Iffa el em’s Weblog



Selamatkan anak dari dampak negatif Senitron

Sangat miris ketika melihat keponakan saya kadang-kadang berteriak-teriak dalam mengomunikasikan sesuatu. Tidak hanya itu, ia juga lebih cepat marah dan mengamuk. Perubahan-perubahan ini terjadi saya amati semenjak dua ponaan saya suka menonton senitron dewasa, adegan yang ada dalam film tersebut benar-benar membuat saya merasa miris dan gusar. Sikap kasar, kata-kata kasar dan keras sangat mewarnai dalam adegan ini. Saya hanya bisa mengelus dada.

Senitron Hiburan Yang Tidak Mendidik
Saat ini, tayangan-tanyangan yang ada dalam telivisi lebih didominasi dengan program-program yang bersifat menghibur akan tetapi miskin dengan penyampaian nilai-nilai moral. Lihat saja, acara-acara penting dan informativ ditayangkan pada waktu-waktu yang tidak tepat dan hanya sekian persen dibandingkan tayangan senitron. Dalam setiap stasiun televisi tanyangan senitron ditayangkan lebih dari dua kali dengan judul yang berbeda. Ironisnya lagi tayangan-tayangan ini ditayangkan pada waktu-waktu efektif, dimana waktu-waktu tersebut merupakan waktu untuk bersantai bagi keluarga. Setiap stasiun televisi berlomba menayangkan senitron unggulannya dalam waktu yang hampir bersamaan, waktu pemutaran berlansung secara silih berganti dan hanya berjeda dalam beberapa menit. Pemutaran seperti ini menyebabkan para penonton di rumah enggan untuk beranjak sedikitpun. Mereka cenderung menunda pekerjaan yang lebih penting setelah itu.

Persoalannya tidak hanya sampai disini, televisi si kotak ajaib dengan berbagai macam ragam tayangan merupakan salah satu hiburan bagi masyarakat luas, terutama bagi ibu-ibu yang murni menjadi ibu rumah tangga, dan senitron merupakan acara televisi yang paling diminati oleh mereka. Jika kita amati bersama, hampir disetiap senitron yang ditayangkan dalam stasiun televisi tidak terlepas dari adegan kekerasan, caci maki, umpatan-umpatan kotor, hasut menghasut dan sikap kasar yang sangat tidak pantas dipertontonkan.
Dalam sebuah diskusi tentang senitron remaja dan dampaknya terhadap remaja yang juga dihadiri oleh ketua Lembaga Sensor Film Titie Said, Senitron remaja menempati peringkat tertinggi dengan disusul oleh senitron-senitron yang lain (Sinar Harapan, Juni 2005). Dan saat ini dari segi kuantitas produksi senitron remaja cukup besar, data pada tahun 2005 produksi senitron mencapai 2011. Dalam diskusi tersebut Titi Said mengakui bahwa banyak senitron yang tidak melalui Lembaga Sensor Film (LSF) dengan alasan kejar tayang. Disisi lain sanksi yang ditentukan sesuai dengan UU no 8/1992 untuk pelanggaran seperi hal tersebut dinilai terlalu ringan, yakni hukuman kurung maksimal satu tahun atau denda maksimal 40 juta.
Televisi merupakan media informasi yang bersifat pasif, artinya para penonton lebih bersikap pasif dalam menerima informasi yang diterima dari televisi, baik informasi yang berupa perkataan maupun sikap. Tanpa masyarakat sadari mereka menerima nilai-nilai moral dari senitron secara mentah, dan menganggap sikap-sikap negative yang ada dalam senitron merupakan suatu hal yang wajar.
Contoh saja salah satu senitron dalam stasiun televisi swasta yang mengisahkan tentang seorang kaya raya dengan empat orang istri berada dalam satu rumah. Perlakuan pada setiap istripun berbeda, cenderung mengistimewakan salah satu istri mudanya. Bukan hanya itu sikap seperti tuan raja sangat mendominasi (sangat patriakis), belum lagi tokoh antagonis salah satu istrinya yang sangat keterlaluan dan terlalu imajinatif dalam melakukan kelicikan-kelicikan. Atau sebuah senitron yang bertopeng religi, Secara lahiri penampilan mereka sangat islami dan didominasi dengan percakapan berbahasa arab, namun jika kita lihat dalam adegannya sangat tidak Islami sekali. Tokoh antagonis yang terlalu mendramatisir, penyiksaan yang sadis, menganggap pembantu sebagai budak dan deretan sikap-sikap amoral yang lain. Sikap-sikap seperti ini sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islami.
Keresahan semakin bertambah ketika tayangan-tayangan senitron yang penuh dengan adegan-adegan kasar ini juga dikonsumsi oleh anak-anak kita di rumah, dan merekapun menonton bersama keluarga. Dilihat dari aspek perkembangan, masa anak-anak merupakan masa imitasi. Mereka lebih banyak meniru apa yang mereka lihat disekitar mereka. Hal ini sangat riskan terhadap perkembangan anak jika orang tua dan keluarga tidak mendampingi dan mengarahkan anak secara benar. Saat ini sudah tidak asing lagi jika kita mendengar atau melihat baik secara langsung maupun melalui media, anak sekolah berani berbuat anarkis bahkan membunuh teman sepermainannya hanya karena merasa dilecehkan1.
Menyelamatkan Anak dari dampak Negatif Senitron
Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir setiap ibu rumah tangga menyukai senitron yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi, karena senitron merupakan hiburan favorit pada program televisi. Dilematis memang, apalagi ketika senitron yang ditonton merupakan senitron kesukaan. Tapi bagaimanapun peran orang tua sangat penting dalam menfilter apa yang akan menjadi tontonan anak.
Apa Yang Akan Kita Lakukan Untuk Melindungi Anak Kita?
Orang tua dan seluruh keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik anak, terutama mendampingi anak dalam menerima informasi dari televisi. Hal ini disebabkan karena, pada saat menonton televisi anak menerima informasi secara pasif. Apapun yang diperoleh anak dari televisi akan diterimanya secara utuh tanpa memilah-milah informasi yang baik dan jelek. Jika hal ini terjadi akan berdampak pada perilaku anak selanjutnya. Maka yang perlu orang tua lakukan adalah:
Pertama, kesadaran orang tua dan pihak keluarga secara keseluruhan bahwa tidak semua tayangan yang ada dalam televisi baik bagi perkembangan si anak. Kesadaran seperti ini sangat penting dimiliki oleh orang tua dan keluarga secara keseluruhan, sehingga orang tua minimal mampu meprediksikan kapan dan tayangan apa yang seharusnya dihindari oleh anak. Kesadaran seperti ini perlu adanya kerja sama anatara pihak keluarga.
Kedua, dalam pembahasan didepan telah dikemukakan bahwa senitron seringkali dijadikan hiburan favorit bagi ibu-ibu, hal ini tidak bisa dipungkiri terutama bagi ibu-ibu yang murni sebagai ibu rumah tangga. Hal yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk menghindari agar anak tidak terlibat menonton senitron yang beradegan kekerasan. Jikapun hal ini tidak bisa dihindari maka sebagai orang tua perlu memberikan sebuah penjelasan kepada anak mengenai sikap-sikap yang ditayangkan dalam senitron, hal ini bertujuan agar anak mampu membedakan perilaku mana yang harus ditiru dan perilaku mana yang seharusnya mereka hindari terutama ketika mereka berinteraksi dengan teman-teman sepermainan.
Ketiga, bersikap konsisten terhadap apa yang dikatakan kepada anak dan terhadap apa yang dilakukan. Ini menjadi hal penting karena keteladanan merupakan didikan yang efektif bagi anak. Dikatakan Sebuah keteladanan apabila orang tua mampu bersikap konsisten terhadap segala hal yang diucapkan dan diperbuat.
Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada kita semua. Mereka adalah para pewaris dimuka bumi ini. Kemajuan Masa yang akan datang berada ditangan mereka. Maka ketika sejak kecil anak tertanam dengan hal-hal yang negative, merekapun akan menuai sifat-sifat negative. Mungkin hal ini belum terasa dampaknya dalam waktu dekat, akan tetapi pikiran ibarat air jernih, ketika secara terus menerus diisi oleh informasi-informasi negative yang berupa sampah maka pada akhirnya pikiran akan menjadi keruh. Dan jangan heran jika perilaku sadisme, ataupun perilaku-perilaku amoral lainnya terjadi pada anak kita dan masyarakat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: