Iffa el em’s Weblog



Optimalisasi Rumah Baca Menuju Masyarakat Literasi

Latifah em

Setiap tanggal 23 April selalu diperingati hari buku sedunia dan pada tanggal 17 Mei sebagai peringatan Hari Buku Nasional, namun sayang kedua kegiatan ini tidak seheboh kegiatan yang lain, katakanlah seperti tahun baru yang sebentar lagi akan hadir. Konon peringatan hari buku sedunia diawali dengan jaman abad pertengahan, setiap tanggal 23 April ada tradisi dimana laki-laki memberikan mawar kepada kekasihnya. Sejak 1923 untuk menghormati Miguel de Cervantes (seorang pengarang dari Spanyol), para pedagang buku merubah tradisi mawar tersebut menjadi tradisi buku. Perempuan yang diberi mawar membalasnya dengan memberi buku. Tahun 1995 Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai hari buku dunia.

Keputusan untuk memilih salah satu tanggal menjadi hari buku merupakan suatu indikasi yang menunjukkan bahwa aktifitas membaca merupakan suatu aktifitas yang urgen, akan tetapi salah satu permasalahan di Indonesia sendiri adalah bagaimana membumikan “ kegemaran membaca”. Hingga saat ini kebiasaan membaca bagi bangsa Indonesia belum menjadi kebiasaan yang popular dan digilai, tingkat kebiasaan membaca masyarakat Indonesia pun masih amat rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian sebuah lembaga dunia terhadap daya baca di 41 negara, Indonesia berada di peringkat ke-39. Saat ini orang Indonesia belum menganggap aktifitas membaca buku sebagai suatu kebutuhan primer.

Beberapa asumsi yang menjadi alasan mengapa Indonesia berada pada tataran daya baca yang rendah , diantaranya. Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dan lebih baik, mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, serta mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan yang lain. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku ataupun surfing di internet. Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu, seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, dan adat-istiadat dikemukakan secara verbal oleh orangtua, tokoh masyarakat, dan penguasa pada zaman dulu. Kelima, para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan dengan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti sapi, bebek, ayam (terlebih kaum wanita di desa) sehingga setiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku. Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan masih merupakan barang aneh dan langka.

Salah satu indicator kebiasaan membaca adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi oleh sepuluh orang, di negara tatangga seperti Srilangka perbandingannya satu surat kabar adalah 1:38, Philipina 1:30 dan Malaysia 1:18 sementara rasio jumlah penduduk Indonesia dengan surat kabar adalah l:43, artinya konsumsi satu surat kabar untuk 43 orang . Berbagai data telah menunjukkan bahwa membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadi sebuah kebutuhan dasar.

MASYARAKAT MEMBACA MENUJU MASYARAKAT LITERASI
Membaca memberikan sumbangan besar terhadap tingkat literate masayarakat, masayarakat literasi merupakan masyarakat yang tidak hanya menggunakan komunikasi sacara oral akan tetapi lebih kepada komunikasi literat (melek huruf). Literasi merupakan istilah lain dari melek huruf secara fungsional adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara. Serta kemampuan mengindentifikasi, mengurai dan memahami masalah. Baik yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, maupun di lingkungan yang lebih luas, yakni negara. Sehingga ketika mendapati satu masalah, mampu menentukan berbagai pilihan bentuk penyelesaian. Salah satu “tenaga dalam” kemampuan literasi adalah dengan membaca buku. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, literasi mempunyai arti kemampuan memperoleh informasi dan menggunakannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Tingkat literasi masayarakat merupakan Indikasi masyarakat maju.

Salah satu bukti pentingnya masayarakat literasi adalah laporan dari Fasli Jalal dan Nina Sardjunani dalam sebuah papernya menghubungkan antara tingkat literasi (melek huruf) dengan harapan hidup masyarakat. Hasil laporan menunjukkan ada korelasi yang positif antara keduanya, artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat maka semakin tinggi pula harapan hidupnya.

Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99 persen. UNDP (United Nations Development Programme), menjadikan angka melek huruf menjadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI ( human development index), dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa .

Dalam publikasi UNDP yang terakhir “Human Development Report 2003” (2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Laporan ini membuktikan bahwa kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita.

Disisi lain UNESCO juga melaporkan pada tahun 2005 berjudul Literacy for Life. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa ada hubungan yang erat antara illiteracy dengan kemiskinan. Di banyak negara, di mana angka kemiskinan tinggi, tingkat literasi cenderung rendah. Illiteracy menyebabkan tingkat penghasilan perkapita rendah. Seperti yang terjadi di Banglades, Ethiopia, Ghana, India, Nepal, dan Mozambique. Lebih dari 78 persen penduduknya, penghasilan per hari di bawah 2 dollar AS.

Mereka yang mempunyai kemampuan literasi (melek huruf secara fungsional), berkesempatan mencari dan memperoleh informasi yang memungkinkan untuk mengembangkan usaha: misalnya soal produk apa yang sedang dicari orang; mencari celah-celah pasar baru; dan sebagainya. Komunikasi dengan rekanan bisnis menjadi efektif dan hemat, terbukanya kesempatan mengikuti kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Termasuk lincah menciptakan lowongan kerja bagi dirinya sendiri.

OPTIMALISASI RUMAH BACA
Saat ini Indonesia mulia ramai dengan berdirinya rumah baca untuk masayarakat umum, hal ini terbukti pada tahun 2004 tepatnya tanggal 5 Maret 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan secara serentak sebanyak 50 rumah baca yang tersebar di seluruh Indonesia . Peresmian berpusat di Rumah Baca Pesisir Kompleks SDN Pesisir Lama I, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat. Peresmian ini telah menandakan dimulai “gerakan” membaca masyarakat di rumah-rumah baca yang dibangun oleh pemerintah. Sebuah tindakan yang patut diajungi jempol.

Rumah baca dianggap lebih efektif dari pada perpustakaan daerah yang bertempat di pusat daerah. Disamping itu mengunjungi perpustakaan, bagi sebagian besar orang belum menjadi agenda yang menyenangkan . Gambaran perpustakaan yang kaku, hening, berdebu dan bau kertas lapuk menjadi negative brand image tersendiri. Dalam tulisan ini bukan berarti menafikan terhadap keberadaan perpustakaan, perpustakaan juga menjadi bagian penting dalam memfasilitasi kebutuhan membaca masyarakat.
Rumah baca bersifat lebih fleksibel dan lebih bisa berada dimanapun. Keberadaannya menjadi sebuah oase dalam ranah pengetahuan dan pengembangan diri. Optimalisasi keberadaan rumah baca dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan masyarakat membaca dan masyarakat literasi, menjadi masyarakat yang tidak hanya puas dengan aktifitas biasa tanpa ada pengembangan diri. Membaca merupakan media pembelajaran yang efektif karena dengan membaca seseorang telah melibatkan banyak aspek; meliputi berpikir (to think), merasakan (to feel), dan bertindak melaksanakan hal-hal yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang dianjurkan oleh bahan bacaan (to act) .
Dengan desain yang menarik Rumah baca dapat menjadi tempat kunjungan yang mampu menghipnotis dan diminati oleh masayarakat. Saat ini masayarakat kita masih lebih cenderung memilih tempat-tempat wisata dan tempat-tempat belanja menjadi pilihan untuk refresing atau sekedar bersama keluarga. Tidak mudah memang merubah suatu kebiasaan, akan tetapi mengoptimalisasi rumah baca dengan tampilan dan format yang menarik dapat menjadi aspek yang bisa menarik perhatian masyarakat. Disamping itu marketing menjadi bagian terpenting dalam mempromosikan fungsi penting dari rumah baca serta urgensi membaca itu sendiri.

a. Rumah Baca menjadi tempat Wisata
Essensi dari berwisata adalah menjadikan pikiran lebih fress, rileks dan lebih bersemangat dalam beraktifitas keesokan harinya. Rumah baca dapat menjadi tempat refresing yang asyik dengan tetap memiliki muatan-muatan pengetahuan. Membuat paket-paket menarik seperti out bond, bazar buku, info buku baru, bedah buku, pemeran lukisan, lomba-lomba untuk anak dan remaja, atau bahkan lomba untuk para ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak misalnya mengadakan lomba menulis pengalaman menggugah dalam nuansa keluarga yang kemudian dijadikan sebuah buku atau lomba-lomba khas untuk rumah tangga yang melibatkan seluruh anggota keluarga.

Contoh lain adalah agenda out bond yang bisa dilakukan di tempat yang lapang dengan memanfaatkan benda-benda disekitar dengan tampilan yang unik. Mengundang para keluarga untuk menjadikan out bond sebagai wahana rekreasi dan refresing. Out bond tidak hanya melatih secara psikomotorik, akan tetapi dapat mengasah aspek kognitif dan afektif, selain itu dapat memberikan peluang terhadap jiwa kanak-kanak seseorang yang lebih sering dipemdam. Permainan-permainan edukatif dengan muatan-muatan pengetahuan tidak hanya menjadikan kita lebih fress dan bersemangat akan tetapi juga menambah pengetahuan baru.

b. Mendesain Ruang baca menjadi lebih Colorfull dan Nyaman
Ruangan yang hidup akan terasa lebih nyaman untuk ditempati. Memberikan gambar-gambar lucu khas anak-anak, cat tembok dengan dasar yang cerah dan memberikan fasilitas mengambar pada anak. Ruang baca dengan memiliki view ke taman atau kolam akan menambah suasana yang nyaman, tenang, rileks dan menambah estetika.

Penempatan buku-buku dan penyusunan buku-buku menjadi aspek penting untuk menarik minat pengunjung. Menempatkan buku-buku baru di bagian paling depan dan mudah dijangkau, serta dilengkapi dengan katalog buku. Selain itu Pencahayaan dan sirkulasi udara sangat dibutuhkan dibagian ruang baca. Untuk pencahayaan di siang hari dapat mengandalkan cahaya matahari, cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan di siang hari sangat membantu mengurangi kelembapan.

c. Menciptakan Taman baca
Dalam satu minggu sekali yakni pada akhir pekan dapat mengadakan taman baca ditempat-tempat yang biasa banyak dikunjungi, misalnya taman kota, pos gardu. Membawa buku-buku yang menarik dan mempersilahkan kepada para pengunjung untuk membaca ditempat, menbacakan cerita untuk anak-anak yang berada disana. Cara ini bertujan agar para pengunujung tertarik meski pada awalnya hanya melihat-lihat. Promosi yang baik sangat membantu menjadi daya tarik tersendiri, memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa taman baca dan bacaan merupakan bagian dari refresing.

d. Menerapkan Sitem Token Ekonomi
Salah satu teknik agar pengunjung tetap tertarik dan ingin kembali lagi ke rumah baca adalah dengan menerapkan sistem token ekonomi. Sistem ini merupakan sistem yang menggunakan koin atau kartu, bagi yang dapat mengumpulkan koin dengan jumlah tertentu maka dapat ditukar dengan sesuatu yang telah ditentukan sebelumnnya. Misalnya Pengunjung yang memimjam buku atau membaca buku akan mendapatkan koin atau kartu, setiap koin mempunyai nilai 1. apabila telah mengumpulkan koin minimal 5 dalam dua minggu maka akan mendapatkan bingkisan cantik, semakin besar koin terkumpul maka semakin besar pula bingkisan yang akan diterima. Sistem ini dilatar belakangi karena masayarakat kita lebih sering termotivasi untuk mengunjungi kembali atau mengulangi kembali apabila mendapatkan reward. Dengan sitem token ekonomi diharapkan masyarakat lebih tertarik mengunjugi rumah baca ( tempat-tempat baca ) dari pada tempat-tempat hiburan.

ALA BISA KARENA BIASA
Gemar membaca bukanlah potensi yang dimiliki oleh seseorang, karena membaca berawal dari suatu kebiasaan yang terus menerus. Fasilitas yang lengkap dan kondisi yang mendukung dapat menjadi stimulan untuk merangsang minat baca masyarakat. Rumah baca merupakan harapan untuk menjadi fasilitator dalam merangsang dan mengembangkan minat baca masyarakat. Merubah paradigma masyarakat bahwa membaca bukan hanya aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sekolah akan tetapi membaca menjadi kebutuhan bagi setip individu terlebh untuk perbaikan sumber daya manusia (SDM) bangsa ini.

Saya salut ketika membaca sebuah kisah nyata dalam media Library Corner yang menceritakan tentang bapak Kuadi (37 tahun) bapak dari tiga orang anak, pekerjaan sehari-hari adalah penarik becak dan menjadi dalang. Beliau piawai dalam mendalangi wayang yang bernuansa kritik terhadap politik, ekonomi, dan juga sosial. Usut punya usut ternyata bapak Kuadi memiliki suatu hobi membaca mulai sejak kecil. Beliau membaca habis buku-buku sejarah Seperti babat tanah jawi, filosofi di balik nama tokoh-tokoh wayang, kisah Mahabarata dan Ramayana. Berita termutakhir di koran pun tak luput menjadi amahannya, aktifitas inipun masih tetap berlanjut sampai sekarang. Salah satu potret dari satu diantara jutaan masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca tinggi. Luar biasa!! Jika seorang penarik becak saja gemar membaca kenapa tidak untuk para masyarakat yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih mapan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: