Iffa el em’s Weblog



Menulis Adalah Refleksi Diri

“Siapa bilang menulis itu sulit ??menulis itu mudah dan tak sesulit yang kita bayangkan”. Cuplikan kalimat diatas seringkali saya dengar dari para penulis yang karyanya sering dimuat, tidak jarang pula saya dengar ketika di forum-forum penulisan. Kata-kata tersebut adalah sebuah motivasi untuk membangkitkan semangat para penulis pemula, termasuk juga saya. Tidak jarang semangat saya semakin berkobar-kobar tatkala membaca kalimat-kalimat motivasi dari beberapa penulis terkemuka.

Salah seorang penulis, editor, sekaligus guru SMA yakni bapak Hernowo telah memberikan banyak inspirasi terhadap saya. Hampir disemua tulisan-tulisan dan buku-bukunya beliau selalu menyelipkan manfaat membaca dan menulis. Menurut bapak Hernowo membaca adalah saudara menulis, keduanya tidak bisa dilepaskan. Bahasa yang mengalir, meledak-ledak, dan penuh energi membuat saya tak mau berhenti untuk membaca tulisan-tulisan bapak Hernowo. Setiap kali selesai membaca tulisannya semangat dan tekad saya semakin kuat untuk tetap eksis menulis, ada sugesti yang diberikan bahwa menulis memang mudah. Bapak Hernowo telah mampu membuat saya dan mungkin juga orang yang membaca tulisannya terhipnotis, beliau mampu meledakkan diri saya.

Saya coba untuk menulis apa saja yang ada dalam pikiran dan perasaan saya. “lepaskan semua yang ingin anda lepaskan”, kira-kira demikian yang dikatakan bapak Hernowo. Maka saya mencoba untuk menulis apapun yang ada dibenak saya. Benar saja kata-perkata seakan-akan berhamburan dalam pikiran saya, ia seperti meloncat-loncat tanpa batas, saling berdesakan dan tidak ingin ketinggalan satupun. Dulu, sebelum saya mempunyai komputer saya menulis di kertas-kertas bekas yang dibaliknya masih kosong. Tulisan saya seperti diburu waktu dan mungkin hanya saya yang bisa membacanya karena saking jeleknya.

Setelah menulis ada rasa plog yang saya rasakan, beban pikiran menjadi terasa ringan. Benar apa yang dikatakan oleh Fatima Mernisi seorang pemikir Islam modern yang memiliki semangat meletup-letup. Dalam karyanya, yang berjudul Pemberontakan Wanita! Peran Intelektual Kaum wanita dalam Sejarah Muslim ( Mizan 1999), dalam salah satu babnya ada satu hal yang cukup menarik. Bab tersebut berjudul Menulis Lebih Baik Ketimbang Operasi Pengencangan Kulit Wajah. Dalam tulisan awalnya langsung berpesan kepada pembaca “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama diatas kertas kosong kantung dibawah mata anda akan segera lenyap dan kulit anda akan terasa segar kembali. Pesan Mernisi ini semakin menguatkan tekat saya untuk menulis.

Saya membaca hasil penelitian seorang psikolog Pennebaker tahun 1990-an yang telah melakukan penelitian selama kurang lebih 15 tahun tentang pengaruh upaya membuka diri terhadap kesehatan fisik (hasil penelitian tersebut dijadikan sebuah buku dengan judul Opening Up:The healing Power of Experessing Emotion). Hasil penelitian ini Menyatakan bahwa mengungkapkan pegalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan dengan menulis dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Pennebaker mengatakan bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai peneliti dan bukan sebagi seorang terapis.

Semakin lengkap bukti-bukti yang dapat menguatkan hati saya untuk menulis, menulis dan menulis. Saya terus mencoba menulis apapun yang saya rasakan serta pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami. Menulis membuat saya lebih merasa fress, dan begitu plong setelah memflorkan pikiran.

Seiring berjalannya waktu saya berusaha untuk menulis lebih dari apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Saya menulis esai, artikel, dan kadang puisi. Satu hal yang membuat saya mengalami frustasi di masa awal, ternyata menulis artikel tidak semudah menulis isi pikiran dan perasaan kita. Saya butuh refresensi yang valid untuk mendukung pemikiran-pemikiran saya, saya juga butuh fakta-fakta yang akurat untuk menganalisa hasil pemikiran saya. Menulis artikel tidak membuat saya menjadi enjoy melainkan merasa tertekan. Beberapa tulisan artikel yang saya ikutkan lomba semuanya tidak lolos seleksi. Hingga kemudian tulisan yang ke sekian mendapat panggilan untuk mempresentasikan karya tulisan ilmiah yang saya buat. Saya berdebar-bedar menunggu hari H, dan pada hari dimana saya mempresentasikan tulisan saya banyak kritikan yang saya peroleh dari dewan juri baik dari sistem penulisan dan penyampaian pemikiran. Sebentar saya merasa kapok untuk menulis yang berbau ilmiah, saya hanya menulis apabila ada tugas kuliah yang berupa makalah dan analisa.
* * *

Dalam waktu senjang seringkali saya kembali mempertanyakan tentang manfaat dari menulis. Apa benar yang dikatakan oleh Hernowo dan Fatima Mernissi mengenai manfaat menulis? menulis mampu meledakkan diri, dan melepaskan perasaan dalam diri kita.

Selang beberapa lama saya membaca tulisan salah satu adik tingkat, saya akui keproduktifannya dalam dunia menulis. Ia menulis dalam kolom non tematik yang berjudul Buku, Perilaku dan Perubahan, ia bercerita tentang kegelisahannya mengenai keterikatan antara buku yang dibaca dengan tindakan manusia, bagaimana buku-buku yang dibaca oleh seseorang mempengaruhi terhadap perilakunya. Tulisan dalam kolom non tematik tersebut mengutip isi surat-e Muhammad Al-Fayyad (seorang penulis muda) yang berisi tentang seputar buku, isi dari surat-e tersebut mengatakan bahwa buku mengubah kehidupan, hal itu dikarenakan ada situasi psikologis-eksistensial yang dialami pengarang dan dengan begitu ditawarkan kepada pembacanya. Situasi psikologis ini bisa bermacam-macam, bisa berupa impian, harapan, horor atau tragedi. Buku menjadi media transfer situasi pengarang kedalam diri pembaca.

Sejenak saya berfikir, begitu dahsyatnya pengaruh buku (bacaan terhadap diri kita). Saya akui perubahan dalam diri saya banyak dipengaruhi oleh buku-buku yang saya baca. Bacaan yang saya baca lebih sering menimbulkan suatu kekuatan baru, semangat baru dan sebuah pencerahan. Lalu apa hubungannya dengan menulis? Sangat erat saya pikir, menulis bukan hanya melepaskan perasaan-perasaan dan pikiran yang ada dalam diri kita, dengan menulis kita juga dapat mengurai kembali bacaan yang pernah kita baca, dapat membantu kita untuk lebih memahami bacaan yang kita baca. Manfaat yang tidak kalah penting adalah dengan tulisan kita dapat mempengaruhi psikologis dan perilaku pembaca.

Sejenak saya memperoleh pencerahan, semangat menulis kembali bangkit dan saya tidak lagi kapok untuk menulis apapun termasuk karya tulis ilmiah. Menulis menjadi sebuah media dalam pertarungan pemikiran kita, budaya literasi perlu dekembangkan.

Saat ini saya mempuyai alasan mengapa saya menulis. Pertama, menulis merupakan media mengungkapkan isi pikiran dan perasaan yang dirasakan, dari aspek psikologis menulis menjadikan kita merasa lebih plong.
Kedua, menulis mejadi media untuk meledakkan diri sendiri, memberikan peluang terhadap pikiran yang meletup-letup. Menulis membantu mengarahkan pikiran menjadi lebih sitematis serta media pengasahan intelektual.
Ketiga, menulis sebagai media share dengan pembacanya, sehingga para pembaca dapat menghasilkan sebuah pencerahan dan gagasan baru.
Keempat, menulis merubah diri saya dari budaya oral menuju budaya literasi. Goerge mengatakan bahwa budaya literasi merupakan bukti dari majunya suatu bangsa. Maka mulai dari diri sendiri saya ingin bangsa ini menjadi bangsa dengan budaya litersi (sebuah mimpi besar dan semoga tercapai, amin).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: