Iffa el em’s Weblog



Sang Inspiratif Dalam hidup

Jika ditanya oleh seseorang tentang siapa yang menjadi idola sepanjang perjalanan hidupku, maka aku akan mengatakan, ia adalah ibu. Sosok perempuan yang telah berjuang keras untuk menghadirkanku ke dunia ini, bahkan sampai saat inipun beliu masih tetap berjuang keras untuk mempertahankan kelangsungan hidupku. Ia mengharapkan agar aku tidak hanya menjadi manusia kebanyakan yang hanya hidup tanpa memberikan sesuatu yang berbeda dalam hidup.
Ibu tak lebih dari perempuan desa pada umumnya, sederhana dan tidak banyak tahu tentang indahnya dunia luar, tapi ia percaya dengan adanya keindahan di luar dunia ia tinggal. Ibu hanya seorang perempuan yang tak banyak memiliki mimpi, perempuan desa yang tak sampai lulus SD. Tapi jangan pernah merehkan mimpi, semangat, tekad dan juga perjuangannya. Beliau hanya punya mimpi bagaimana menjadikan anak-anaknya tidak seperti dirinya, terutama dalam dunia pendidikan. Mimpi ini tidak pernah lelah ia utarakan pada anak-anaknya. “Ibu tak punya apa-apa untuk diwariskan pada kalian, ibu hanya bisa nyangoni ilmu, dan itupun ibu tidak mampu untuk memberikan langsung pada kalian, ibu hanya bisa membiayai kalian sekuat ibu. Ibu tidak ingin kalian seperti ibu yang hanya sekolah sampai kelas 3 SD”. Kami hanya bisa diam tanpa komentar sedikitpun.
Mimpi itupun tidak hanya sekedar mimpi, ia terwujud dalam semangat, tekad dan sikap yang ibu tunjukkan. Belum hengkang dalam ingatanku, bagaimana seorang perempuan yang bangun tengah malam ketika waktu menunjukkan sekitar jam 1 dini hari. Tanpa merasa terbebani sedikitpun, beliau bangun untuk menyiapkan daging-daging ayam yang akan dijual esok pagi, mempersiapkan mulai dari proses sembelih, mencabuti bulu-bulu ayam, membersihkan dan mengepaki untuk dijual ke pasar. Aktifitas inipun belumlah selesai, jam 4 dini hari setelah semuanya selesai, selepas subuh, tanpa merasa lelah ibu berangkat kepasar untuk menjual daging-daging tersebut. Apapun yang terjadi beliau tetap melakukan aktifitas ini, tak kenal hujan maupun sakit. Seringkali ginjal yang dideritanya kumat, mual dan muntah-muntah yang begitu menyiksa. Ketidak tegaan dan ketidak relaan dengan apa yang terjadi pada ibu tatkala penyakit itu kumat, tapi beliau tak mau menyerah begitu saja. Ibu tetap menjalankan rutinitas untuk berangkat kepasar menjual daging-daging ayam tersebut hingga beduk tiba. Ah ibu, andai aku bisa cara memotong daging-daging itu, aku akan membantumu untuk berjualan. Tapi apa jawaban yang engkau berikan pada anak-anakmu, “tak perlu anakku, cukup ibu saja yang berjualan seperti ini. Kalian saat ini punya kesempatan untuk belajar, maka belajarlah yang rajin, ibu masih mampu untuk menjualnya sendiri, toh nantinya akan kembali pada kalian juga.
Alasan yang ibu berikan benar-benar membuatku tak mampu untuk memaksa. Masih melekat dalam ingatanku bagaimana mbakku dulu menangis sesegukan hanya gara-gara tidak diidzinkan untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Ibu melarang mbakku kuliah saat itu dengan satu alasan, “kalau kamu kuliah sekarang, trus bagaimana nasib adik-adikmu nanti? Kuliah itu membutuhkan biaya banyak, ibu khawatir adik-adikmu yang maish SD putus sekolah hanya gara-gara biaya sekolahnya kurang. Sabarlah dulu, biarkan dulu adik-adikmu sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kamu tahu sendiri sumber rizki ibu dan bapakmu hanya dari menjual hasil kebun (waktu itu ibu dan bapak masih berjualan sayur yang dipanen dari kebun). Berdoalah semoga Allah memberikan jalan keluar, Untuk saat ini mengalah dulu pada adik-adikmu. Masih begitu jelas kulihat dari balik pintu kamar bagaimana mbakku waktu itu menangis sesegukan dan kulihat wajah ibu yang begitu tegar disaat mengucapkan keberatan beliau mengenai mbak kuliah.
Ternyata benar, tekad dan mimpi ibu tidaklah main-main. Beliau beserta bapak berjuang keras agar aku dan kakak lelakiku masih tetap bisa bersekolah, apapun dan bagaimanapun yang terjadi. Tak jarang beliau membisikkkan mimpi dan tekadnya pada kami, mengharapkan agar kami bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, berharap agar tidak seperti beliau. Tidak jarang pula salah seorang saudara jauh seringkali mengejek ibu dan bapak mengenai pendidikan kami. Hanya jawaban simpel yang beliau berikan dari sindiran tersebut “aku ingin anak-anakku tidak seperti diriku, meski untuk menempuh pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit”
@ @ @
Suatu hari aku pernah menanyakan kepada ibu apakah tidak ada keinginan pada beliau untuk menjengukku atau sekedar mengetahui kampus dimana aku kuliah. Beliau menjawab, “sebenarnya ibu pingin, pingin sekali untuk ke tempatmu kuliah, tapi ibu perlu memikirkan dua kali tentang hal itu. Jika ibu ke sana maka akan membutuhkan biaya transport yang banyak, selain itu untuk meninggalkan sehari saja tidak berjualan maka sama halnya dengan menghentikan sumber rezeki dalam satu hari. Ibu berfikir, alangkah baiknya jika biaya transport itu dibuat untuk keperluan kuliahmu. Ibu hanya bisa berdoa, dan semoga ada rezeki lebih”. Ketulusan dan kesungguhan ibu menjadikan sebuah spirit tersendiri bagiku. Aku masih ingat, sejak kelas 3 SD ibu tidak lagi menemaniku untuk bersiap-siap ke sekolah. Waktu itu aku harus mandi sendiri, menyiapkan pakaian sendiri, dan ibu hanya menyiapkan uang saku untukku. Ada rasa iri disaat melihat teman-teman yang lain masih dibantu oleh ibu mereka.
Ibu menjadi sebuah spirit tersendiri bagiku, perkataan dan pesan yang beliau ucapkan menjadi sesuatu yang menggetarkan jiwa. Dalam perjalanan hidupku belum pernah ibu sedikitpun membentak ataupun memarahi tatkala aku melakukan kenakalan. Mimpi, tekad dan perjuangan ibu memberikan pelajaran tersendiri bagiku, beliau tak pernah mengungkapkan perasaan kasih sayangnya dengan sebuah ucapan. Ibu adalah sosok ibu sederhana yang hanya tahu bagaimana buah hatinya menjadi lebih baik. Mengingat ibu, aku merasa bahwa ketika aku punya mimpi, maka hal yang perlu aku lakukan adalah memompa semangat, tanpa lelah dan tanpa merasa terbebani. Hal yang tidak kalah penting adalah memperjuangkan mimpi itu, apapun yang terjadi.
Ibu yang hanya berpendidikan SD tak lulus, memiliki pemahaman tentang betapa pentingnya mencari ilmu. Ia berpesan bahwa warisan yang dapat ia berikan hanya ilmu, meski hanya bermodal membiayai. Ilmu yang dapat membuat kita keluar dari kegelapan, membebaskan kita dari belenggu kebodohan.
Semenjak itu aku bertekad untuk sekolah dengan sungguh-sungguh, tidak hanya sekedar transefer ilmu dimana dalam jangka waktu yang tak lama akan terlupakan. Aku bertekad untuk benar-benar menggali kebenaran suatu keilmuan. Melihat semangat dan perjuangan ibu ada perasaan menyesal tatkala aku meniati sekolah dengan niat yang tidak sungguh-sungguh. Ibu telah mengajarkanku akan sebuah tanggung jawab terhadap mimpi yang kita rencanakan, ibu telah mengajarkan sebuah kata tidak kenal lelah melalui sebuah tindakan. Suatu hari kaki ibu mengalami cedera yang mengakibatkan menjadi semacam borok, satu pelajaran yang telah ibu berikan “beliau seperti tak merasakan rasa sakit untuk sebuah perjuangan”
Dan kini saya punya mimpi sebagai persembahan untuk beliau, membuat rumah baca yang dipenuhi dengan buku-buku untuk kalangan berbagai usia. Aku menganggap rumah baca ini merupakan warisan yang diberikan oleh ibu (kerena sebagian dari koleksi buku tersebut adalah hasil dari jerih payah ibu semasa aku sekolah). Mimpi kedua adalah menjadi seorang penulis, aku ingin buku-buku yang kutulis adalah sebagai hadiah untuk ibu, dan sebagai balas jasa. Meski semua itu belumlah cukup, dan saya tahu ibu tidak pernah mengharapkan apapun dariku, cukup aku menjadi seorang yang membanggakan baginya hal itu sama halnya dengan menghapus keringat jerih payah selama ini. Saya berharap semoga aku mampu menjadi seperti ibu, perempuan sederhana yang tangguh, tanpa mengenal kata lelah.
Malang, 30 Maret 2008
Untuk ibu, aku tak akan mampu untuk membalas semua jasa-jasamu. Kuingin hanya melakukan beberapa hal yang membuatmu bangga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: