Iffa el em’s Weblog


MENJADIKAN SPIRITUALITAS BAGIAN DARI PSIKOTERAPI (Berdasarkan Pengalaman Pada Penanganan Anak Spesial)

Diantara anak terapi yang lain, Nafha merupakan anak yang sering mengalami tantrum dalam waktu lama. Durasi waktu terapi lebih banyak habis untuk menenangkannya. Nafha, gadis cilik yang imut, rambutnya yang ikal dibagian bawah semakin membuatnya terlihat seperti boneka. Usianya kurang lebih antara 4 – 4,5 tahun, ia merupakan anak special yang Allah titipkan kepada kedua orang tuanya.

Hal yang sangat menyenangkan terutama bagi saya sebagai terapisnya ketika selama 2 jam terapi ia tampak tenang dan kooperatif. Namun, merupakan hal yang sangat melelahkan secara fisik bahkan kadang psikis ketika ia mengalami tantrum. Menangis sambil minta digendong, dan tidak hanya itu saja tapi juga menarik-narik jilbab, menjambak rambut  ketika ia berhasil memasukkan tangannya ke dalam jilbab. Ketika kami abaikan, ia berlari mengejar menarik baju dan bahkan mencubiti pinggang kami. Satu orang sering tidak bisa mengatasi terhadap sikap tantrumnya, berbagai teknik telah kami terapkan. Bentuk empati untuk tahap awal, “Nafha menangis? Apakah Nafha marah? Bunda tunggu sampai tenang…” . Teknik ini lebih sering gagal, akan tetapi ini berguna untuk mengenalkan bentuk emosi yang dialami oleh anak. Selanjutnya jika ini tidak berhasil maka mengalihkan kepada permainan-permainan yang lain.  Jika dalam beberapa lama tantrum belum juga reda, maka  sikap selanjutnya adalah mengabaikan apa yang ia minta (jika hal itu memang tidak boleh untuk diberikan) atau tidak memberi respon terhadap perilaku anak. Beberapa teknik diatas lebih sering tidak mempan ketika diberikan kepada Nafha pada saat tantrum. Ia tetap menangis, menarik-narik baju dan mencubit pinggang, jika berhasil meraih kepala maka ia akan menarik jilbab hingga kadang jilbab hampir lepas. Sebuah penanganan yang benar-benar menguras tenaga, meski telah dibantu oleh teman kerja yang lain.

Teknik terakhir yang sering saya lakukan adalah pelukan beruang, teknik ini sering dilakukan pada anak berkebutuhan khusus ketika tantrum yang dialami belum juga reda. Memeluknya erat bisa dari depan atau belakang, mengalirkan energi positif pada anak, berusaha memahami apa yang dirasakan oleh anak. Pada saat melakukan pelukan beruang ini, saya mengintegrasikan dengan spiritualitas, Sambil memeluknya saya berdoa dengan khusyuk agar Allah memberikan ketenangan kepadanya dan agar Allah juga memberikan kekuatan dan kesabaran pada saya, tidak hanya itu saya juga sering membacakan ayat Kursi, shalawat atau syair Abu Nawas dengan lembut di telinga. Hasilnya perilaku tantrum berkurang dan lebih sering anak menjadi tenang. Jika diskalakan  1-9, tantrum berkurang menjadi skala 7 – 6.

Pengalaman ini membuat saya yakin bahwa spiritulitas menjadi bagian dari psikoterapi yang memberikan efek positif. Pengalaman bersama Nafha membuat rasa lelah saya hilang ketika saya menyerahkan ini kepada Allah, energi positif serasa mengalir ketika berdoa secara khusyuk. Saya semakin menyakini bahwa spiritualitas juga merupakan bagian dari psikoterapi, Meski pengalaman ini masih jauh untuk bisa dijadikan sebagai landasan teoritis, akan tetapi semoga pengalaman ini menjadi sebuah inspirasi dan kesadaran bagi kita untuk membumikan spiritualitas pada setiap apa yang kita kerjakan.


MEMBACA BAGI KEHIDUPAN

Words are the only jewel I possess

Words are the only food that sustain my life

Words are the only wealth I distribute among people

(Sant Tukaram)

Masih melekat dalam ingatan semasa kecil dulu ketika belajar membaca, bacaan yang dikenalkan adalah ini Budi, ini Wati, ini ibu Budi dst…. Sebuah pembekalan sebagai gerbang awal memasuki dunia pengetahuan. Dalam pandangan awam (dan mungkin saat ini masih ada), keberhasilan pendidikan ditandai dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan kemampuan membaca berhenti kepada kemampuan membaca sebuah tulisan, tidak pada hakikat yang lebih kuat.

Saya bersyukur, sejak SMP hingga SMA saya berteman dekat dengan teman-teman yang mencintai buku, berawal dari merekalah titik balik kehidupan saya selanjutnya. Dari mereka saya mengetahui tentang banyak hal melalui buku.  Bermula dari menyukai buku komik, majalah anak, hingga beralih kepada majalah remaja yang lebih banyak memuat cerpen-novel Islami hingga kemudian ketika SMA salah satu  teman saya memperkenalkan  Filsafat For Beginner.

Memaknai Arti Penting Membaca

Dalam sebuah majalah pada kolom inspirasi, mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan untuk mewujudkankan mimpinya membangun sebuah taman bacaan. Sangat menarik dan mengharukan, kisah dalam rubrik tersebut menceritakan bagaimana seorang Kiswati yang mempunyai sebuah impian mendirikan sebuah taman bacaan untuk masyarakat, ia sangat menyadari tentang arti pentingnya sebuah buku bagi masa depan anak bangsa. Perjalanann dalam mewujudkan impian inipun tidak berjalan dengan mulus, kemiskinan menjadi bagian aral dalam mewujudkan impian ini. Namun aral tersebut tidak menjadi kendala untuk mewujudkan impian, satu demi satu Kiswati mengumpulkan buku bacaan hingga puluhan tahun lamanya, dan yang menarik adalah  ia rela menjadi babu (pembantu) dengan gaji sebuah buku. Satu perjalanan hidup yang cukup langka, tidak semua orang rela digaji dengan buku, hanya orang yang memahami tentang arti pentingnya buku dalam proses kehidupan.  Hingga kemudian sepotong demi sepotong impian itupun terwujud. Di tahun 2006 ia mendirikan sebuah taman bacaan WARABAL  (warung baca Lebakwangi) di kawasan Parung Bogor dengan koleksi buku 2.559. Taman bacaan ini diperuntukkan untuk umum terutama bagi anak-anak sekitar. 

Seandainya 40% saja masyarakat Indonesia memiliki semangat impian seperti Kiswati, maka perkembangan kualitas masyarakat Indonesia tidak hanya menggeliat melainkan bangun dan berkembang dengan pesat. Dalam beberapa dekade ini, hasil-hasil survey membuktikan bahwa kebiasaan membaca pada masyarakat Indonesia jauh tertinggal dengan negara tetangga lainnya.  Hasil survey sebuah lembaga dunia terhadap daya baca di 41 negara, Indonesia berada di peringkat ke-39. Salah satu indikator kebiasaan membaca adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi oleh sepuluh orang, di negara tetangga seperti Srilangka perbandingannya satu surat kabar adalah 1:38, Philipina 1:30 dan Malaysia 1:18 sementara rasio jumlah penduduk Indonesia dengan surat kabar adalah l:43, artinya konsumsi satu surat kabar untuk 43 orang. Berbagai data telah menunjukkan  bahwa membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadi sebuah kebutuhan dasar.

Hasil dari dua survey ini semoga menjadi bahan perenungan bersama, bahwa membaca memiliki peran penting dalam membangun kualitas bangsa. Laporan UNESCO pada tahun 2005 yang berjudul Literacy for Life menyebutkan bahwa ada hubungan yang erat antara illiteracy  dengan kemiskinan. Di banyak negara, di mana angka kemiskinan  tinggi, tingkat literasi cenderung rendah. Illiteracy menyebabkan tingkat penghasilan perkapita rendah. Seperti yang terjadi di  Banglades, Ethiopia, Ghana, India, Nepal, dan Mozambique. Lebih dari 78  persen penduduknya, penghasilan per hari di bawah 2 dollar AS.

Mereka yang mempunyai kemampuan literasi (melek huruf secara fungsional), berkesempatan mencari dan memperoleh informasi yang memungkinkan  untuk mengembangkan usaha: misalnya soal produk apa yang sedang dicari  orang; mencari celah-celah pasar baru; dan sebagainya. Komunikasi  dengan rekanan bisnis menjadi efektif dan hemat, terbukanya kesempatan  mengikuti kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Termasuk  lincah menciptakan lowongan kerja bagi dirinya sendiri.

Membaca Adalah ……

Setiap pribadi memiliki makna tersendiri tehadap pentingnya membaca. Dalam salah satu judul buku Hernowo berjudul andai Buku Itu Sepotong Pizza. Hernowo menuliskan betapa pentingnya buku (dalam hal ini membaca) dalam perkembangan kehidupan kita. Dalam masyarakat tidak menjadi hal biasa ketika menyisihkan uang penghasilan mereka untuk membeli buku secara rutin. Dalam masyarakat pada umumnya belum menjadi hal yang lumrah meluangkan waktu secara khusus disela-sela kesibukan yang dilakukan untuk membaca. Andai  membaca ibarat nasi, yang tidak bisa lepas dalam keseharian kita maka lihatlah apa yang akan terjadi kemudian??

Membaca bagi Sindhunata merupakan kaki, filosofi yang cukup menarik. Pernyataan ini terinspirasi dari tulisan Wolf Biermann yang berjudul Die Fusse des Dichter (Kaki Panyair), yang dipersembahkan untuk memperingati kematian penyair Moses Rosenkranz (penyair yang benr-benar membaktikan hidupnya untuk syair). Dalam tulisan  Bermann menyiratkan bahwa kaki memiliki arti penting. Kaki mencintai sejarah kendati kemajuan memaksa untuk tidak mengacuhkan sejarah. Kaki yang menyejarah diperoleh melalui membaca. Hidup yang berkaki kuat adalah hidup yang tidak sempit dan berani menjelajah. Namun bagaimana akan mengetahui yang luas dan mendapat inspirasi untuk menjelajah jika tidak membaca? Konsep inilah yang mejadi pandangan Sindunata bahwa membaca adalah kaki.

Lain halnya dengan Azyumardi Azra (mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah) dalam tulisanya yang berjudul Membaca Dan Menulis Sebuah “Personal Account” menyatakan bahwa buku (dalam hal ini juga meupakan proses membaca)   merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupannya. Bagi pak Azra buku adalah teman setia yang selalu mendampingi dimanapun berada. Pada tahun 2004 koleksi buku pak Azra berkisar 12.000 sampai 15.000 judul, maka bisa dipastikan ditahun 2009 ini koleksi buku pak Azra semakin bertambah. Pak Azra membuktikan bahwa buku merupakan bagian dari kehidupan, bagian dari makanan pokok.

Tidak berlebihan juga jika Daoed Joesoef mengemukakan bahwa manusia mungkin bisa hidup tanpa menjadi seorang pembaca, tanpa membiasakan diri untuk membaca. Namun sebuah demokrasi hanya akan berkembang apalagi survive disuatu masyarakat yang warganya adalah pembaca. Individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekedar menjadi pendengar dan berbicara. Hal ini disebabkan karena semua perbuatan manusia berawal dalam pikiran. Sedangkan pola pikir  pada semua masyarakat manusia merupakan ramusan dari (a) generalisasi keilmuan, (b) fakta-fakta empiris dan histories, pengertian mitologis religius dan gagasan politik etis. Semua itu hanya dapat diwariskan dan diperoleh secara komprehensif melalui tulisan, sedangkan tulisan itu tidak akan bermakna apapun tanpa dibaca. Maka lihatlah bagaimana kejayaan Islam pada masa Abbasiyah terutama  pada masa kepemimpinan Al-Makmun. Dan lihatlah bagaimana masa kebangkitan bangsa Eropa setelah melakukan penjarahan berbagai buku ilmu pengetahuan.

Tidak berlebihan jika kata Sant Tukaram yang menjadi prolog awal  dalam tulisan ini saya jadikan sebagai motto mengenai arti pentingnya membaca dalam kehidupan. Satu-satunya permata yang saya miliki dan tidak akan pernah khawatir untuk kehilangan permata itu. Sebuah makanan yang menopang hidup, jika empat sehat lima sempurna merupakan makanan pokok yang menopang keberlangsungan hidup, maka kata-kata (membaca) merupakan makanan bagi otak agar tidak beku. Sedangkan hasil membaca merupakan harta kekayaan yang akan dibagikan kepada setiap orang, dalam hal ini melalui oral maupun literal (menulis).

Silahkan memaknai ulang pentingnya membaca bagi kehidupan anda !!!


MENJADIKAN SPIRITUALITAS BAGIAN DARI PSIKOTERAPI (Berdasarkan Pengalaman Pada Penanganan Anak Spesial)

Diantara anak terapi yang lain, Nafha merupakan anak yang sering mengalami tantrum dalam waktu lama. Durasi waktu terapi lebih banyak habis untuk menenangkannya. Nafha, gadis cilik yang imut, rambutnya yang ikal dibagian bawah semakin membuatnya terlihat seperti boneka. Usianya kurang lebih antara 4 – 4,5 tahun, ia merupakan anak special yang Allah titipkan kepada kedua orang tuanya.

Hal yang sangat menyenangkan terutama bagi saya sebagai terapisnya ketika selama 2 jam terapi ia tampak tenang dan kooperatif. Namun, merupakan hal yang sangat melelahkan secara fisik bahkan kadang psikis ketika ia mengalami tantrum. Menangis sambil minta digendong, dan tidak hanya itu saja tapi juga menarik-narik jilbab, menjambak rambut  ketika ia berhasil memasukkan tangannya ke dalam jilbab. Ketika kami abaikan, ia berlari mengejar menarik baju dan bahkan mencubiti pinggang kami. Satu orang sering tidak bisa mengatasi terhadap sikap tantrumnya, berbagai teknik telah kami terapkan. Bentuk empati untuk tahap awal, “Nafha menangis? Apakah Nafha marah? Bunda tunggu sampai tenang…” . Teknik ini lebih sering gagal, akan tetapi ini berguna untuk mengenalkan bentuk emosi yang dialami oleh anak. Selanjutnya jika ini tidak berhasil maka mengalihkan kepada permainan-permainan yang lain.  Jika dalam beberapa lama tantrum belum juga reda, maka  sikap selanjutnya adalah mengabaikan apa yang ia minta (jika hal itu memang tidak boleh untuk diberikan) atau tidak memberi respon terhadap perilaku anak. Beberapa teknik diatas lebih sering tidak mempan ketika diberikan kepada Nafha pada saat tantrum. Ia tetap menangis, menarik-narik baju dan mencubit pinggang, jika berhasil meraih kepala maka ia akan menarik jilbab hingga kadang jilbab hampir lepas. Sebuah penanganan yang benar-benar menguras tenaga, meski telah dibantu oleh teman kerja yang lain.

Teknik terakhir yang sering saya lakukan adalah pelukan beruang, teknik ini sering dilakukan pada anak berkebutuhan khusus ketika tantrum yang dialami belum juga reda. Memeluknya erat bisa dari depan atau belakang, mengalirkan energi positif pada anak, berusaha memahami apa yang dirasakan oleh anak. Pada saat melakukan pelukan beruang ini, saya mengintegrasikan dengan spiritualitas, Sambil memeluknya saya berdoa dengan khusyuk agar Allah memberikan ketenangan kepadanya dan agar Allah juga memberikan kekuatan dan kesabaran pada saya, tidak hanya itu saya juga sering membacakan ayat Kursi, shalawat atau syair Abu Nawas dengan lembut di telinga. Hasilnya perilaku tantrum berkurang dan lebih sering anak menjadi tenang. Jika diskalakan  1-9, tantrum berkurang menjadi skala 7 – 6.

Pengalaman ini membuat saya yakin bahwa spiritulitas menjadi bagian dari psikoterapi yang memberikan efek positif. Pengalaman bersama Nafha membuat rasa lelah saya hilang ketika saya menyerahkan ini kepada Allah, energi positif serasa mengalir ketika berdoa secara khusyuk. Saya semakin menyakini bahwa spiritualitas juga merupakan bagian dari psikoterapi, Meski pengalaman ini masih jauh untuk bisa dijadikan sebagai landasan teoritis dan perlu penelitian lebih lanjut, akan tetapi semoga pengalaman ini menjadi sebuah inspirasi dan kesadaran bagi kita untuk membumikan spiritualitas pada setiap apa yang kita kerjakan.


Bulan Ramadhan, Sebuah Madrasah Spiritual dan Emosional

Latifah Masruroh*

Ramainya Tarawih dan maraknya tadarus pada malam hari menjadi ciri khas pada bulan ramadhan, nuansa religius terlihat lebih kental dibanding bulan-bulan yang lain. Kondisi sosial terasa lebih hidup, orang-orang lebih banyak berbondong-bondong untuk bershodaqoh dan peduli kepada sesama terutama kaum mustadz’afin. Tidak hanya itu, kondisi perekonomian turut menggeliat, took-toko, pasar dan swalayan mulai banyak dipadati pengunjung, bahkan muncul pedagang-pedagang baru di pinggir jalan dengan menjual berbagai macam takjil. Ramadhan memberikan nuansa khas yang begitu unik.
Nuansa yang demikian semoga tidak hanya merupakan sebuah rutinitas belaka, akan tetapi semoga setiap diantara kita mampu membumikan nilai-nilai moral (moral values) yang terkadung dalam bulan Ramadhan.

Ramadhan, Madrasah Spiritual & Emosional
Ramadhan secara harfiah bermakna membakar sesuatu. Pengambilan nama bulan Ramadhan tidak terlepas dari sejarah orang-orang Arab terdahulu. Dalam tafsir Al-Kasysyaf, orang Arab memberikan nama-nam bulan (memakai system peredaran bulan) berdasarkan jatuhnya musim pada bulan itu. Sedangkan bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, sehingga disebut dengan bulan ramadhan, bulan yang sangat panas. Dalam sebuah hadis riwayat lain menyebutkan bahwa disebut bulan Ramadhan karena bulan ini membakar dosa-dosa umat manusia.
Terlepas dari apapun arti dari Ramadhan, mari kita melihat nilai-nilai moral (moral values) yang perlu dilaksanakan dalam bulan ini. Perintah utama pada bulan ini adalah melaksanakan puasa, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 183-185 dengan jelas Allah berfirman mewajibkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan. Puasa adalah menahan, menurut syara’ puasa (shiyam) adalah menahan diri dari makan dan minum serta bercampurnya antara suami istri pada siang hari. Puasa diawali dengan niat yang dilakukan sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa syarat-syarat tersebut merupakan syarat minimal bagi orang berpuasa, sehingga nilai moral yang terkandung didalamnya tidak berhenti hanya pada menahan lapar, dahaga dan bercampur antara suami istri. Esensi dari puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bersifat amoral, dan nabipun bersabda bahwa banyak diantara orang-orang yang berpuasa hanya memperoleh rasa haus dan lapar.
“betapa sedikitnya orang-orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang-orang yang kelaparan”.
Maka pada hakikatnya, puasa tidak hanya bersifat ritual semata akan tetapi nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya menjadi tujuan utama diwajibkan berpuasa. Setiap orang bisa saja mampu melakukan Puasa dengan ketentuan secara fiqhiyah, akan tetapi membumikan nilai-nilai moral yang terkadung didalamnya perlu perjuangan keras. Menahan untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela, menjaga kejernihan hati, dan belajar untuk bersabar merupakan bagian dari nilai-nilai moral yang terdapat dalam puasa. Kang Jalal dalam tulisannya “Shaum: Madrasah Ruhaniah” menjelaskan bahwa diantara pelajaran ruhaniah dalam shaum adalah: pertama, Ikhlas beramal semata-mata karena Allah. Puasa mengajarkan untuk beramal secara tulus, tanpa mengharapkan apapun terutama harapan kepada manusia. Puasa yang ikhlas merupakan wujud proses untuk menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh hawa nafsu. Kedua, Pembersihan diri. Puasa mendidik untuk menghindari perbuatan tercela sehingga dapat memperoleh taqwa. Ketiga, Ihsan. Berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dan berbuat baik dalam beribadah kepada Allah. Dengan demikian, puasa mendidik kita untuk beretika. Keempat, ibadah. Puasa merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka, ketika pelajaran dalam puasa ini dapat kita bumikan hal ini merupakan proses manusia seutuhnya.
Perintah kedua adalah melakukan zakat fitrah, dengan mengeluarkan sebagian kecil dari harta kita sebagai bentuk penyucian diri. Nilai moral yang terkandung dalam zakat fitrah ini tidak hanya proses penyucian diri akan tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Setelah hampir satu bulan melakukan proses penempaan diri melalui puasa, maka zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri dari dosa-dosa kita.
Anjuran ibadah yang lain adalah shalat tarawih, yang dianjurkan secara berjamaah. Sebuah ibadah yang tidak hanya bersifat secara vertical akan tetapi juga secara horizontal. Bersama-sama beribadah kepada Allah, berkumpul bersama tanpa memandang status sosial, nuansa kebersamaan terasa kental selama satu bulan. Anjuran yang lain adalah memperbanyak membaca Al-Quran secara beramai-ramai (tadarus). Nilai moral secara sosial juga terdapat dalam anjuran ini, membangun kebersamaan terutama dengan tetangga.
Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada bulan ramadhan ini merupakan bentuk pembelajaran secara spiritual dan emosianal. Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mengasah sisi spiritualitas kita dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan meluruskan niat. Serta mengajarkan kepada kita untuk mengasah kecerdasan emosi untuk lebih peduli kepada sesama, dan mampu menahan dari perbuatan yang amoral. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi madrasah spiritual dan emosional yang mampu mengasah sisi spiritualitas dan emosional yang seringkali kita abaikan. Dan Semoga dalam madrasah ini kita mampu mencapai puncak spiritualitas dan kecakapan emosi, sehingga pada akhir bulan ramadhan kita benar-benar menuju sebuah kemenangan hakiki, Kembali suci kepada fitrah manusia. Sehingga keresahan yang disampaikan oleh Dr.Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College Geogria dalam suatu konferensi di Universitas Michigan (Amerika) tidak menjadi kenyataan.
“kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan –lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit…. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan, kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual.”

Selamat Berpuasa!!!
@@@


Bulan Ramadhan, Sebuah Madrasah Spiritual dan Emosional

Latifah Masruroh*

Ramainya Tarawih dan maraknya tadarus pada malam hari menjadi ciri khas pada bulan ramadhan, nuansa religius terlihat lebih kental dibanding bulan-bulan yang lain. Kondisi sosial terasa lebih hidup, orang-orang lebih banyak berbondong-bondong untuk bershodaqoh dan peduli kepada sesama terutama kaum mustadz’afin. Tidak hanya itu, kondisi perekonomian turut menggeliat, took-toko, pasar dan swalayan mulai banyak dipadati pengunjung, bahkan muncul pedagang-pedagang baru di pinggir jalan dengan menjual berbagai macam takjil. Ramadhan memberikan nuansa khas yang begitu unik.
Nuansa yang demikian semoga tidak hanya merupakan sebuah rutinitas belaka, akan tetapi semoga setiap diantara kita mampu membumikan nilai-nilai moral (moral values) yang terkadung dalam bulan Ramadhan.

Ramadhan, Madrasah Spiritual & Emosional
Ramadhan secara harfiah bermakna membakar sesuatu. Pengambilan nama bulan Ramadhan tidak terlepas dari sejarah orang-orang Arab terdahulu. Dalam tafsir Al-Kasysyaf, orang Arab memberikan nama-nam bulan (memakai system peredaran bulan) berdasarkan jatuhnya musim pada bulan itu. Sedangkan bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, sehingga disebut dengan bulan ramadhan, bulan yang sangat panas. Dalam sebuah hadis riwayat lain menyebutkan bahwa disebut bulan Ramadhan karena bulan ini membakar dosa-dosa umat manusia.
Terlepas dari apapun arti dari Ramadhan, mari kita melihat nilai-nilai moral (moral values) yang perlu dilaksanakan dalam bulan ini. Perintah utama pada bulan ini adalah melaksanakan puasa, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 183-185 dengan jelas Allah berfirman mewajibkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan. Puasa adalah menahan, menurut syara’ puasa (shiyam) adalah menahan diri dari makan dan minum serta bercampurnya antara suami istri pada siang hari. Puasa diawali dengan niat yang dilakukan sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa syarat-syarat tersebut merupakan syarat minimal bagi orang berpuasa, sehingga nilai moral yang terkandung didalamnya tidak berhenti hanya pada menahan lapar, dahaga dan bercampur antara suami istri. Esensi dari puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bersifat amoral, dan nabipun bersabda bahwa banyak diantara orang-orang yang berpuasa hanya memperoleh rasa haus dan lapar.
“betapa sedikitnya orang-orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang-orang yang kelaparan”.
Maka pada hakikatnya, puasa tidak hanya bersifat ritual semata akan tetapi nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya menjadi tujuan utama diwajibkan berpuasa. Setiap orang bisa saja mampu melakukan Puasa dengan ketentuan secara fiqhiyah, akan tetapi membumikan nilai-nilai moral yang terkadung didalamnya perlu perjuangan keras. Menahan untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela, menjaga kejernihan hati, dan belajar untuk bersabar merupakan bagian dari nilai-nilai moral yang terdapat dalam puasa. Kang Jalal dalam tulisannya “Shaum: Madrasah Ruhaniah” menjelaskan bahwa diantara pelajaran ruhaniah dalam shaum adalah: pertama, Ikhlas beramal semata-mata karena Allah. Puasa mengajarkan untuk beramal secara tulus, tanpa mengharapkan apapun terutama harapan kepada manusia. Puasa yang ikhlas merupakan wujud proses untuk menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh hawa nafsu. Kedua, Pembersihan diri. Puasa mendidik untuk menghindari perbuatan tercela sehingga dapat memperoleh taqwa. Ketiga, Ihsan. Berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dan berbuat baik dalam beribadah kepada Allah. Dengan demikian, puasa mendidik kita untuk beretika. Keempat, ibadah. Puasa merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka, ketika pelajaran dalam puasa ini dapat kita bumikan hal ini merupakan proses manusia seutuhnya.
Perintah kedua adalah melakukan zakat fitrah, dengan mengeluarkan sebagian kecil dari harta kita sebagai bentuk penyucian diri. Nilai moral yang terkandung dalam zakat fitrah ini tidak hanya proses penyucian diri akan tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Setelah hampir satu bulan melakukan proses penempaan diri melalui puasa, maka zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri dari dosa-dosa kita.
Anjuran ibadah yang lain adalah shalat tarawih, yang dianjurkan secara berjamaah. Sebuah ibadah yang tidak hanya bersifat secara vertical akan tetapi juga secara horizontal. Bersama-sama beribadah kepada Allah, berkumpul bersama tanpa memandang status sosial, nuansa kebersamaan terasa kental selama satu bulan. Anjuran yang lain adalah memperbanyak membaca Al-Quran secara beramai-ramai (tadarus). Nilai moral secara sosial juga terdapat dalam anjuran ini, membangun kebersamaan terutama dengan tetangga.
Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada bulan ramadhan ini merupakan bentuk pembelajaran secara spiritual dan emosianal. Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mengasah sisi spiritualitas kita dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan meluruskan niat. Serta mengajarkan kepada kita untuk mengasah kecerdasan emosi untuk lebih peduli kepada sesama, dan mampu menahan dari perbuatan yang amoral. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi madrasah spiritual dan emosional yang mampu mengasah sisi spiritualitas dan emosional yang seringkali kita abaikan. Dan Semoga dalam madrasah ini kita mampu mencapai puncak spiritualitas dan kecakapan emosi, sehingga pada akhir bulan ramadhan kita benar-benar menuju sebuah kemenangan hakiki, Kembali suci kepada fitrah manusia. Sehingga keresahan yang disampaikan oleh Dr.Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College Geogria dalam suatu konferensi di Universitas Michigan (Amerika) tidak menjadi kenyataan.
“kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan –lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit…. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan, kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual.”

Selamat Berpuasa!!!
@@@


Sekolah Inklusi, Sebuah Harapan

Latifah Masruroh

Masih terekam dengan jelas kondisi anak-anak berkebutuhan khusus di kampung Sidowayah, salah satu kampung pelosok kabupaten Ponorogo. Kampung ini memiliki banyak anak yang  berkebutuhan khusus baik secara fisik maupun mental, hampir disetiap RT terdapat anak dengan berkebutuhan khusus dan mereka tanpa mendapatkan pendidikan yang layak dan cenderung terabaikan. Dengan serba keterbatasan yang dimiliki, mereka hanya bisa duduk tak berdaya di emper rumah mereka yang berlantai tanah. Kondisi fisik dan mental yang terbatas membuat mereka tak bisa melakukan apapun bahkan untuk sekedar Bantu diri. Ketidakberdayaan inipun dilengkapi dengan kondisi pendidikan dan perekonomian keluarga mereka yang minim, tanpa memiliki pengetahuan tentang penanganan terhadap anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus.

Dan kini, saya kembali akrab dengan mereka (anak berekebutuhan khusus) semenjak bekerja di tempat terapi anak berkebutuhan khusus. Sisi hati saya trenyuh melihat wajah-wajah innocent mereka, bagaimanapun mereka adalah angugerah dari Tuhan yang menjadi amanah bersama.  Mereka butuh perhatian dan penanganan khusus untuk melewati masa-masa perkembangan yang cenderung terlambat dibanding anak tanpa berkebutuhan khusus. Keterlambatan dalam masa perkembangan ini juga memberikan pengaruh secara signifikan terhadap pendidikan yang seharusnya mereka tempuh.

Semua warga negara mempunyai hak yang sama terhadap pendidikan, termasuk didalamnya adalah anak berkebutuhan khusus. Demikian salah satu inti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31.  Hasil survey menunjukkan bahwa dalam setiap 150 kelahiran salah satu diantaranya menyandang autis, down syndrome dan kelainan anak yang lainnya. Pada saat ini jumlah merekapun terus bertambah, dengan berbagai penyebab, baik semasa dalam kandungan ataupun masa keemasan dalam perkembangan. Bagi orang tua yang menyadari sejak dini mereka akan memberikan penanganan sedini mungkin.

Permasalahan yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah pada saat mereka (anak berkebutuhan khusus) memasuki usia sekolah, kemana mereka akan menimba ilmu? Maka sekolah luar biasa menjadi tempat alternative bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka dengan berkebutuhan khusus, mereka berada dalam satu lingkungan dan bergaul dengan teman-teman senasib. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih riil. Hal ini karena berkaitan dengan dunia kerja yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Hal lain adalah mereka terbukti jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika mereka bergaul dengan anak-anak “normal’ (anak tanpa berkebutuhan khusus). Saat ini para orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus memperoleh angin segar dengan system sekolah baru. Sekolah inklusi, menjadi sebuah sekolah harapan untuk menumbuh kembangkan anak secara optimal, baik bagi anak dengan maupun tanpa berkebutuhan khusus.

Pada tanggal  26-29 September tahun 2005  para pakar dan praktisi sekolah inklusi dari 32 negara di dunia berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat untuk mengikuti International Symposium on Inclusion and The Removal Of Barriers To Learning. Dalam pertemuan ini mereka saling berbagi pengalaman mengenai sekolah inklusi di Negara masing-masing. Kehadiran sekolah inklusi merupakan upaya untuk menghapus batas yang selama ini muncul ditengah masyarakat, tidak hanya bagi anak normal dengan anak cacat (berkebutuhan khusus) akan tetapi juga bagi kalangan  mampu dan kurang mampu, serta perbedaan yang lainnya. Mereka (anak berkebutuhan khusus) dapat bersekolah dan mendapatkan ijazah layaknya anak normal. Dalam hal ini yang termasuk anak berkebutuhan khusus diantaranya adalah tunanetra, low vision, tunarungu, austis maupun anak-anak yang memiliki penyakit khusus. Disamping itu sekolah inklusi diharapkan dapat menjadi jembatan terhadap jarak yang terjadi pada anak normal dan cacat pada umumnya.

System Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan antara anak-anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama. Saat ini sekolah inklusi telah ada mulai dari tingkat TK hingga SMA, bahkan pemerintah mulai memarakkan dan memilih salah satu sekolah negeri untuk dijadikan sekolah inklusi.

Sistem belajar pada sekolah inklusi tidak jauh berbeda dengan sekolah regular pada umumnya. Mereka (para siswa) berada dalam satu kelas yang idealnya dalam satu kelas terdiri dari 1-6 anak berkebutuhan khusus dengan dua guru dan satu terapis yang bertanggung jawab dibawah koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Porsi belajar pada anak berkebutuhan khusus lebih kecil daripada yang ‘normal’. Hal ini tidak bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi. Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu anak-anak tersebut  akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke Ruang individu untuk mendapatkan perlakuan (bimbingan ) khusus. Dengan demikian diperlukan keberagaman metode pembelajaran agar supaya materi dapat tersampaikan secara merata kepada semua anak didik. Guru perlu memastikan bahwa semua siswa, terlebih mereka yang berkebutuhan khusus, sudah memahami penjelasan dengan baik. Ketika anak-anak berkebutuhan khusus belum bisa menerima materi dengan baik, sekolah pun harus siap melaksanakan program pembelajaran individual (PPI) atau IEP (individual educational program) untuk mendampingi satu per satu anak berkebutuhan khusus secara lebih intensif. Bentuk dari PPI atau IEP ini disesuaikan dengan kebutuhan yang perlu dikembangkan pada anak.

Bagaimana Dengan Penerapan Ujian?

Pendidikan bukanlah sebuah rutinitas ujian demi ujian tanpa memandang perbedaan kemampuan setiap individu. Inti dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan manusia. Demikian pula ketika anak berkebutuhan khusus dihadapkan dengan ujian sebagai hasil evaluasi. Sebagaimana dalam tulisan diatas substansi dari pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang seutuhnya, sehingga standart yang ditetapkan adalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak dan bentuk pelaporannya lebih banyak bersifat deskriptif. Demikian pula ketika menyangkut ujian kelulusan, dalam hal ini UAN, mereka perlu adanya dispensasi dengan memiliki standart khusus. Menyangkut masalah UAN ini telah disetujui oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa bahwa anak dengan berkebutuhan khusus tidak perlu mengikuti UAN (Julia Maria, januari 2008).

Manfaat Sekolah Inklusi

Meski sampai saat ini sekolah inklusi masih terus melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, namun dilihat dari sisi idealnya sekolah inklusi merupakan sekolah yang ideal baik bagi anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus. Lingkungan yang tercipta sangat mendukung terhadap anak dengan berkebutuhan khusus, mereka dapat belajar dari interaksi spontan teman-teman sebayanya terutama dari aspek social dan emosional. Sedangkan bagi anak yang tidak berkebutuhan khusus memberi peluang kepada mereka untuk belajar berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian. Disamping itu bukti lain yang ada mereka yang tanpa berkebutuhan khusus memiliki prestasi yag baik tanpa merasa terganggu sedikitpun.

Pengalaman penulis berada dalam sekolah inklusi (dalam hal ini Taman Kanak-Kanak), tidak menemukan permasalahan signifikan yang dihadapi,  justru kecerdasan emosi dan social anak-anak yang normal terasah dengan baik. Mereka menerima dan mau bermain dengan anak yang berkebutuhan khusus, mau memahami terhadap perilaku tidak wajar yang kadang dilakukan oleh mereka (anak berkebutuhan khusus), bahkan kepedulian mereka sangatlah tinggi terhadap teman yang berkebutuhan khusus. Lingkungan terpadu seperti ini dapat memenuhi tujuan-tujuan pendidikan kurikulum tradisional (regular) serta memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus baik secara fisik terlebih  sosial dan emosional.

Penutup

Meski saat ini Sekolah inklusi sudah mulai marak namun masih banyak pula masyarakat yang belum mengetahui dan memahami tentang sistem sekolah ini. Sehingga pemerintah, pemerhati pendidikan, guru dan Psikolog perlu terus mensosialisasikan system sekolah inklusi. Anak merupakan anugerah yang Allah berikan pada kita semua, termasuk anak dengan berkebutuhan khusus. Mereka adalah istimewa dengan keunikan masing-masing, dan menjadi amanah bersama untuk mendapatkan haknya termasuk dalam hal pendidikan.


BELAJAR DARI FARIST

Lathifah Masruroh

Namanya Farist, usia 7 tahun. Hasil assesment sebelum sekolah dan terapi adalah retardasi mental. Perawakannya kecil dengan tubuh yang kaku dan selalu mengeluarkan air liur. Riwayat kelahiran, Farist terlahir premature dengan usia kandungan 7 bulan kurang, lahir dengan berat badan 1 Kg 2 Ons dan berada dalam incubator selama 2 bulan. Suaranya yang terkadang terdengar berat menjadi khas tersendiri diantara yang lain.

Pertama kali saya memegangnya menjadi anak terapis, banyak hal yang membuat saya cukup stress disaat berhadapan dengannya. Membantu mengajarkan dan mengusap air liurnya adalah hal kecil yang tidak perlu dipermasalahkan. Akan tetapi menghadapi serta mengatasi hiperaktif dan  kondisi emosinya yang sangat labil merupakan hal yang sangat melelahkan secara fisik dan Psikis. Farist tidak bisa duduk tenang dalam waktu lama.  Ketika pintu ruangan terbuka maka itu merupakan celah baginya untuk bisa keluar, tidak hanya keluar ruangan tapi juga keluar sekolah dan keliling kompleks. Ketika saya mengejar dan memintanya kembali, dengan ekspresi kemenangan dia terus berlari mengelilingi kompleks Karimata V, dan disaat Farist melihat saya maka dia akan tetap terus berlari dan berlari dengan gerakannya yang gesit.

Cerita lain dari Farist adalah banyak hal perilakunya yang membuat kita seringkali kehabisan akal dan kesabaran. Ia sangat mudah terpengaruh dengan menirukan perilaku yang ia lihat, ini menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri ketika yang ditiru merupakan hal-hal yang negative. Berhadapan dengan Farist memiliki tantangan tersendiri, menguras tenaga fisik dan psikis. Ia suka memukul dan mengamuk disaat keinginannya tidak terpenuhi atau disaat diminta untuk melakukan suatu hal. Untuk memasang sepatu saja butuh waktu lama dan menguras tenaga, bagaimana tidak, ia membuang kaos kakinya terlebih dahulu kemudian lari keluar sekolah. Ketika dipanggil, maka ia akan terus berlari, terkadang membutuhkan guru lain untuk membantu menertibkannya.

Tantangan selanjutnya adalah disaat waktunya tiba untuk kelas indivisual ( Farist bersekolah di TK inklusi, ada saatnya ia berada di kelas individu dengan 1 terapis dan ada saatnya ia bersama teman-temannya di kelas A untuk mengasah kecerdasan social dan emosinya). Ini merupakan tantangan yang juga cukup melelahkan, ia harus dipaksa untuk berada di kelas individual, dengan cara halus ataupun tegas ia tetap menentang dengan berbagai cara, mulai dari memukul, mengamuk, ucapan caci maki serta mogok tanpa mau bergerak terutama ketika diajak untuk berjalan. Maka cara terakhir yang dilakukan adalah dengan menggotongnya dibantu doleh guru yang lain.

Didalam kelas individualpun, Farist belum bisa kooperatif. Ia tetap menentang dengan cara apapun, mulai  dari mengamuk dengan membanting benda-benda di dalam ruangan atau bahkan membuangnya keluar jendela, caci maki pada terapis sering kali keluar. Hal ini terjadi setiap kali akan melakukan kegiatan akademik yang lebih bersifat kognitif. Kejadian-kejadian diatas hampir terjadi setiap hari, psikolog sayapun mulai menyarankan dengan berbagai teknik. Hingga kemudian terjadi hal yang tidak terduga, Farist menjadi sangat menentang terhadap saya. Ia tidak hanya menentang disaat proses pembelajaran secara individual berlangsung, namun setiap kali saya dekati saja si Farist langsung berpaling muka dengan ekspresi wajah tidak suka. Aneh sekali, padahal jika berhadapan atau didekati oleh guru-guru yang lain temasuk psikolog saya ia tidak bersikap menentang keras. Berbagai cara sudah dicoba untuk mengatasi hal ini, Psikolog saya juga mulai berusaha keras untuk menemukan solusi bahkan dalam benak  beliau sempat terlintas untuk mengganti terapis saja. Pertanyaan besar bagi saya, jangan-jangan sayalah yang salah,  baik dari segi metode, sikap atau emosi sehingga tidak ada trust sedikitpun untuk saya.

Berbulan-bulan saya menghadapi sikap Farist yang demikaian. Pengenalan angka 1-3 saya lakukan selama 2 bulan, dan Farist belum  bisa juga untuk mengindentifikasikan angka 1-3. Berbagai teknik kami coba, mulai dengan system flowchart, kartu-kartu, kontekstualisasi dan yang lain, akan tetapi semuanya tidak membuahkan hasil. Hal yang paling mengherankan, Farist menjadi sangat tidak menyukai terhadap angka, jangankan  hanya menyebut angka, disaat saya nyanyikan lagu satu-satu aku sayang ibu dia langsung memalingkan muka, sebuah tanda penolakan.

Putus asa seringkali menghantui diri saya, saya merasa kehabisan akal untuk membuatnya setidaknya ada minat kepada angka. Hingga suatu ketika, pada tahun ajaran baru 2009-2010 TK yang menjadi bagian dari yayasan pindah ke jalan Riau, sehingga lokasi yang berada di Karimata ditempati untuk Resource center dan sentra anak berkebutuhan khusus. Semenjak itu Farist memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak disaat program individual berlangsung. Saya mulai berekperimen dengan berbagai hal, mengikuti permainannya yang aktif. Memanfaatkan mainan yang dimainkannya dengan memasukkan pengenalan angka. Awalnya ia masih menolak, membuangi kartu-kartu angka 1-4 yang saya pajang di dinding gabus. Moment ini saya pakai sebagai bahan pembelajaran, “ayo Farist Bantu bunda ambil kartu ini, ini 1, 2, 3, empatnya mana ya????”.  Saya mulai menemukan gaya belajarnya, dia bukan tipe gaya belajar dengan duduk tenang, melainkan tipe belajar kinestetik, belajar dengan aktif bergerak.

Pertemuan pertama, kedua dan ketiga Farist telah memberikan trust pada saya, ia tidak lagi banyak menentang, meskipun menentang namun pada akhirnya ia patuh. Saya mulai menemukan kemajuan  yang begitu pesat, dan ketika ia mulai bisa menyelesaikan suatu pekerjaan yang saya berikan maka muncullah perilaku exceeting, kegembiraan berlebih dan ia kembali menerima tantangan selanjutnya dengan penuh semangat.

Saya mulai sadar, saya telah menemukan cara memotifasinya untuk belajar. Ada rasa haru dan ketidak percayaan dengan perubahan Farist saat ini. Ia mulai memberikan trust secara penuh pada saya, mulai berminat untuk melakukan kegiatan akademik meski saya juga harus bergerak aktif (hitung-hitung olah raga), dan yang paling membuat saya tak percaya adalah ia sudah mulai bisa mengindentfikasikan angka 1-5 selama 6 pertemuan terakhir ini, sebuah perjuangan keras yang saya lakukan bersama psikolog saya sejak + 4 bulan yang lalu. Eksperimen yang begitu berharga bagi saya dan juga psikolog saya.

Beberapa pekan yang lalu saya mengalami acomodador, titik menyerah yang menghalangi kemajuan kita entah suatu traumatik, kekalahan, kekecewaan yang menyakitkan ataupun putus asa karena apa yang diperjuangkan tak kunjung membuahkan hasil. Saya pesimis dengan pencapaian yang diperolehnya selama ini, sedemikian parahkah kondisi retardasi mental yang dialaminya sehingga untuk mengenal angka 1-3 saja dibutuhkan remedial (pengulangan)  berkali-kali. Namun ternyata anggapan saya salah, semua itu lebih dikarenakan oleh belum menemukan titik minat sebagai pendekatan pembelajaran.

Farist telah memberikan pelajaran berarti bagi saya, darinya saya belajar tentang sebuah kesabaran, ketekunan, optimisme, ilmu dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Farist yang special, dengan senyumnya yang khas dikala ia mampu membuktikan dirinya bisa menyelesaikan permainan dan tugas yang saya berikan telah membuat luluh kepenatan yang saya rasakan.

Bunda…saya bisa!!!!!”

Begitu jelas terekam dalam benak saya, senyum kebahagiaan (meski terkadang air liurnya menetes jatuh) serta sorot mata kebahagiaan dari  matanya yang lentik menunjukkan sebuah optimisme untuk terus menapaki tonggak perkembangan selanjutnya.

Farist, andai kamu bisa menyampaikan dengan bahasa bunda, kau pasti akan berkata: “Bunda, meski aku jauh tertinggal dengan teman-teman sebayaku tapi aku tetap optimis untuk menapaki tonggak perkembangan selanjutnya. Bantu aku bunda untuk menapaki tonggak perkembangan selanjutnya”. Bunda tahu Farist, sikap menentangmu selama ini merupakan pesan yang kamu berikan agar bunda bisa memahami keinginanmu, termasuk bagaimana cara bunda bisa masuk dalam duniamu. Beberapa pelajaran telah Allah berikan melalui sosok Farist yang special. Terima kasih Farist, semoga bunda mampu berproses menjadi pribadi yang utuh.

@@@


The Devil Vs The Angel (Refleksi salah satu karya Paulo Coelho)

Latifah Masruroh

Membaca novel Paulo Coelho yang berjudul The Devil and Miss Prym, saya  merasa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bertarung dalam diri saya. Karya-karya Paulo tidak hanya memberikan sebuah inspirasi tapi juga pencerahan. Novel ini menceritakan tentang seorang lelaki yang mengunjungi desa terpencil yakni Viscos. Sebuah desa dengan pemandangan indah,  dimana para penduduknya dilingkupi oleh kejujuran, kedamaian dan tanpa ada kejahatan. Tujuan lelaki asing datang ke daerah tersebut adalah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai “apakah manusia ditakdirkan jahat ataukah baik?” Hingga bertemulah dengan miss Prym seorang gadis penjaga Bar hotel dimana lelaki itu menginap. Miss Prym adalah satu-satunya gadis di desa tersebut, dimana tidak ada lagi anak-anak dan gadis yang tinggal didesa Viscos, para gadis lebih memilih untuk berada di kota.

Lelaki asing tersebut meminta miss Prym untuk memberitahukan kepada penduduk tentang permintaannya terhadap penduduk setempat. Ia (lelaki asing) menawarkan 10 batang emas yang dapat  mencukupi kebutuhan dan kemakmuran desa yang hanya berpenduduk 280 orang tersebut. 10 batang emas itu dapat menjadi milik penduduk dengan syarat dalam waktu 3 hari desa tersebut harus ada yang terbunuh, desa dimana sejak 20 tahun tidak pernah terjadi kejahatan sedikitpun. Desa tersebut dipenuhi dengan kedamaian tanpa ada permusuhan, dan dalam waktu yang singkat harus berubah dengan nuansa pembunuhan. Jika tidak, maka 10 batang emas tersebut hanya akan menjadi impian belaka. Sebuah kedilemaan tidak hanya bagi miss Prym sendiri tapi juga seluruh penduduk desa Viscos.

Penggalan cerita yang membuat saya tertarik adalah pergumulan dalam diri miss Prym antara sang iblis dan malaikat (aspek jahat dan baik dalam diri miss Pry), keduanya bertarung dengan hebat, satu sama lain saling menjatuhkan dan ingin menguasai. Sang iblis terus merasuki dan membisiki, ia terbungkus dengan suatu kecerdasan tingkat tinggi, mampu berargumen secara rasional dan bisa diterima oleh akal. Sang iblis (aspek jahat) terus menyikut malaikat dalam diri miss Prym. Pergumulan itu terus berlangsung, adakalanya mailakat menang namun iblispun tak kalah cerdiknya. Pergumulan ini tidak hanya dialami oleh miss Prym saja akan tetapi juga sang lelaki asing, bahkan sang malaikat dalam diri lelaki asing hampir saja padam, ia lebih dikuasai oleh iblis.

Benang merah  dalam cerita ini adalah mengenai pergumulan dalam diri manusia antara diri jahat dan diri yang baik. Pergumulan itu tetap terus berlangsung tanpa henti. Tiba-tiba saya teringat dengan diri saya sendiri, terkadang ada pergumulan hebat dalam diri saya. Pergumulan antara sang iblis dan malaikat. Disisi lain saya tak ingin dirasuki dan grogoti oleh pikiran dan perasaan negatif. Namun disisi lain pikiran dan perasaan negatif itu justru sering menghantam, bahkan seringkali menguasai hati. Saya berjuang untuk memenangkan malaikat dalam diri saya. Bahkan saya sering protes sama Tuhan mengapa ini seringkali terjadi. Apakah manusia itu ditakdirkan untuk demikian? dikuasi oleh keduanya, atau salah satunya?

Novel Paulo ini memberikan pencerahan bagi saya, bahwa manusia mempunyai potensi yang sama, memiliki sisi malaikat dan iblis. Seorang pastor yang dianggap sucipun  tak luput dari peperangan antara iblis dan malaikat. Sesuci apapun ia, pada hahikatnya peperangan itu tetap terus berlanjut. Penggalan dalam novel ini tentang jawaban St.Savin  yang diberikan kepada Ahab memberi suatu titik yang jelas.

Ahab sang penjahat bertekad menantang orang yang dianggap kudus (St.Savin), Ahab bertanya:

“Jika malam ini pelacur tercantik desa ini datang kemari, apakah kau akan sanggup memandangnya dan menganggapnya tidak cantik dan tidak menggoda?

“tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku” sahut St.Savin

“Dan jika aku menawarimu setumpuk kepingan uang emas agar kau meninggalkan guamu di gunung dan bergabung dengan kami, sanggupkah kau memandang emas itu dan menganggapnya batu kerikil?” Ahab kembali bertanya.

“ tidak, tapi aku bisa mengendalikan diriku”

“Dan jika kau dicari-cari oleh dua orang bersaudara, yang satu membencimu dan yang lain menganggapmu suci, sanggupkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya?”

“itu benar-benar sulit, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan memperlakukan mereka dengan sama” St. Savin kembali menjawab dengan bijak.

Jawaban bijak dari St. Savin ini mengingatkan kita pada salah satu sabda nabi ketika para sahabat datang dari perang Badar ” Saat ini kita kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, yakni perang melawan diri sendiri”.

Saya  tertegun,  dan kembali merenungi diri sendiri. Ya Tuhan… mungkin benar saat ini saya berperang, melawan diri saya sendiri. Melawan untuk memenangkan malaikat dalam diri ini, dan peperangan ini tidak akan pernah berakhir sampai akhir hayat.

@@@


TIPS MENGHADAPI ANAK TANTRUM ( Berdasarkan pengalaman pada anak berkebutuhan khusus / ABK)

Temper tantrum atau yang biasa disebut dengan tantrum seringkali terjadi pada anak. Usia 15 bulan hingga 6 tahun. Tantrum merupakan sebuah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol, umumnya disebabkan karena keinginan anak yang tidak dapat terpenuhi sehingga bentuk protes yang diberikan berupa tantrum. Ekspresi tantrumpun bermacam-macam, menangis merupakan ekspresi yang paling sering dilakukan oleh anak, selain itu terkadang disertai dengan mengamuk terhadap benda-benda sekitar, self abuse (menyakiti diri sendiri) bahkan pada orang disekitar.

Tantrum tidak hanya terjadi pada anak dengan tanpa berkebutuhan khusus (normal) saja melainkan juga pada anak berkebutuhan khusus (spt: autis, Retardasi mental, ADHD dan gangguan perkembangan lainnya). Bahkan ketika mereka tantrum, perilaku yang dimunculkan jauh lebih parah dan membahayakan dibanding dengan anak tanpa berkebutuhan khusus.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman bagaimana cara menghadapi anak yang sedang tantrum, meski pengalaman saya bergelut dengan anak berkebutuhan khusus akan tetapi hal ini juga bisa diterapkan pada anak dengan tanpa berkebutuhan khusus. Beberapa pekan yang lalu bapak M. Mahphur M.Si (dosen Fakultas Psikologi UIN MMI Malang) dalam face booknya menulis untuk berbagi bagaimana cara mengatasi anak yang sedang tantrum di Mall. Maka, tulisan ini semoga menjadi pelengkap dalam menambah pengetahuan kita tentang cara menangani anak yang tantrum.

  1. Jelaskan / komunikasikan Apa Yang Seharusnya Terjadi Pada Anak.

Seperti pada penjelasan diatas bahwa penyebab anak tantrum adalah keinginan mereka yang tidak dapat terpenuhi, maka berikan alasan secara sederhana mengapa ia tidak bisa mendapatkannya. Si Fr, Anak didik saya ditempat terapi (dia mengalami Retardasi Mental) sering tantrum pada saat hendak belajar, ia menolak untuk belajar. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengomunikasikan bahwa “saat ini dia waktunya BELAJAR”, dibantu dengan sebuah photonya atau gambar anak yang sedang belajar dengan bertuliskan BELAJAR disisi kiri. Dalam menjelaskan sesuatu kepada anak berkebutuhan khusus terlebih yang bersifat abstrak maka perlu kita jelaskan secara lebih konkret.

  1. Pastikan Semuanya Aman, Beri Waktu Untuk Menenangkan diri

Jika tantrum yang terjadi pada anak tidak membahayakan baik kepada diri sendiri, orang lain dan sekitar, maka katakan pada anak, kita akan menunggu hingga ia tenang kembali. Akan tetapi jika tantrum yang terjadi justru membahayakan, maka tempatkan anak ditempat yang aman (ruangan kosong, jika tidak ada maka ruangan yang tidak terdapat benda-benda berbahaya). Hal yang terpenting adalah menjaga anak agar tidak menyakiti diri sendiri dan kita.

  1. Abaikan (Ignore)

Membiarkan dan tidak ada kontak mata pada saat anak tantrum menjadi hal yang penting, karena pada saat itu anak mencari perhatian kita. Pada anak berkebutuhan khususpun ketika mereka tantrum, maka mereka mencari perhatian dari siapapun. Pada saat membiarkan anak ini, hal yang tak kalah penting adalah ekspresi kita setenang mungkin, dan jika emosi kita pada saat itu sedang labil, tarik nafas berusahalah untuk menenangkan diri terlebih dahulu, aliran emosi kita sangat mempengaruhi terhadap anak dan sikap kita kepada mereka.

  1. Jika perilaku Tantrum Tidak Selesai-Selesai, Berikan Pelukan Beruang

Pelukan beruang merupakan pelukan erat yang membuat mereka merasa nyaman dan terlindungi. Pelukan beruang ini tidak hanya berupa pelukan biasa, melainkan pelukan yang mengalirkan kekuatan dan emosi positif kita. Beri sebuah isyarat bahwa kita memahaminya, jika perlu bisikkan ditelinganya bahwa kita memahami apa yang membuatnya marah atau sedih, satu hal lagi, doa. Pada saat memeluknya, berdoalah dengan hikmat dalam hati, pasrahkan semua pada yang Kuasa, meminta bantuan-Nya untuk menenangkan anak. Pengalaman saya ketika mereka (anak tantrum) dipeluk dengan pelukan beruang disertai dengan doa yang hikmat / khusyuk, seperti ada kekuatan yang luar biasa dalam diri saya yang teralirkan, apalagi ketika anak yang saya terapi pada saat tantrum seringkali menyakiti diri sendiri bahkan pada saya. Pelukan beruang dan doa ini cukup ampuh, durasi waktu untuk tenang tergantung kepada penyebab tantrum dan seberapa besar emosi yang meluap.

Tulisan ini semoga mejadi bahan referensi bagi siapapun yang membaca dalam mengahadapi anak yang tantrum terlebih pada anak berkebutuhan khusus. Dari hasil analisis pengalaman yang saya alami, kondisi emosi kita sangat berpengaruh terhadap cara kita mengahadapi mereka yang sedang tantrum. Karena emosi adalah energi yang menular kepada orang-orang sekitar. Semoga bermanfaat!!!


Perjuangan Yang Membawa Anugerah

Barangkali inilah puncak yang ditunggu-tunggu selama kurang lebih 3,5 tahun bergelut di dunia kampus, proses pembuatan skripsi. Aku tidak tahu apakah ini merupakan tahap perjalanan yang ditunggu-tunggu selama ini oleh teman-teman ataukah malah sebaliknya, sebuah tahap proses yang cukup ditakuti. Proses yang ditunggu-tunngu oleh sebagian teman-temanku terutama teman –teman perempuanku. Mengapa demikian? Karena kulihat mereka begitu antusias dalam memikirkan judul yang akan mereka ajukan, begitu semangatnya mencari referensi, Tanya sana sini untuk membuat proposal skripsi. Mereka menanti-nanti siapa gerangan yang akan menjadi dosen pembimbing. Namun disisi lain, tidak sedikit dari teman-temanku yang ogah-ogahan untuk memikirkan yang namanya skripsi, terkadang mereka semangat untuk membuat proposal saja namun setelah itu mereka membiarkan skripsi mereka terkatung-katung. Kejadian seperti ini sering kulihat pada teman-temanku yang lelaki, entah apa yang menjadi motivasi mereka sehingga tidak mau cepat-cepat untuk menyelesaikan skripsi, tapi selentingan kudengar salah satu alasan mereka adalah takut menghadapi pasca kelulusan, khawatir jangan-jangan menjadi pengangguran.

Dan kini, akupun mengalaminya. Sengaja aku mengikuti seminar proposal gelombang yang kedua, dengan alasan pada gelombang pertama ketika banyak teman-temanku yang begitu antusias untuk membuat proposal skripsi aku malah dipusingkan dengan laporan penelitianku di lemlit, maklum ini adalah pengalaman pertamaku melakukan penelitian dan lolos seleksi di lemlit. Tidak tanggung-tanggung, penelitian kuantitatif, pengalaman pertama setelah sekian lama tidak mempelajari kembali analisa kuantitatif. Benar-benar membuatku pusing tujuh keliling, ditambah lagi terdesak oleh deadline yang harus selesai dalam waktu 10 hari, tidak hanya itu laporan PKL yang belum kelar, ditambah lagi urusan di komsariat dan UKM. Nyaris pada waktu itu pikiranku buntu untuk menemukan sebuah judul penelitian, karena bagiku kuingin tidak hanya sekedar skripsi tapi lebih dari itu, sebuah obsesi untuk mendesain skripsiku dengan desain eksperimen. Bukan hanya itu tapi juga sebuah mimpi untuk menjadikannya sebuah buku. Idealis memang, tapi aku benar-benar ingin untuk membuat skripsiku setara dengan perfect. Maka kutunda sejenak untuk menyelesaikan semua sambil menemukan sebuah judul yang cocok.

Awal tahun 2008 aku mendapat musibah, pas pada hari tahun baru 2008 Hpku hilang di Selorejo setelah selesai Out bond kemah kader gus dan ning LKP2M, ini adalah yang keempat kalinya aku kehilangan HP. Awal tahun inipun aku mulai sibuk mencari judul yang pas dan menurutku ideal. Ku coba ke perpustakaan pusat dan fakultas, tapi hasilnya nihil, belum ada ide. Buntu, padahal aku mesti cepat-cepat menemukan judul dan membuat proposal melihat deadline waktu yang tidak terlalu lama. Lama ku cari, dan pada saat aku ke Toga Mas buku Tony Buzan menjadi titik terang bagiku. Kusambar buku berjudul Mind Mapping, menarik jika dikaji, dan tidak boleh tidak desainnya lebih bagus dengan eksperimen. Eureka!!! Aku mulai bisa tersenyum lega, tak masalah meski penelitiaku dibidang pendidikan. Sejak saat itu aku mulai semangat mencari referensi, mulai di perpustakaan pusat dan fakultas hingga downlound di ienternet. Aku mulai semnagat, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Mimpiku adalah kuingin hasil skrpsi ini menjadi sebuah buku, seperti milik Masykur. I’m Ready!!!

Titik Awal dari sebuah Aral dan Rintangan

Konon, kata teman-teman dan orang-orang yang sudah berpengalaman menggarap skripsi mengatakan bahwa pasti akan ada cobaan tatkala kita mengerjakan skripsi, entah dari diri sendiri, orang lain, dosen atau bahkan skripsi itu sendiri. Aku tidak terlalu mempedulikan asumsi itu, bagiku apapun yang terjadi Go Ahead, maju terus tanpa harus berputus asa.

Belum kuceritakan kawan, diakhir tahun 2007 aku mengikuti LKK Nasional yang diadakan oleh Kohati cabang Malang. Kawan-kawan Kohati se-Indonesiapun berkumpul disitu, disana aku bertemu dan kenal dengan 2 kawan dari Palu. Tidak hanya itu iapun ikut denganku kurang lebih selama seminggu, alasannya kekurangan dana untuk pulang dan masih berusaha mencari. Dari dulu aku tak pernah berprasangka buruk terhadap orang yang kuanggap teman, termasuk mereka. Aku percaya mereka baik dan tidak ada niatan untuk menipu. Hingga suatu hari mereka ingin memesan pin seperti pin yang dibuat oleh komisariat Psikologi. Merekapun memesan dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung 150 buah dengan total harga Rp 1.175.000,- jumlah yang tidak sedikit. Karena kutahu mereka tidak mempunyai uang maka tak ada kecurigaan sedikitpun mereka bakal menipuku, transaksi kami tak ada serupiahpun uang muka dalam hal ini. Selesai pembuatan pin aku langsung mengirim barang itu, mereka berjanji seminggu setelah pin diterima akan mentransfer uang ke rekeningku, dan akupun percaya itu. Lama berselang, satu minggu tiba kutagih mereka mengelak. Dua minggu mereka menghindar dan akupun kelimpungan untuk menutupi keuangan sebesar itu. Bingung, untuk berkomunikasi dengan mereka aku tak memiliki HP, yang kulakukan waktu itu hanya bisa gali lobang tutup lobang. Dua ujian telah kualami.

Pusing memikirkan keuangan untuk menutupi pembayaran uang pin, waktu itu akupun pusing mencari referensi untuk pembuatan proposal. Satu aral muncul kembali, Komputerku rewel, Lengkap sudah ujianku. Dan ternyata ada komponen yang harus diperbaiki yang artinya butuh uang, oh my God….. waktu itu aku bertekad untuk tidak memberitahukan kepada orang rumah tentang ini semua terutama masalah uang 1 juta lebih, yang kulakukan adalah memotong uang kiriman untuk menutupi hutang, sehingga harus lebih ramping lagi dalam mengeluarkan uang.

Ada Sejumput Anugerah diantara Aral yang merintang

Aku mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman, selalu ada ujian pada setiap penyelesaian skripsi. Dan akupun tak bisa menerka ujian apalagi yang akan kuhadapi, tapi yang jelas aku masih tetap bermimpi untuk membukukan skripsiku. Untuk membuktikan itu terkadang aku tak segan-segan menceritakan pada teman terdekatku. Dengan bersusah payah dengan komputer yang seringkali rewel akhirnya proposal skripsiku kelar dengan judul Efektifitas Mind Mapping Terhadap Keberhasilan Belajar. Dengan diliputi kemenangan kukumpulkan proposal itu ke fakultas. Plong rasanya ketika pekerjaan kelar.

Siang itu dibulan Februari 2008, setelah aku dari kampus mengumpulkan proposal, selang beberapa lama Lely calling.

Hallo….

Iffah..dimana???

Dikos, da apa Lely???

Bagai mimpi, Lely mengajakku ke Yogya. Senang bercampur bingung waktu itu, aku senang karena Lely mengajakku ke Yogya, satu hal yang sangat kuimpikan disisi lain. Jogja!!! Yang kubayangkan adalah ekspresi pada salah satu iklan di telivisi yang mengira mereka mendapat tiket liburan ke Jogja. Namun disisi lain aku bingung, uangku tinggal beberapa ribu dan untuk ke Jogja sangu 50 ribu tidaklah cukup meski ongkos transport ditanggung. Terbayang olehku adalah buku-buku yang murah, kapan lagi aku bisa hunting buku disana.

Tapi lely, saya g punya uang!!!

Tenang…ayolah yang penting jalan-jalan.. bla..bla..bla…

Lely menjelaskan semuanya dan mengatakan padaku tak perlu risau dengan masalah uang. Aku hanya bisa bernafas dalam-dalam, selesai pembicaraan dengan Lely…. Jogya!!!! Kuceritakan pada Zoem (teman sekamarku) kalau Lely mengajakku ke Jogja, bagai mimpi tapi inilah kenyataan. Kucubit diriku, terasa sakit. Dan Zoem bersedia meminjamiku uang.

Belum lengkap kegembiraan yang kurasakan, ditengah perjalanan menuju rumah Lely, ia memberikju uang. “apa ini Lely??”

dari mas.. buat beli buku katanya”. Beberapa ratus ribu, bukan nilai yang kecil bagiku. Tuhan.. kejutan apalagi yang Kau berikan padaku. Diperjalanan aku berfikir, Tuhan tengah memberiku sebuah hadiah ditengah ujian yang kualami. Kucoba untuk menghitung secara kasar mulai dari ongkos transportasi pulang pergi Malang-Jogya, uang makan, menginap dan belanja semua itu tidak cukup 400 ribu. Ya Allah terima kasih atas hadiah ini.

Jogja I’m Coming!!

Bagai mimpi rasanya menghirup udara Yogyakarta dipagi-pagi buta pada hari minggu. Kami sampai ke Jogja pada waktu subuh langsung menuju kontrakan para dosen psikologi yang S3 di Jogja. Sekali lagi kucubit lenganku, nyata…bukan mimpi. Kami berdelapan bersama 2 dosen beserta istri, anak dan adik-adiknya. Acara ke Jogya ini benar-benar acara jalan-jalan. Bayangkan saja minggu pagi kita ke pasar minggu UGM, perjalanan dilanjutkan ke Malioboro dan ke Shopping hingga kelelahan. Senin Pagi kita ke Parangtritis dan Depok sampai puas makan sea Food.

Siang itu, ketika kami semua kecapaian habis dari Parangtritis, aku dan Lely tidur dengan nyenyaknya. Sekitar jam 14.30 nomor telephon dengan kode Malang muncul dilayar Hpku. Dengan penasaran kuanggkat panggilan itu. “ Hallo…”

Aneh, mimpi apa tadi saat aku tidur siang. Tiba-tiba dari Bank Niaga menanyakan nama ibu kandungku. Katanya saya dibuatkan rekening baru, menang??? Ah pusing. Kejutan apalagi Tuhan yang akan Engkau berikan padaku????

Satu Kejutan Kembali Menanti..

Pulang dari Jogja, jangan dikira aku datang dengan tangan kosong, berbagai buah tangan kubawa. Mulai dari souvenir khas Jogya untuk teman-teman, baju-baju batik, pia pathok hingga buku dengan jumlah banyak dalam ukuranku. Dan tahukah kawan, Uang yang kupinjam dari teman kamarku hanya terpakai 50 ribu saja. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang akan aku ingkari.. Terima kasih Tuhan atas semua nikmat yang Kau berikan.

Aku hampir lupa, esok harinya pada selasa siang aku diundang dalam acara Dies Natalis Rumah Baca cerdas milik bapak Malik Fajar, sudah dua kali aku ditelephon diharapkan untuk hadir, menurutku aneh. Maka hari itu si Kingkong pun bersedia untuk mengantarku ke Perum Permata Jingga. Sesampainya disana, cukup kaget sebenarnya, sederhana tapi eksklusif. Dan tahukah kawan, ketika kulirik si Kingkong dengan pakaiannya yang “belel” sangat kontras dengan para tamu undangan yang lain. Tapi dasar si Kingkong, dengan PD habis iapun masuk kedalam, aku hanya bisa tersenyum tipis. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian ia sms. “Bu, aku keluar dulu…merasa tak nyaman saja berada disini, pengen cari tempat yang lain. Hub. Aku kalau sudah selesai entar aku jemput, Ok”

Akupun mengikuti prosesi acara ini hingga tuntas. Tibalah pengumuman pemenang lomba-lomba. Benar, aku juara III lomba menulis essai. Dan tahukah kawan, apa hadiah utamanya?? Tabungan Bank Niaga senilai 1 juta rupiah…. Jadi??? Telphon siang hari sewaktu di Jogya???? Lagi-lagi kucubit lenganku… sakit!!! Bukan mimpi, ini nyata. Cepat-cepat ku sms King. ” King aku juara III lomba nulis essai. Cepet kesini aku butuh bantuanmu untuk cari photo copyan.. he..” tak ada persiapan apapun, dan ternyata dibutuhkan photo copy KTP. Hah… sungguh sulit mencari tempat Photo Copy dikawasan elit seperti ini. Akhirnya, aku jalan muter-muter diluar kompleks mencari tempat Photo Copy. Dengan perjuangan keras akhirnya aku menemukan jasa Photo Copy. Setelah itu akupun mengurusi yang lain ditemani oleh Kingkong.

Aku berfikir, satu juta???? Jangan-jangan Tuhan mengganti uangku yang satu juta untuk melunasi pembayaran pin??? Bahkan jika kupikir kembali Tuhan menggantinya lebih dari itu. Jalan-jalan ke Jogja yang mungkin jika menggunakan uang sendiri maka akan menghabiskan lebih dari 400 ribu. Allah… lagi-lagi nikmat Tuhan yang mana yang akan kuingkari???

@@@

Kembali Menghadapi Tempaan Diri

Pengumuman pembagian dosen pembimbingpun tiba. Aku kebagian pak Aziz bersama Bunyani. Yup, dosen pembimbing yang selama ini kuharapkan. Aku semakin optimis dengan ambisiku terhadap skripsi. Ku yakin pak Aziz bakal benar-benar mendukung terhadap judul dan desain penelitianku.

Hari pertama menghadap Pak Aziz, dengan beberapa komentar terhadap proposalku, merevisi sana sini. Tapi tidak terlalu sulit untuk bisa mengikuti seminar proposal, namun ada satu kendala.. untuk beberapa bulan ini pak Aziz disibukkan dengan desertasinya. Pufff.. tahukah kawan, untuk bisa bertemu dengan beliau seringkali aku seperti kucing-kucingan. Sulit sekali untuk bisa bertemu secara leluasa dengan beliau. Harus Janjian terlebih dahulu, dan datang sesuai waktu yang telah disepakati. Telat lima menit, sudah tidak ada dan ketika bertemupun sangat tidak memuaskan untuk berkonsultasi, terkesan tergesa-gesa. Satu ujian kembali kuhadapi.

Hingga pasca seminar belum ada tanda-tanda signifikan yang membuatku shock berat. Mungkin hanya revisi kajian teori, perubahan variable terikat, penulisan, desain, belum terlalu menyimpang dengan topik inti. Hal ini kuanggap wajar-wajar saja, dan akupun tidak keberatan untuk mengusahakan dalam perbaikan ini. Hingga suatu hari, konsultasi yang kesekian.

Coba anda kaji kembali proposal anda ini. Saya rasa kajian teori anda kurang kuat dan saya masih bimbang dengan desain eksperimen anda.

Maksudnya pak???? “ Kutanyakan arah pembicaraan pak Aziz.

Bagaimana kalau anda ganti judul saja!!??” pernyataan Pak Aziz nyaris bukan sebuah tawaran tapi lebih kepada anjuran yang mewajibkan.

Dari segi apanya Pak yang kurang kuat, apa tidak bisa dipertahankan??” aku mencoba untuk mempertahankan skripsiku.

begini..bla…bla..blaa..” Pak Aziz menjabarkan secara panjang lebar, dan aku mulai bimbang terhadap proposal penelitianku. Mengapa kemaren sewaktu seminar Pak Aziz sangat mendukung penelitian ini, tapi sekarang??? justru menyuruhku untuk ganti judul?? My God!!!

Aku mulai bimbang dengan karyaku, ketika di kos kubolak-balik coretan-coretan yang dari Pak Aziz. Bingung harus mengganti dengan judul apa, bukan hanya itu saja tapi aku sudah kadung menyepakati dengan guru Biologi MTs Arjasa, dan pihak sanapun sudah siap. Tapi bagaimanapun juga aku masih tetap optimis untuk melakukan penelitian eksperimen. Itu mimpiku, jujur semenjak proposal penelitianku lolos seleksi di Lemlit satu demi satu teman-teman mempercayaiku untuk menjadi tempat bertanya seputar penelitian. Kepercayaan itu bertambah kuat katika tugas akhir mata kuliah Penyusunan Skala Psikologis, mulai pagi hingga jam 8 malam teman-teman tidak henti-hentinya datang silih berganti untuk berkonsultasi. Tidak hanya pada pagi hari tapi menjelang ujian tulispun masih ada yang berkonsultasi. Aku heran kenapa mereka percaya kepadaku, dan akupun semenjak mendapat kepercayaan itu bertekad untuk mendedikasikan diri dibidang penelitian. Aku merasa membawa nama baik UKM LKP2M, maka kuncinya sebenarnya adalah teman-teman kalah start denganku dalam mempelajari metode penelitian. Pada hakikatnya akupun seringkali bingung ketika dihadapi dengan salah satu metode penelitian, dan rasa gengsi telah memicuku untuk terus mempelajari hingga aku paham, akupun rela berkorban untuk mengumpulkan bahan-bahan mengenai penelitian, maka tak heran jika kemudian aku banyak tahu tentang penulis metode penelitian, tak heran pula terkadang hafal di buku mana satu topik dijelaskan lebih mendetail. Ketika teman-teman bertanya tentang satu masalah penelitian dan aku juga belum mengetahui maka jawaban yang kuberikan “coba kamu baca bukunya ini dan itu”. Dan aku juga tak mau kalah untuk mencari refernsi tentang apa yang ditanyakan oleh teman-teman. Sebuah trik yang selama ini sebenarnya tidak disadari oleh teman-teman, mereka cenderung menganggapku bisa padahal dibalik itu semua aku juga belajar jungkir balik mengenai penelitian terutama analisa kuantitatif. Aku mesti berterima kasih atas kepercayaan teman-teman, karena dengan kepercayaan mereka aku terpacu untuk belajar lebih keras tentang penelitian. Efeknya, akupun tak ingin kalah dengan skripsi yang kubuat, kuingin skripsi ini lebih perfect dibanding skripsi yang lain dan berupa eksperimen.

Rasa gengsi semakin mendorongku untuk membuat skripsi lebih sempurna. Kupikir-pikir sekali lagi proposalku mengenai Mind Mapping. Beberapakali kucoba pertahankan didepan pak Aziz namun lagi-lagi beliau menyangsikan dari segi kajian teori dan desain eksperimenku. Puff… lelah sebenarnya, karena ini bukan pekerjaann yang mudah. Mencari referensi juga membutuhkan biaya dan tenaga, jangan dikira sejak pembuatan proposal aku rajin ke internet untuk mencari bahan. Jika variable bebasnya diubah, otomatis aku merubah semuanya. Karena sebenarnya topik yang sangat kuminati ada pada variable bebas bukan variable terikatnya yang mengenai prestasi belajar. Kupikir-pikir lagi, pusing!!!!

Satu minggu aku terkatung-katung dengan judul yang diragukan dan belum mendapatkan judul alternative. Topik apa yang mesti kubahas??? Stress dengan itu semua, kubiarkan skripsi terkatung-katung tanpa berkonsultasi selama seminggu. Aku membiarkan diriku berlebur bersama teman-teman UKM yang mengadakan Kemah Kader dan ikut Lely ke Sidowayah selama beberapa hari. Cukup tertekan juga ketika teman-teman UKM, komisariat dan yang lain menanyakan sejauh mana penyelesaian skripsiku. Pertanyaan itu semakin membuatku tertekan, dan jawaban yang kuberikan adalah sampai bab niat. Niat untuk merubah judul dan semuanya.

Sekembalinya dari Ponorogo dan coban talun, aku kembali merasa pusing melihat buku-buku yang bertumpuk dan bertambah stress melihat hasil coretan dari pak Aziz. Aduh, aku bingung dan alisku seringkali menyatu ketika melihat itu semua. Zoem hanya bisa tersenyum dan mensupportku untuk bersabar. Memang benar, semakin kupaksa untuk berfikir menemukan alaternatif judul atau minimal topik maka aku semakin merasa buntu, karena otakku berada pada gelombang Teta.

@@@

Insight Datang Pada Waktu Otak Berada Pada Gelombang Alpha

Sore itu, aku lagi bersantai dengan Zoem dan Ita. Kami bertiga ketika berada dikos seperti tak bisa dipisah dan tidak ada rahasia diantara kita. Rahasiaku adalah rahasia mereka dan rahasia mereka adalah rahasiaku juga. Disaat kami sedang bersantai, tiba-tiba pikiranku terasa terbuka. Ide-ide segar serasa bermunculan termasuk beberapa alternative topik penelitianku. Eureka!!!! Maka sore itu aku aku telphon Lely.

Hallo..Assalamu’alaikum!!

Da apa fah???

Lely…bla..bla..bla.. kuutarakan permasalahan mengenai skripsiku dan ide judul eksperimenku yang baru. Intinya topik penelitian itu sama dengan penelitian Lely, tentang Pendidikan nilai. Bedanya Lely dengan pendekatan kualitatif maka aku akan mencoba mendesain dengan pendekatan eksperimen dengan topic penanaman pendidikan nilai melalui dongeng. Dari segi topik kurasa cukup menarik. Lelypun menyetujui topik penelitiannnya juga dipakai olehku, toh iapun sadah selesai. Ia sepakat untuk meminjamkan buku-bukunya kepadaku. Trims Tuhan, aku semakin percaya bahwa selalu ada jalan dalam setiap kesulitan.

Aku mulai semangat dan merasa mantap. Beberapa hari kemudian aku ke rumah Lely untuk mengambil buku-buku referensinya. Keesokan harinya, kusms pak Aziz untuk kembali berkonsultasi. Beliau menyepakati untuk bertemu jam 08.30 di gedung B 202. Seperti biasa, pertemuan kamipun seperti kucing-kucingan, telat beberapa menit maka pak Azizpun sudah pergi. Di ruang B202, dengan gayanya yang khas pak Aziz mendengarkan judul penelitian yang kuajukan. Tetap seperti diburu waktu, beliau menjelaskan tentang keberatannya terhadap judulku. Ku coba untuk mempertahankannya, tapi tetap saja pak Aziz keberatan. Pertemuan yang sangat singkat, tapi membuatku menjadi ragu.

Dengan lunglai aku berjalan keluar dari ruangan, sambil berfikir tentang judul yang tepat. Sampai dikos, aku kembali melihat buku Lely terutama buku seri yang berkaitan dengan Pendidikan Nilai. Sangat sayang sekali jika aku kembali melepaskan topik ini, kupikir ini menarik selain itu juga buku refernsinya juga sudah cukup lengkap. Aku harus mempertahankan topik ini, kucari akal tapi hasilnya buntu. Kubiarkan lagi, aku ingat Insight aka hadir ketika otak dalam keadaan Alpha. Kubiarkan terlebih dahulu. Menyuci adalah agendaku pagi ini. Dan ditengah-tengah aku mencuci, tiba-tiba muncul insight.

Benar, untung saja sebelumnya aku membaca mengenai macam-macam desain penelitian dan mendapat informasi dari Lely mengenai penelitian multikasus. Selesai mencuci, kudesain topik pendidikan nilai menjadi beberapa desain penelitian. Mulai dari eksperimen, eksperirm kuasi, kuantitatif, kualitatif, pustaka dan studi multi kasus. Kurang lebih ada 7 desain penelitian yang kubuat. Dengan semangat lagi kuberanikan diri untuk mengkonsultasikan beberapa desain ini ke pak Aziz.

@@@

Hari ini, seperti biasa aku menunggu Pak Aziz di gedung B, menunggu hingga beliau selesai mengajar. Dan lagi-lagi seperti biasa, dengan gayanya yang khas seperti dikejar waktu, beliau mulai mepertimbangkan beberapa desain yang kuajukan. Namun, beliau mewarning agar aku tidak melakukan penelitian pustaka, alasannya karena aku butuh praktek. Rekomendasi beliau adalah menentukan dan memikirkan kembali mengenai subjek penelitiannya.

Kupikirkan kembali lebih matang mengenai desain-desain yang kubuat, termasuk subjek penelitiannya. Keesokan harinyapun kuajukan kembali desain yang telah kupilih. Pak Aziz menolak desain studi multi kasusku, alasan beliau studi multi kasus merupakan studi dengan great yang lebih tinggi dan biasa digunakan pada penelitian tesis atau disertasi. Dengan penelitian ini aku mesti kerja keras dan waktu yang cukup lama. Pak Aziz mulai melirik kembali desain penelitianku yang pertama mengenai Penanaman Moral melalui dongeng, tapi dengan syarat subjek penelitian yang kupakai adalah anak berusia sekitar 9 hingga 12 tahun, alasannya karena usia subjek seperti itu sudah bisa untuk diukur. Aku merasa mulai ada titik terang mengenai status skripsiku. Kuyakinkan kembali dengan bertanya pada Pak Aziz sekali lagi apakah judul itu telah di ACC untuk dibuat proposal, beliaupun mengiyakan. Mulai ada kejelasan…. Trima Kasih Tuhan.

@@@

Aku mulai semangat kembali untuk membuat proposal skripsi, meski itu harus mengulang dari nol. Tak mengapa, ambisiku masih tetap untuk melakukan Eksperiment Research. Aku merasa sekalian mencebur dan mencintai penelitian, maka sekalian basah. Sesulit apapun aku tidak merasakan hal itu sebagai kesulitan, justru sebgai tantangan tersendiri. Ketika jenuh dan merasa lelah, nge-game adalah pelampiasanku bersama Ita dan Zoem.

Sejak ada kejelasan tentang judul yang telah di ACC, aku merasa kembali memiliki semangat baru. Mulai rajin lagi ke perpustakaan pusat dan fakultas, bahkan juga ke internet. Bab I, Bab II dan juga Bab III telah kuselesaikan, dan saatnya untuk konsultasi kembali. Jangan dikira kawan, dalam pembuatan proposal ini tak ada kendala yang menghalangi. Mulai dari hal-hal teknis, entah itu komputer yang hank dan Printer yang selalu rewel. Sepertinya sepele, namun kendala-kendala teknis ini sering membuatku pusing. Bagimana tidak, ketika aku diburu untuk cepat ngeprint karena untuk bertemu dengan Pak Aziz sangat sulit sekali, printerku selalu rewel. Benar-benar melelahkan terkadang. Kusms Pak aziz untuk berkonsultasi, balasan dari beliau kuterima ”Ok, besok pagi jam 7 saya tunggu dikantor, cepet ya karena setelah itu saya keluar”. Busyet, beginilah ketika memiliki dosen pembimbing sibuker.

Jam 7 Pas, tanpa mandi hanya cuci muka aku tergesa-gesa menuju ke kampus. Sejak tadi lagi-lagi printerku rewel, beruntung kos dan fakultasku tidak terlalu jauh. Seperti dikejar-kejar aku berangkat ke Fakultas Psikologi. Masih cukup sepi, hanya office Boy yang sudah stand by. Tak lama kemudian aku bertemu Pak Aziz sudah siap-siap untuk pulang, oh my God…

Oh ya, ayo….

Bla..bla…bla…

Coretan sana sini, tak masalah selama belum disuruh untuk mengganti judul lagi. Hanya beberapa menit, lagi-lagi aku beruntung kosku dekat dengan kampus, bagaimana jika jauh dari kampus??? Bisa dibayangkan. Apalagi ketika harus naik angkot…

Beberapa kali direvisi, mulai dari bab I, Bab II dan Bab III sampai ke desain eksperimen. Permasalahan yang selalu diberatkan oleh pak Aziz adalah mengenai desain eksperimen yang kubuat, menurut beliau jauh dari yang diidealkan. Kuminta saran dari beliau. Hingga suatu hari, pada konsultasi yang kesekian. “saya masih ragu dengan konsep anda ini, e.. bagaimana kalau variablenya diganti saja??? Sepertinya ini terlalu luas. Nilai yang seperti apa? Dan bagaimana kita bisa mengukur nilai itu??”

trus pak, apakah…. Bla..bla..bla…” aku kembali mencoba mempertahankan judul skripsiku. Harus kupertahankan, aku sudah bekerja keras untuk ini. Yang kubayangkan adalah mengonsep kembali dari nol, seperti yang kedua…. Tidak!!!!

ya, tapi… bla..bla..bla… saya sarankan anda ganti variable bebasnya. Eksperimen itu harus benar-benar fokus dan bisa diukur, karena paradigmanya adalah positivis”

Aku kembali pulang dengan lunglai. Yang ada dalam pikiranku adalah mengulang kembali untuk mengonsep dan aku belum memiliki ide untuk alternative judul yang lain. Sesampainya dikos, hampir saja aku menangis. Tapi sudahlah, kembali kubuka-buka buku seri mengenai pendidikan nilai. Huh… apa kira-kira yang pas sehingga tidak mencari referensi yang jauh melenceng dari judul semula. Mencari referensi sepertinya sederhana, namun bagiku lebih sulit daripada mengonsep bab II. Perlu menghimpun bahan-bahan yang tercecer. Sambil membuka-buka buku, salah satu sub judul dalam buku pendidikan nilai tersebut tiba-tiba menarik perhatianku. Penanaman nilai-nilai Moral. Yup, mulai ada pencerahan, eureka!!!! Ku sms pak Aziz.

Ass. Bpk, bagaimana kalo varibel bebasnya saya ganti dengan nilai-nilai moral, menggunakan teori Borba? Trima kasih.

Bismillah, semoga disetujui.

Ok, ga apa2. Asalkan teorinya kuat

Alhamdulilah, ada pencerahan. Aku kembali bersemangat untuk membuat proposal. Tidak terlalu berat saya rasa, karena tidak harus merombak secara keseluruhan. Tujuanku adalah perpustakaan pusat untuk mencari referensi mengenai Moralitas. Aku ingat di buku perkembangan dibahas mengenai perkembangan Moral anak. Tuhan memberikan jalan padaku, dua buku Santrock dan William membahas tentang moral lebih mendetail tapi versi bahas Inggris, tak masalah bagiku.

Aku mulai rajin menerjemahkan referensi yang berbahasa Inggris, cukup berat tapi tidak menjadi persoalan yang berarti. Asal jangan ganti judul lagi, he..he… aku mulai membuat kembali Bab I mengenai latar belakang masalah, bab II menambah kajian mengenai moral. Bab II tidak jauh berbeda saya rasa. Tidak terlalu lama aku membuat proposal yang ketiga ini, kurang lebih tiga hari, Sudah jadi dan tinggal diprint. Jangan dikira kawan, si rewel printer tetap saja dengan penyakitnya.

Konsultasi dengan judul yang baru lagi. Lagi-lagi banyak corat coret, bagiku itu hal yang biasa, asal jangan kembali disuruh untuk ganti judul. Beberapa konsultasi banyak coretan, entah dari penulisan, kajian yang perlu diperdalam lagi dan sebagainya.

Aku mulai bangga dengan judulku ini, ketika pak Mahgfur menanyakan judul skripsiku aku menjawab dengan penuh pasti. Beliaupun menanggapi dengan respon yang baik, memberikan masukan tentang dongeng dan Moral. Beliaupun mendukung untuk menindak lanjuti lebih serius lagi, kalau bisa tidak hanay sekedar skripsi. Hingga suatu hari..

saya masih merasa keberatan dengan judul anda ini.

Tapi pak… aku coba mempertahankan kembali, aku tak ingin kembali mengulang dari nol.

Tapi coba dulu anda perbaiki desain eksperimennya. Pak Aziz kembali memberikan secercah harapan bagiku.

Kuperbaiki desain eksperimennya, permasalahannya selalu disini. Bahkan modul mbak Lindapun kulihat. Selesai semua, kuberanikan diri untuk berkonsultasi kembali. Seperti biasa, ditinggal dan ambil keesokan harinya atau beberapa hari kemudian.

Penolakan Yang kesekian

Beberapa hari kemudian, kuambil hasil revisian dari Pak aziz. Kubaca komentar di cover depan.

Dari segi orisinilitas sudah Cukup Bagus, akan tetapi cukup berat jika dikerjakan di jenjang S1. Saya Sarankan jika ingin lebih Cepat jangan menggunakan Eksperimen.

Shock, setelah membaca tulisan itu. Tuhan…. Aku tak bisa berkata apa-apa. Waktu itu pak Azziz tak ada. Bingung, apa yang mesti kulakukan. Dadaku terasa dihimpit, yang terbayang dalam pikiranku adalah aku harus mengulang untuk mengonsep dari nol, bukan hanya itu pekerjaan yang cukup berat bagiku adalah mencari referensi, mengumpulkan bahan-bahan yang tercecer dan harus mencari terlebih dahulu. Aku benar-benar merasa lelah, bagaimana tidak kawan, ini adalah judul ketiga yang sudah ditolak dan ditolaknyapun pada saat sudah mendekati sempurna. Dan kini aku mesti membuat proposal lagi dengan saran jangan eksperimen, so???? benar-benar dari nol. Belum lagi aku sudah sepakat dengan tempat penelitianku di TPA Nurul Iman tempat Pak Qomar mengabdi. Tidak hanya itu, hal yang membuatku tambah sesak adalah rongrongan dari rumah terutama mbak Hel untuk cepat-cepat menyelasaikan skripsi. Ketraumaan pada perjalanan skripsi chak Rofik yang tidak kelar-kelar membuat mbak Hel over wanti-wanti bahkan menurutku cenderung menekan, sepertinya tak ada kepercayaan yang diberikan kepadaku. Tuhan… dadaku benar-benar sesak. Aku benar-benar lunglai waktu itu, sampai kapan aku terkatung-katung dengan proposal.

Ke perpustakaan pusat adalah tujuanku. Sesampainya dilantai tiga, aku bingung buku apa yang mesti kucari. Tak ada tujuan yang jelas, untuk menemukan judul baru nyaris buntu. Buku yang berak-rak tidak menarik perhatianku. Aku hanya bisa menagis dibalik rak-rak buku yang sepi pengunjung, menangis dan terus menangis. Merasa puas setelah menangis, aku keluar dari perpustakaan, tak peduli mataku sembab atau tidak. Aku kembali menuju ke fakultas, kali ini tujuanku perpustakaan fakultas, namun aku tak tahu apa yang kucari. Diperpus fakultas aku bertemu Dian, Dian menyapa dan tanpa terasa aku kembali menangis dihadapan Dian. “Sudah ifa yang sabar…”. Lagi-lagi di perpustakaan fakultas hanya datang untuk menangis. Setelah itu keluar dan beranjak untuk pulang.

Ditangga aku bertemu Hanum. Hanum… lagi-lagi aku menangis didepan Hanum dan kembali mengalir cerita tentang penolakan proposal yang ketiga. Selesai bercakap-cakap dengan Hanum, didepan ruang administrasi aku bertemu dengan teman-teman lagi duduk santai. Tak peduli mataku sembab, aku bergabung dengan mereka. Bernostalgia masa-masa kuliah terutama dengan teman-teman yang sudah lulus terlebih dahulu. Bertemu dengan Novi dan menanyakan skripsiku, lagi-lagi aku tak bisa membendung air mataku meski hanya sesaat.

Sesampainya dikos aku tak bisa berfikir lagi, sebagai pelampiasannya adalah tidur. Tidur merupakan pelampiasan yang cukup efektif bagiku. Dengan tidur dapat melupakan semua pikiran yang membebani, minimal lebih ringan pada saat bangun tidur. Zoem dan Ita hanya bisa berempati padaku. Bangun tidur, aku merasa lebih baik dan tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Aku berfikir besok aku harus ke pak Aziz untuk bernegosiasi kembali.

Di kampus aku mencoba untuk bernegosiasi dengan pak Aziz, tapi tanggapan beliau adalah tetap sama, menyarankanku untuk ganti judul.

Saya sarankan, proposal ini anda lanjutkan di S2 saja..

Hanya itu komentar yang menurutku cukup menguatkan. Menurut beliau proposalku tertalu berat jika untuk jenjang S1. Kucoba untuk berkonsultasi dengan pak Mahgfur, beliau menyarankan untuk melakukan action research, dengan konsekuensi waktu yang lama. Menarik, tapi aku berfikir kembali, jika penelitianku tidak selesai-selesai maka tahu sendiri mbak Hel semakin tidak mempercayaiku. Namun aku tetap membaca buku Action research yang dipinjamkan pak Mahgfur kepadaku.

Judul Yang Keempat

Dikos aku kembali berfikir, kira-kira judul apa yang pas. Siang itu aku tak beranjak dari tempat tidur, sambil membaca buku PTK milik Zoem. Kupandangi buku-buku yang menumpuk, kemaren buku itu dipenuhi dengan buku-buku tentang nilai, dan sekarang dipenuhi dengan buku-buku tentang moral. Aku mesti memanfaatkan bahan-bahan yang sudah ada, untuk lebih mengefektifkan tenaga dan mengefesien waktu. Tapi kira-kira apa ya??! Kuantitatif, kualitatif, action research, korelasi, multi studi kasus, deskriptif, komparasi, pustaka… aha!!!! Cepat-cepat kuraih Hp, kuketik pesan singkat ke pak Aziz.

Ass. Bapak, bagaimana jika Judul saya “Kematangan Moral siswa sekolah berbasis agama dan Umum, studi komparatif” trima kasih. Laporan terkirim ke Pak aziz kuterima.

Tak lama kemudian, balasan dari pak Azizpun kuterima.

Ya bisa.

Ku sms kembali, kira-kira pakai teorinya siapa pak?

Dengan cepat pak Aziz membalas smsku. Teori Kolhberg

Singkat, tapi cukup mewakili semuanya menurutku. Serasa ada kekuatan baru yang kurasakan mengalir dalam darahku. Baiklah, kuantitatif komparatif tak mengapa. Masalah mimpi untuk menjadikan skripsi aku pikir bisa disiasati, membuat buku tak harus dari hasil penelitian. Aku bisa menformat buku itu dengan bahasa yang lebih komunikatif, buku parenting yang menarik. Sedangkan skripsi, aku bertekad nantinya tidak hanya nagkring di perpustakaan pusat dan fakultas. Mengirimnya ke jurnal, itu adalah srategiku. Maka yang mesti kulakukan adalah mengerjakannya dengan serius dan tidak main-main. Aku yakin, untuk bisa masuk ke jurnal bukanlah penelitian yang ecek-ecek.

Tak terlalu berat menurutku, karena referensi mengenai Moral sudah ada. Membuat latar belakang masalah, kajian teori dan metode penelitian sepertinya sudah tidak berat lagi kurasakan, mungkin karena sudah terbiasa dengan proposal-proposal yang sebelumnya. Semoga ini adalah proposal yang terakhir sehingga ada kejelasan untuk mengerjakan skripsi. Sekolah agama kupilih MAN 3 Malang sedangkan sekolah berbasis umum kupilih SMAN 8, pertimbangannya mengirit biaya karena kedua sekolah ini berdekatan, sedangkan untuk pertimbangan yang lain nanti akan kupikir.

Proposal selesai, ku sms pak Aziz untuk berkonsultasi. Balasan dari beliau, konsultasi besok pagi jam 06.30 ditunggu di fakultas. Seperti biasa, pagi-pagi aku ke fakultas, diruang administrasi pak Aziz sedang mengutak-atik komputer kantor. Di ruang itu pak aziz membolak-balik proposalku.

Ok, tinggal revisi sedikit, buat skala bla..bla….bla..

Jadi, proposal saya ini diterima pak??!

Ya, nanti kalau bisa buat skala yang berbentuk cerita. Konsultasinya setelah tanggal 8 Mei saja, karena belakangan ini saya fokus sama disertasi saya, saya ujian tanggal 8 Mei.

Oya, trima kasih pak…

Lega rasanya, bagai mimpi akhirnya statusku adalah menggarap skripsi bukan proposal lagi. Tekadku semakin bulat, untuk tidak menjadikan skripsiku tidak hanya nangkring di perpustakaan pusat dan fakultas. Aku harus serius mengerjakan skripsi ini. 8 Mei, ada waktu 17 hari untuk membuat skala. Aku ingat, saat seperti ini merupakan waktu yang tidak tepat untuk untuk anak sekolah, disibukkan dengan masa-masa ujian, tapi bismillah.

Direpotkan Dengan Masalah Administrasi Sekolah

Satu permasalahn selesai, tapi aku menyadari permasalahan yang lain pasti akan datang. Aku percaya sesuatu yang bagus perlu penempaan yang benar-benar keras, belajar dari perjalanan yang awal mental sudah kupersiapkan jika suatu waktu akan mengalami kesulitan. Benar apa yang dikatakan oleh teman-teman, pembuatan skripsi pasti akan mengalami ujian, entah dari diri sendiri, orang lain, ataupun dosen. Dan aku dari semua aspek, keluarga yang merongrong untuk cepat selesai, dosen yang super sibuk dan rewel dengan judulku, komputer dan printer yang selalu rewel, bahkan hati yang remuk redam, 2 tahun lebih aku membangunnya namun selalu hancur dengan hal-hal yang mungkin ini sepele tapi sangat menyakitkan. Menemukan ilmu ikhlas sungguh membutuhkan perjuangan keras. Aku tahu Tuhan, Kau sedang menempaku menjadi pribadi yang berkualitas.

Membuat skala dalam bentuk cerita ternyata tidak semudah membuat skala biasa. Benar-benar menguras pikiran. Deadline tanggal 9 april selesai ternyata meleset, belum rampung hingga akhirnya agenda konsultasi mundur tanggal 15 Mei dan itupun aku merasa perlu banyak perbaikan sana-sini. Disamping itu mengurus surat perizinan kedua sekolah ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Sebelum mendapatkan idzin dari pihak sekolah perlu mengurus perizinan dari Depag (untuk MAN) dan Diknas (Untuk SMAN) bolak balik, kurang ini dan itu. Cukup melelahkan, untuk menghemat keuangan aku bela-belain jalan kaki dari SMAN 8 ke MAN 3, atau jalan kaki dari kos ke SMAN 8. Aku merasa beruntung karena jarak kedua sekolah tidak terlalu jauh, dan bagiku cukup kuat untuk jalan kaki. Selesai mengurus semuanya surat-surat perizinan akhirnya disepakati bulan Juli pasca liburan semester aku bisa memulai penelitianku.

15 April aku berkonsultasi ke pak Aziz untuk semuanya, bagai mimpi karena aku merasa sudah ada kejelasan tentang kelanjutan skripsiku. Tidak semudah yang kubayangkan, pak Aziz masih menyangsikan blue print yang kususun, otomatis skala yang kubuat juga harus dirombak. Lumayan pusing juga, rombak sana rombak sini. Kurang lebih hampir satu bulan aku mengutak atik skala. Jauh lebih menguras ketimbang membuat latar belakang masalah dan kajian teori.

Deadline perjanjian penelitian dengan pihak sekolah semakin dekat, sedangkan skalaku belum kelar, belum lagi birokrasi di SMAN 8 lumayan sulit juga menjadi kendala tersendiri bagiku. Pada saat itu aku juga merasa jenuh jika hanya disibukkan dengan skripsi semata, karena di UKM dan komisariat sudah masa demisioner, di cabangpun tidaklah sesibuk seperti yang dikomisariat. aku ingin memiliki kesibukan yang lain dan pasti. Ketika ke fakultas tanpa sengaja aku membaca informasi di papan info mengenai dibukanya lowongan magang yang diadakan oleh Pembantu Dekan III. Iseng-iseng kubuat surat lamaran, tak lama kemudian panggilan tes dan wawancara hingga akhirnya aku lolos seleksi dan diterima magang bersama Showi dan Khofifah. Diterimanya magang ini menjadi awal kesembuhan hati yang remuk redam, meski akhirnya kembali kandas, tapi tak perlu menceritakan hal ini kawan.

Sejak itu kesibukanku bertambah, setiap pagi mulai jam 8 pagi hingga jam 2 siang ngantor di fakultas tapi sering juga pulang sore atau ngelembur sampai malam. Waktu untuk menyelesaikan skripsi adalah pada malam hari dan ba’da subuh, kadang waktu tersita untuk kegiatan yang ada dicabang. Meski sibuk tapi aku tak merasa itu semua sebagai beban. Karena terbiasa dengan kerjaan yang bertumpuk-tumpuk maka hal ini menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Sedangkan untuk ke tempat penelitian dalam kontrak kerjaku telah disepakti bahwa aku bisa pergi kesana disela-sela kerja, sebuah dispensasi.

Semenjak magang, penggodokan skala sudah hampir rampung. Tinggal uji coba dan ini itu. Namun satu permasalahan yang masih kualami yaitu administrasi di SMAN 8 yang cukup sulit. Capek adalah hal yang kurasakan, bagaimana tidak di SMAN 8 aku dilempar kesana dan kesini tanpa sebuah kejelasan, dan penyambutan yang kurang ramah.

Sebuah perjuangan yang tidak bisa dilupakan kawan, aku wira-wiri sepanjang jalan Veteran-Bandung dan itu jalan kaki pada waktu pagi dan siang. Sampai di fakultas aku sering merasakan kakiku pegal semua, maka hal yang kulakukan adalah melepas sepatu dari lantai satu ke lantai 2 di kantor magang, atau lari-lari disepanjang koridor lorong.

Waktunyapun tiba untuk menyebar skala. Selama 2 minggu aku berjalan dengan membawa beban satu tas buku soal yang menumpuk. Masuk ke beberapa kelas untuk menyebar skala dan meminta kesedian guru BK, bagian Tatib dan Waka kurikulum untuk diwawancarai. Cukup melelahkan. Dan satu lagi, Pak Aziz menginginkan dataku disumated Rating. Bayangkan kawan sebelum melakukan uji validitas dan reliabilitas aku mesti menganalisa setiap item satu persatu secara manual, sedangkan item skalaku adalah 48 item. Lumayan makan waktu dan tenaga. Jika kau tahu, aku mengerjakannya dimanapun aku sempat, bahkan ketika Osfak berlangsung dibelakang peserta aku menyempatkan diri untuk melakukan summated rating, sampai-sampai pak Jamal menggodaku bahwa aku menghitung laba. Satu lagi permintaan pak Aziz, uji asumsi. Pak Aziz benar-benar menginginkan skripsiku lebih sempurna. Namun terkadang aku meragukan terhadap skripsiku, aku merasa tak ada yang istimewa dan menarik dengan karyaku ini. Ibarat meneliti yang sudah bisa ditebak, tiba-tiba aku ragu layakkah penelitianku ini dibawa ke jurnal??? Kadang aku mulai pesimis, merasa tak ada yang menarik. Kadang aku mengerjakan dengan hati yang gamang. Ini sudah terlanjur maka aku harus menyelesaikannya.

Melakukan analisa adalah hal yang juga berat. Rombak sana-rombak sini, pusing kurasa. Berlama-lama didepan komputer dengan memelototi angka-angka. Ketika konsultasipun, pak Aziz menginginkan ini dan itu. Satu permasalahan yng kuhadapi, ketika uji validitas reliabilitas dari data hasil summated rating hasilnya banyak yang gugur, hasil summated ratingpun sangat jelek sekali. Tahukah kawan apa yang dikatakan pak Aziz?? Lakukan uji coba lagi dengan menambah jumlah responden… Oh My God!!! padahal aku sudah melakukan penelitian, bagaimana dengan data-data yang telah kuperoleh. Cukup stress juga kurasakan waktu itu. Bimbang, apa yang akan kulakukan. Pemalsuan data??? ah, perilaku bejat. Tapi bagaimana??? Akhirnya aku siasati dengan menggunakan respon dari penelitiannku. Proses analisa yang cukup melelahkan.

Selesai melakukan analisa, permasalahan yang dihadapi adalah penulisan laporan atau paparan data. Dalam pemaparan datanyapun dilakukan berulang kali rombak sana rombak sini. Desas desus ujian semakin dekat, akhirmya aku merasa lega karena skripsi hampir kelar. Terima kasih Tuhan… dan kini tekadku mengahadapi ujian sesiap mungkin. Selama penyelasaian skripsi masih banyak teman-teman yang berkonsultasi masalah penelitian mereka, terutama masalah analisa data. Kelemahan teman-teman kabanyakan pada penelitian kuantitatif.

Hingga suatu hari, ketika konsultasi. “sekalian dilengkapi dengan abstraknya ya…”

Berarti ini sudah di ACC pak??? Ya, anda tinggal merevisi penempatan-penempatannya dan menambahkan abstrak.

Alhamdulilah, saat itu rasa bahagia begitu menyergapku. Aku ingat saat itu adalah bulan ramadhan. Dalam keadaan apapun pak Aziz masih sempat mengoreksi dan membahas penelitianku ketika bertemu. Sehabis acara buka bersama di fakultas, beliau masih menyempatkan untuk memberikan masukan terhadap skripsiku. Akhirnya “selamat ya… anda sudah selesai. Sekali lagi saya ucapkan selamat”.

Detik-Detik Ujian Skripsi

Aku merasa perjalanan mengerjakan skripsi cukup singkat jika tidak mengingat perjuangan keras untuk semuanya. Pasca liburan lebaran aku mulai sibuk mempersiapkn ujian. Cukup melelahkan juga, tapi lebih bersifat teknis. Mulai dari membuat abstrak, tanda tangan dosen pembimbing dan dekan, ngurus surat selesai penelitian, sampai pada penggandaan dan jilid. Waktu itu si Showi nyaris sering kami tinggal, aku dan khofifah sibuk dengan persiapan secara teknis.

Menanti jadwal dosen penguji cukup mendebarkan juga, kira-kira siapa dosen pengujinya dan jam berapa ujian. Akhirnya H-1 ujian jadwal keluar itupun keluar pada sore hari. Lumayan sedikit membuatku ciut, dosen pengujiku adalah Pak Yahya dan pak Khudlori, dosen yang cukup ditakuti oleh teman-teman. Bismillah, semua adalah hasil kerja kerasku, insya Allah aku bisa mempertanggung jawabkannya.

Detik-detik itupun tiba, aku kebagian jadwal jam 16.30 wib, cukup lama penantianku. Peserta ujian paling terakhir. Siang itu teman-temanpun mulai ramai, ujian kali ini hampir serentak disetiap fakultas, karena detik-detik menjelang wisuda. Khofifah bela-belain idzin tidak masuk kantor untuk persiapan ujian, dia kebagian siang hari sedangkan aku tetap masuk, hari itu hanya aku yang masuk. Sedangkan Showi menjemput ibunya yang lagi ke Malang. Sore tiba, cukup deg-degan juga karena satu persatu teman-temanku selesai. Jam 17.00 pak Yahya belum selesai menguji mbak Lila. Aku mulai sedikit resah, tinggal aku sendiri. Dan jam 17.15 akhirnya aku masuk juga untuk ujian. Seperti pesakitan, melihat Pak Khudlori tak ada senyum, melihat pak Yahya tidak terlalu shock sebab semenjak magang di fakultas aku akrab dengan beliau, melihat Pak Aziz seperti mempunyai pelindung. Pak Khudlori membuka sidang, presentasi yang singkat dan padat. Saatnya mengajukan pertanyaan. Lumayan menegangkan, pertanyaan pak Khudlori sangat kritis. Hal yang aku dan pak Aziz anggap sepele setelah pak Khudlori tanyakan cukup membuatku bimbang. Ujian beralangsung kurang lebih 45 menit. Jam 18.00 Wib aku sampai di kos diantar oleh Kholif dan temannya, Qibti, dan bareng bersama mbak Lila. Akhirnya kelar juga…. Alhamdulilah.

Bagai mimpi, terkadang aku masih belum percaya dengan ini semua. Revisiannya pun tidak terlalu banyak, setelah kudiskusikan dengan pak Aziz itu tidak menjadi masalah yang urgen hanya saja aku butuh menjelaskan lebih detail pada pak Khudlori. Selasai semua aku mengahadap ke Pak Aziz, dalam pertemuan itu pak Aziz mengatakan sesuatu padaku.

Sekali lagi saya ucapkn selamat, dan kalau bisa skripsi anda ini buat karya tulis ilmiah dan nanti kita usahakan kirim ke jurnal”

Perkataan pak Aziz bagai durian runtuh bagiku, “itu memang keinginan saya selama ini pak. Baik akan saya buat karya tulis ilmiah”.

Kita coba nanti kirimkan ke jurnalnya Psikologi UIN Jogja”

Aku merasa ini hadiah yang Tuhan berikan padaku. Perjuanganku selama ini ternyata disambut baik oleh pak Aziz, beliau akan membantuku untuk mengirimkan ke jurnal. Waktu itu aku disibukkan dengan persiapan AKK di cabang. Selang beberapa hari setelah pembicaraan tersebut akhirnya selesai juga tulisanku, siap untuk diajukan ke Pak Aziz. Hingga selesai wisuda, karya tulis itu masih belum diapa-apakan. Di fakultas magangku masih diperpanjang, dan aku memperpanjang selama 15 hari.

Cukup lama juga karya ilmiahku dibiarkan oleh pak Aziz, maklum beliau pada waktu itu cukup sibuk. Hingga suatu hari ketika aku memberikan kenang-kenangan untuk beliau.

Latifah ikut API ya..”

Maksudnya pak?? “ Aku menanyakn pak Aziz penuh Tanya.

Anda lihat di pengumuman depan PD III. Penelitian anda bisa dipresentasikan di sana. Untuk mempublikasikan hasil penelitian itu ada dua cara, pertama melalui jurnal dan kedua mempresentasikan ditemu ilmiah. Intinya, pak Aziz menyuruhku untuk mempresentasikan penelitianku di temu Ilmah ini.

Baik pak”. Kuliht pengumuman itu, seminar Nasional Asosiasi Psikologi Islam III. Acaranya tanggal 22 November di Hotel Saphire Jogyakarta. Tapi ada kendala, pendaftaran sudah ditutup kemaren, telat satu hari. Aku menghadap pak Aziz.

Pak, pendaftrannya sudah tutup, kemaren terakhir.”

Ohya?? Ini Coba anda hubungi pak Sus, beliau skjen API. Bilang apakah pendaftrannya masih buka init as rekomendasi dari Pak Aziz”.

Baik Pak..” kutelepon Pak Sus, membicarakan ini itu dan akhirnya…BISA. Tuhan… inikah hikmah dari semua itu??? Kenapa eksperimenku ditolak??? Inikah hadiah yang Engkau berikan dari semua kesungguhan dan perjuanganku??? Mimpiku terwujud, skripsi tidak hanya nangkring di perpustakaan tapi dipresentasikan di temu ilmiyah, didepan Psikolog dan dosen Psikologi se-Indonesia. Jauh lebik baik dari mimpiku semula. Aku semakin percaya ketika Tuhan belum mengabulkan doamu maka ia menambah kesabaranmu. Dan ketika Tuhan memberikan tidak apa yang kau minta maka senungguhnya Ia memberikan yang terbaik bagimu. Aku percaya dengan kata-kata itu, Selama ini Tuhan belum mengabulkan doa-doaku mengenai skripsi, dan mengabulkan tidak seperti apa yang kuinginkan. Hingga kemudian Tuhan memberikan sebuah kejutan yang luar biasa. Prestise bagiku, sekelas mahasiswa bergabung dengan dosen-dosen Psikologi se-Indonesai, di Yogyakarta.

Tapi pak..saya akan berangkat dengan siapa?? Apa yang yang harus saya persiapkan??” Terbayang semuanya, tiba-tiba aku menjadi pusiang. Biaya, adalah kendala tersendiri bagiku.

Bareng Pak Lubab dan Pak Amiq. Bla..bla…bla…

Setelah omong-omongan dengan pak Amiq dan disitu ada pak Habib. “Kamu juga ikut??” “Bareng ja nanti?? “ So, Aku kembali lagi ke Jogya dengan Gratis???!!! I Will Come, Jogja!!!

Puncak Mimpi itupun terjadi

Lagi-lagi Aku merasa ini mimpi. Ini adalah kali kedua aku ke Jogja dengan Gratis tis… hingga biaya makan dan penginapan. Aku meminta Lely untuk menemaniku. Rombongan kami transit di Solo, salah satu teman pak Habib. Paginya kami berangkat ke Jogya. Sekitar 2 jam perjalanan dari Solo-Jogyakrta.

Lagi-lagi aku merasa mimpi. Resepsionis hotel sapphire membuka pintu mobil kami. Tuhan… terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang Engkau anugerahkan. Sebelum keluar, pak Habib menanyakan biaya pendaftaran. Tak lama kemudian beliau mengeluarkan uang dan memberikan padaku dengan jumlah yang telah kusebutkan. “Ini dari fakultas pak???”

Ambil saja wes….”

Tuhan… nikmat mana yang akan kuingkari???? Begitu banyak nikmat yang telah Kau berikan pada kami. Sejak aku mendaftar di temu ilmiyah ini hal yang kubingungkan adalah masalah keuangan. Aku tahu ibuku telah mengirim uang sebanyak 600 ribu. Tapi ternyata lagi-lagi Tuhan memberiku rizki melalui pak Habib.

Diruang temu ilmiyah, jangan dibilang lagi-lagi aku bagai mimpi, kucubit lenganku, Sakit, dan ini nyata. Pada acara seminar, pembicaranya adalah Guru Besar Psikologi Islami dari UI dan bapak Sugiharto mantan menteri BUMN. Dalam seminar itu aku mendapatkan buku Sugiharto secara gratis. Lagi-lagi aku tak bisa mengingkari tentang nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadaku. Pasca acara itupun, malam harinya kami berjalan-jalan di alun-alun Jogya melihat orang-orang yang sedang week end. Aku termasuk orang yang digojlok oleh pak Habib, Pak Amiq dan Pak Dur. Belum kuceritakan kawan, selepas acara aku berbincang dengan pak Fuad Nasori dan disela-sela itu beliau menawariku untuk mendaftar menjadi dosen UII. seperti biasa rombongan kami mampir di Depok makan sea food dan ke Parangtritis.

@@@

Ketika kurenungi perjalanan hidupku, ternyata benar mimpi membuat jiwa kita menjadi hidup, semangat menjadi berkobar dan tekad menjadi membara. Inilah hikmah yang kuperoleh, inilah jawaban dari setiap pertanyaanku selama ini mengenai jatuh bangunnya dalam menyelesaikan skripsi. Baru kusadari, Tuhan begitu menyayangiku. Tuhan menghadiahiku lebih besar dari mimpi yang kubangun. Mungkin benar, mimpi skripisi menjadi buku dan masuk ke jurnal tidak terwujud, namun mempresentasikan didepan para dosen Psikologi se-Indonesia merupakan anugerah terindah. Mungkin ini adalah hal biasa bagi para dosen, bagi pak Aziz misalkan. Tapi tidak bagiku, ini adalah hadiah terindah yang Allah berikan bagi seorang yang baru beberapa hari lulus Strata 1. Diantara teman-temanku, hanya aku yang masuk menjadi peserta temu Ilmiyah ini dan bertemu dengan para Psikolog serta perwakilan dosen psikologi se-Indonesia. Mengutip pernyataan William Faulkner yang dikutip oleh Budhi Darma dalam tulisannya Memperhitungkan Masa Lampau. “Kita semua gagal dalam mencapai impian kita mengenai karya yang sempurna, karena itu rata-rata kita berada pada kegagalan indah untuk mengerjakan sesuatu yang tidak terjangkau”. Tuhanpun memberikan jalan begitu mudahnya untuk sampai ke Jogja. Siapa yang menyangka aku akan ditanggung semuanya, bukan hanya transport, tapi juga makan dan penginapan. Untuk urusan ini uangku hanya kalong seratus ribu untuk membeli Proseding.

Benar apa yang dikatakan oleh Pak Jamal (salah satu dosenku) dan guru Oogway, Yesterday is History, tomorrow is Mistery and today is Gift. Perjalananku menyelasaikan skripsi adalah sejarah, terdapat hikmah yang tercecer yang perlu kuhimpun. Esok adalah mistery, siapa yang menyangka skripsiku bakal menjadi sebuah pertimbangan di temu ilmiah Nasional, itu berarti menyebar ke berbagai fakultas Psikologi, minimal pada para peserta temu ilmiyah. Dan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Dan hari ini adalah anugerah yang Allah berikan. Apapun dan bagaimanapun yang terjadi pada kita merupakan anugerah yang Allah berikan. Lagi-lagi aku teringat dengan sms Pak Jamal yang terakhir Tak ada sesuatu yang lebih menyenangkan dalam hidup ini kecuali menghadapinya dengan rasa ikhlas dan syukur…

Yup, ketika kita mendapat sebuah kesenangan inilah anugerah yang patut disyukuri dan ketika apa yang kita hadapi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan maka ikhlas adalah sikap yang lebih baik. Sms ini selalu menguatkanku dalam menghadapi apapun. Sekali lagi terima kasih Tuhan… Nikmat mana yang bisa kuingkari…

@@@

Jember, 11 Maret 2009