir saja padam, ia lebih dikuasai oleh iblis.

Benang merah  dalam cerita ini adalah mengenai pergumulan dalam diri manusia antara diri jahat dan diri yang baik. Pergumulan itu tetap terus berlangsung tanpa henti. Tiba-tiba saya teringat dengan diri saya sendiri, terkadang ada pergumulan hebat dalam diri saya. Pergumulan antara sang iblis dan malaikat. Disisi lain saya tak ingin dirasuki dan grogoti oleh pikiran dan perasaan negatif. Namun disisi lain pikiran dan perasaan negatif itu justru sering menghantam, bahkan seringkali menguasai hati. Saya berjuang untuk memenangkan malaikat dalam diri saya. Bahkan saya sering protes sama Tuhan mengapa ini seringkali terjadi. Apakah manusia itu ditakdirkan untuk demikian? dikuasi oleh keduanya, atau salah satunya?

Novel Paulo ini memberikan pencerahan bagi saya, bahwa manusia mempunyai potensi yang sama, memiliki sisi malaikat dan iblis. Seorang pastor yang dianggap sucipun  tak luput dari peperangan antara iblis dan malaikat. Sesuci apapun ia, pada hahikatnya peperangan itu tetap terus berlanjut. Penggalan dalam novel ini tentang jawaban St.Savin  yang diberikan kepada Ahab memberi suatu titik yang jelas.

Ahab sang penjahat bertekad menantang orang yang dianggap kudus (St.Savin), Ahab bertanya:

“Jika malam ini pelacur tercantik desa ini datang kemari, apakah kau akan sanggup memandangnya dan menganggapnya tidak cantik dan tidak menggoda?

“tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku” sahut St.Savin

“Dan jika aku menawarimu setumpuk kepingan uang emas agar kau meninggalkan guamu di gunung dan bergabung dengan kami, sanggupkah kau memandang emas itu dan menganggapnya batu kerikil?” Ahab kembali bertanya.

“ tidak, tapi aku bisa mengendalikan diriku”

“Dan jika kau dicari-cari oleh dua orang bersaudara, yang satu membencimu dan yang lain menganggapmu suci, sanggupkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya?”

“itu benar-benar sulit, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan memperlakukan mereka dengan sama” St. Savin kembali menjawab dengan bijak.

Jawaban bijak dari St. Savin ini mengingatkan kita pada salah satu sabda nabi ketika para sahabat datang dari perang Badar ” Saat ini kita kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, yakni perang melawan diri sendiri”.

Saya  tertegun,  dan kembali merenungi diri sendiri. Ya Tuhan… mungkin benar saat ini saya berperang, melawan diri saya sendiri. Melawan untuk memenangkan malaikat dalam diri ini, dan peperangan ini tidak akan pernah berakhir sampai akhir hayat.

@@@


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: