Iffa el em’s Weblog



membumikan Tasawuf

Abstrak

Manusia adalah makhluk spiritual, suatu hal yang merupakan fitrah dan tidak bisa dibohongi. Hal ini terbukti bahwa saat ini ada kebutuhan akan spiritual yang besar pada diri masyarakat. Kebutuhan akan spiritual ini tidak hanya dirasakan oleh Negara-negara berkembang saja, akan tetapi Negara-negara maju pun sudah lama merasakan hal seperti ini. Dalam hal ini Tasawuf memberikan sebuah peranan penting, sebuah konsep yang pada dasarnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan ketentraman jiwa.

Sehingga dengan berkembangnya zaman ini pemahaman tentang tasawuf perlu direkonstruksi kembali. Sebuah pemahaman yang pada awalnya dimaknakan hanya hubungan antara hamba dengan Allah. Maka kini perlu sebuah pemahaman baru yang lebih actual, kontemporer dan dapat menyentuh aspek-aspek social. Sehingga tasawuf lebih dapat diterima dikalangan masyarakat terutama kalangan masyarakat modern.

Kata Kunci

Tasawuf, tasawuf modern, spiritual, manusia

Pendahuluan

Hasil laporan dari CNN (10/5/00) melaporkan bahwa pada tahun tersebut dan tahun sesudahnya merupakan tahun para pelancong spiritual ( The year of the spiritual traveller ). Ribuan orang memenuhi panggilan mistik dan mitik untuk meninggalkan rumah guna mengunjungi tempat-tempat suci (A.N.Burhani:14). Fritjof Capra menyebutnya dengan era kebangkitan spiritual (the turning point), maraknya pertemuan-pertemuan dan laku kerasnya buku-buku yang berbau spiritual pada saat ini cukup memberi bukti bahwa manusia modern merindukan spiritualitas, salah satu aspek fitrah dalam diri manusia yang selama ini seringkali dinafikan.

Laporan yang ditulis dalam majalah Time (vol.151/26) dan Koran Sunday Time (28/5/00) memberitahukan bahwa orang-orang tidak mempedulikan banyaknya anggaran dana yang dikeluarkan untuk melakukan perjalanan spiritual. Motivasi utama yang menggerakkan mereka untuk melakukan itu semua adalah mencari pencerahan dan pengkayaan spiritual. Mereka berlomba-lomba mencari ‘Tuhan‘, pelipur lara jiwa dan obat kehampaan hati (A.N. Burhani:31)

Laporan-laporan ini menjadi sebuah bukti bahwa lagi-lagi aspek spiritual merupakan fitrah dalam diri manusia. Akan tetapi orang-orang modern mengabaikan aspek ini, dan saat ini mereka kembali mencari dan memburunya. Dalam Islam Tasawuf merupakan konsep yang sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan aspek kejiwaan. Hossen Nasr mengatakan bahwa dunia modern saat ini merupakan dunia yang terpisah dari yang transenden. Manusianya merupakan sejenis manusia yang kehilangan visi keilahian dan mengalami kekosongan spiritual, mereka tidak menyadari kedudukannya sebagai pontifek, sebagai jembatan langit dan bumi.

Tasawuf positif Sebagai Sebuah Jawaban

Dengan kondisi yang seperti ini, suatu kondisi dimana manusia modern telah mengalami dekadensi spiritual Sayyed Hoseen Nasr menawarkan sebuah konsep tasawuf yang baru yakni Tasawuf positif ( sufisme baru ) untuk menjembatani perjuangan bathin agar tidak terjatuh kedalam jurang kekosongan.

Mengapa mesti Tasawuf ? Seperti dijelaskan pada sebelumnya bahwa pada tahun-tahun terakhir ini telah terjadi gelombang perjalanan spiritual, dan ajaran Islam yang bersifat metafisis serta mistis dalam Tasawuf (sufisme) dapat memberi jawaban terhadap kebutuhan intelektual dan dapat memuaskan dahaga manusia dalam pencaharian Tuhan. Selain itu juga Tasawuf dapat memberikan pengaruh terhadap beberapa lapangan kehidupan, seperti seni, kesusastraan, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tidak hanya itu, Tasawuf merupakan aspek tradisi Islam yang paling universal dan merupakan puncak esensi spiritual Islam. Dasar-dasar sumbernya berasal dari Al-Qur’an dan hadist. Dengan alasan inilah mengapa Tasawuf perlu direkonstruksi kembali sehingga menjadi lebih actual, kontemporer dan dapat diterima oleh golongan manapun.

Konsep tasawuf positif ini merupakan keterpaduan antara dua aspek yakni aspek lahiriah dan aspek bathiniah. Bagi Nasr menjalankan syariat adalah mustahil tanpa kehidupan thariqah (Tasawuf), ia mengibaratkan antara syariat dan tasawuf ibarat buah kenari yang kulitnya menyerupai syariat, isinya seperti Thariqat dan minyaknya yang tidak tampak adalah hakekat. Kenari tanpa kulit tidak dapat tumbuh di dunia alamiah dan tanpa isinya tidak mempunyai arti. Begitu pula syariat tanpa tariqah adalah bagai tubuh tanpa jiwa dan tariqah tanpa syariat tidak akan punya bentuk lahiriah dan tidak akan mampu bertahan. Hal ini diamini oleh Dr. Said Agil bahwa Syariat dan Tasawuf tidak bisa dipisahkan, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Sedangkan tujuan dari tasawuf adalah untuk membentuk manusia utuh dan suci (insan kamil) yang dalam dirinya tercakup pribadi universal. Tidak hanya itu menurut Haidar Bagir buah dari tasawuf sedikitnya ada dua macam. Pertama, secara individual orang yang telah mencapai maqamat dalam tasawuf serendah atau setinggi apapun akan memiliki Akhlaqul Karimah dalam dirinya. Ia akan menjadi oaring yang tawaduk, penyabar dan tidak pernah menyakiti orang lain. Kedua, secara social ia adalah orang yang mempunyai concern atau keprihatian social yang amat tinggi terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.

Tasawuf Positif

Seperti yang dikatakan oleh Haidar Bagir bahwa secara ringkas tasawuf positif itu bisa didefinisikan dalam delapan tema. Sedangkan kata kunci sebagai kredo dari tasawuf positif adalah proporsionalitas.

Pertama, Allah sebagai perwujudan Jalal dan Jamal. Tema ini meliputi bahasan bahwa konsep Tuhan dalam Islam adalah konsep Tuhan yang punya dua aspek. Aspek pertama adalah aspek Jalal ( Tremendum ), aspek kehebatan, keagungan, kedahsyatan yang membuat kita takut dan kita taat. Aspek inilah yang menyebabkan Islam sering dikaitkan dengan syariat, dalam arti ketaatan pada hukum. Aspek kedua adalah aspek Jamal ( fascinans ), jamal artinya keindahan, kecantikan, yang menimbulkan cinta dan kasih sayang. Aspek inilah yang menjadi dasar dalam tasawuf yang selama ini kita kenal. Jalaludin Rahmat mengatakan bahwa Jalal menunjukkan terhadap dzat Allah sedangkan Jamal menunjukkan terhadap sifat Allah. Lain halnya dengan Sachiko Murata, ia menerjemahkan kata Jalal dengan His Majesty dan Jamal dengan His Beauty.

Kedua, Insan kamil sebagai wujud multi demensi. Dalam pandangan insan kamil bahwa mengabdi kepada Allah itu pada akhirnya juga melayani manusia. Artinya manusia yang tidak hanya berhubungan secara vertical ( kepada Allah ) akan tetapi ia mempunyai kepedulian terhadap sesama dan dunia sebagai wahana untuk bertemu dengan Allah. Menurut Nasr insan kamil merupakan manusia yang tidak hanya “hewan berfikir”, akan tetapi makhluk yang memiliki pelbagai tingkat wujud sehingga ia mampu menjadi cermin bagi nama dan sifat-sifat Allah.

Ketiga, Tetap mempercayai terhadap dunia eskatologi. Eskatologi merupakan ajaran agama tentang yang terakhir atau hal-hal yang terakhir. Menurut Jalaludin Rahmat ada beberapa stasiun dalam dunia eskatologi ( hal ini didasarkan oleh hadist-hadist nabi ).

  1. stasiun sakratul maut, detik-detik terakhir dalam kehidupan manusia yang merupakan proses keluarnya ruh dalam keadaan takut dan gemetar.
  2. stasiun al-stabat ‘ala iman ‘indal maut ( kokoh mempertahankan iman pada saat kematian ). Setelah kematian perjalanan kita akan ditemani oleh setan yang dahulu menemani di dunia.
  3. wahsyat al-kubr ( kengerian didalam kubur ). Nabi bersabda : “ Tidak ada saat yang paling menakutkan bagi seorang mayat kecuali pada malam pertama”.
  4. Kesempitan dan azab kubur.
  5. stasiun pertanyaan malaikat Mungkar dan Nakir
  6. Alam Barzakh, perjalanan panjang yang akan kita alami sejak masuk ke alam kubur sampai hari kiamat.
  7. kengerian ketika dibangkitkan dari alam kubur dan memasuki alam makhsyar.
  8. Ketika mengalami goncangan hari kiamat dan ketakutan yang dahsyat
  9. Mizan, timbangan terhadap amal-amal kita di dunia
  10. Shirath, jembatan yang harus dilewati untuk melewati surga atau neraka.

Keempat, Syariat sebagai unsur integral tasawuf. Menurut Dr. Said Agil bahwa Syariat dan Tasawuf tidak bisa dipisahkan, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semakin mendalam realisasi sufistik seseorang, pada gilirannya justru semakin meningkat kualitas keislaman dan syariatnya dalam mencapai derajat muhsin.

Kelima, Hikmah adalah alternative sufisme anti intelektual. Hikmah merupakan sinergi antara intuisi dan rasio, antara hati dan akal, dzauq dan nalar yang terus menerus berproses. Mulla Sadra membagi ilmu hikmah kepada dua jenis, pertama hikmah teoritis abstrak yang mengukir jiwa dengan form eksistensi secara sempurna dan mentransformasikan menjadi alam intelligible yang mirip alam realitas. Kedua, hikmah praktis ta’aqqul yang bertujuan untuk mendidik jiwa agar ia dapat menguasai badannya dan hasil konkretnya akan tampak pada praktek-praktek ma’ruf yang dilakukan.

Keenam, Alam semesta sebagai tanda-tanda Allah. Tasawuf positif mencoba untuk mensintesiskan dua pandangan ekstrim yang saling bertentangan, yakni pandangan yang menganggap bahwa alam semesta ini merupakan kenyatan terakhir dan tidak ada sesuatu apapun diluar dirinya, sedangkan pandangan kedua menganggap alam semesta sebagai cermin Tuhan yang tidak sempurna. Tasawuf positif menganggap bahwa alam semesta bukanlah satu-satunya realitas melainkan ‘tanda-tanda’ saja dari realitas sejati.

Ketujuh, Akhlak sebagai sasaran ajaran tasawuf. Esensi dari tasawuf adalah akhlak yakni mengenai cara kita mengontrol hawa nafsu. Alwi Shihab mengatakan bahwa tujuan tasawuf adalah untuk moral elaboration perfection, kesempurnaan etika. Tanpa kesempurnaan etika kita tidak bisa beranjak lebih jauh lagi.

Kedelapan, Tidak hanya akhlak individual yang menjadi sasaran tasawuf akan tetapi yang tak kalah penting adalah amal saleh. Dalam Al-Qur’an kata iman tidak terlepas dari kata amilus shalehah, itu artinya Allah tidak hanya menyuruh hamba-Nya untuk memperbaiki diri saja ( saleh individual ) akan tetapi peduli terhadap sesama ( saleh social ). Menurut Didin Hafidudin secara garis besar amal saleh terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, amal saleh kepada Allah (amal mahdhah) seperti shalat, puasa dzikir. Kedua, amal saleh untuk sesama, termasuk terhadap diri dan keluarga.

Penutup

Seandainya kedelapan tema ini benar-benar dibumikan oleh manusia saat ini, khususnya umat Islam maka inilah Islam yang sebenarnya. Islam yang merupakan rahmatal lil’alamin yang tidak hanya terpaku pada ranah ritualisme belaka melainkan benar-benar mencakup semua lini. Dapat dipastikan tidak ada lagi yang merasakan akan kekosongan spiritualitas serta kehampaan jiwa, tidak perlu lagi malancong untuk mencari spiritualitas. Kehampaan jiwa yang dirasakan manusia modern pada saat ini sebenarnya disebabkan karena meraka hidup dalam sekularisme yang tidak memadukan dengan aspek spiritual. Pada hakikatnya kita tidak perlu untuk mencari-Nya kemana-kemana karena Ia amat sangat dekat dengan kita, lebih dekat dari urat nadi.

Aku yang tidak bisa ditampung oleh bumi, tak tertampung oleh langit, dan juga oleh kekuasaan yang ada diantara langit dan bumi. Hanya hati orang beriman yang dapat menampungku” ( hadist Qudsi ).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: