Iffa el em’s Weblog



TIPS MENGHADAPI ANAK TANTRUM ( Berdasarkan pengalaman pada anak berkebutuhan khusus / ABK)

Temper tantrum atau yang biasa disebut dengan tantrum seringkali terjadi pada anak. Usia 15 bulan hingga 6 tahun. Tantrum merupakan sebuah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol, umumnya disebabkan karena keinginan anak yang tidak dapat terpenuhi sehingga bentuk protes yang diberikan berupa tantrum. Ekspresi tantrumpun bermacam-macam, menangis merupakan ekspresi yang paling sering dilakukan oleh anak, selain itu terkadang disertai dengan mengamuk terhadap benda-benda sekitar, self abuse (menyakiti diri sendiri) bahkan pada orang disekitar.

Tantrum tidak hanya terjadi pada anak dengan tanpa berkebutuhan khusus (normal) saja melainkan juga pada anak berkebutuhan khusus (spt: autis, Retardasi mental, ADHD dan gangguan perkembangan lainnya). Bahkan ketika mereka tantrum, perilaku yang dimunculkan jauh lebih parah dan membahayakan dibanding dengan anak tanpa berkebutuhan khusus.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman bagaimana cara menghadapi anak yang sedang tantrum, meski pengalaman saya bergelut dengan anak berkebutuhan khusus akan tetapi hal ini juga bisa diterapkan pada anak dengan tanpa berkebutuhan khusus. Beberapa pekan yang lalu bapak M. Mahphur M.Si (dosen Fakultas Psikologi UIN MMI Malang) dalam face booknya menulis untuk berbagi bagaimana cara mengatasi anak yang sedang tantrum di Mall. Maka, tulisan ini semoga menjadi pelengkap dalam menambah pengetahuan kita tentang cara menangani anak yang tantrum.

  1. Jelaskan / komunikasikan Apa Yang Seharusnya Terjadi Pada Anak.

Seperti pada penjelasan diatas bahwa penyebab anak tantrum adalah keinginan mereka yang tidak dapat terpenuhi, maka berikan alasan secara sederhana mengapa ia tidak bisa mendapatkannya. Si Fr, Anak didik saya ditempat terapi (dia mengalami Retardasi Mental) sering tantrum pada saat hendak belajar, ia menolak untuk belajar. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengomunikasikan bahwa “saat ini dia waktunya BELAJAR”, dibantu dengan sebuah photonya atau gambar anak yang sedang belajar dengan bertuliskan BELAJAR disisi kiri. Dalam menjelaskan sesuatu kepada anak berkebutuhan khusus terlebih yang bersifat abstrak maka perlu kita jelaskan secara lebih konkret.

  1. Pastikan Semuanya Aman, Beri Waktu Untuk Menenangkan diri

Jika tantrum yang terjadi pada anak tidak membahayakan baik kepada diri sendiri, orang lain dan sekitar, maka katakan pada anak, kita akan menunggu hingga ia tenang kembali. Akan tetapi jika tantrum yang terjadi justru membahayakan, maka tempatkan anak ditempat yang aman (ruangan kosong, jika tidak ada maka ruangan yang tidak terdapat benda-benda berbahaya). Hal yang terpenting adalah menjaga anak agar tidak menyakiti diri sendiri dan kita.

  1. Abaikan (Ignore)

Membiarkan dan tidak ada kontak mata pada saat anak tantrum menjadi hal yang penting, karena pada saat itu anak mencari perhatian kita. Pada anak berkebutuhan khususpun ketika mereka tantrum, maka mereka mencari perhatian dari siapapun. Pada saat membiarkan anak ini, hal yang tak kalah penting adalah ekspresi kita setenang mungkin, dan jika emosi kita pada saat itu sedang labil, tarik nafas berusahalah untuk menenangkan diri terlebih dahulu, aliran emosi kita sangat mempengaruhi terhadap anak dan sikap kita kepada mereka.

  1. Jika perilaku Tantrum Tidak Selesai-Selesai, Berikan Pelukan Beruang

Pelukan beruang merupakan pelukan erat yang membuat mereka merasa nyaman dan terlindungi. Pelukan beruang ini tidak hanya berupa pelukan biasa, melainkan pelukan yang mengalirkan kekuatan dan emosi positif kita. Beri sebuah isyarat bahwa kita memahaminya, jika perlu bisikkan ditelinganya bahwa kita memahami apa yang membuatnya marah atau sedih, satu hal lagi, doa. Pada saat memeluknya, berdoalah dengan hikmat dalam hati, pasrahkan semua pada yang Kuasa, meminta bantuan-Nya untuk menenangkan anak. Pengalaman saya ketika mereka (anak tantrum) dipeluk dengan pelukan beruang disertai dengan doa yang hikmat / khusyuk, seperti ada kekuatan yang luar biasa dalam diri saya yang teralirkan, apalagi ketika anak yang saya terapi pada saat tantrum seringkali menyakiti diri sendiri bahkan pada saya. Pelukan beruang dan doa ini cukup ampuh, durasi waktu untuk tenang tergantung kepada penyebab tantrum dan seberapa besar emosi yang meluap.

Tulisan ini semoga mejadi bahan referensi bagi siapapun yang membaca dalam mengahadapi anak yang tantrum terlebih pada anak berkebutuhan khusus. Dari hasil analisis pengalaman yang saya alami, kondisi emosi kita sangat berpengaruh terhadap cara kita mengahadapi mereka yang sedang tantrum. Karena emosi adalah energi yang menular kepada orang-orang sekitar. Semoga bermanfaat!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: