Iffa el em’s Weblog



MENJADIKAN BERMAIN SEBAGAI MEDIA BELAJAR BAGI ANAK

Latifah em

ABSTRAK
Anak identik dengan dunia bermain, kegembiraannya terpancar dari ekspresi ketika ia bermain. Saat ini seringkali ditemui anak-anak kehilangan dunia keceriaannya, nyaris kehilangan dunia bermain. Sistem pendidikan saat ini cenderung menuntut anak untuk lebih banyak belajar dengan serius tanpa disertai dengan rasa fun, bahkan banyak sekolah telah menerapkan system fullday yang hampir tidak memberi kesempatan kepada anak untuk bermain dan bersosialisasi dengan masyarakat disekitarnya. Dunia bermain anak hampir tidak ada lagi, ditambah keinginan orang tua untuk menjadikan mereka lebih berprestasi sehingga memilihkan anak agar mengikuti les yang bermacam-macam. Hal seperti ini dapat menjadi salah satu penyebab anak lebih mudah jenuh dan stress. Sehingga menciptakan pembelajaran sambil bermain menjadi bagian dari solusi agar anak merasa fun dan tidak merasa tertekan. Anak pun tidak merasa kehilangan dunia bermainnya, permainan-permaianan yang dilakukan merupakan permainan edukatif.

Kata kunci : Anak, Belajar dan Bermain

A. PENDAHULUAN
Dunia bermain merupakan dunia berekspresi bagi anak, kegiatan yang dilakukan oleh anak lebih banyak digunakan untuk bermaian. Bermain menjadi media yang sangat menyenangkan bagi anak. Melalui kegiatan bermain anak bisa mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial . Bagi anak dunia bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran, didalamnya anak dapat menerima banyak rangsangan yang menimbulkan kesenangan dan bertambahnya pengetahuaan

Dilihat dari sudut pandang psikologi, mulai akhir tahun 1800-an bermain dipandang sebagai aktivitas yang penting untuk anak. Sebelumnya, bermain hanya dipandang sebagai ekspresi dari kelebihan energi yang dimiliki anak-anak atau sebagai bagian dari ritual budaya dan agama. Seiring perkembangan waktu, pandangan para ahli tentang bermain berubah mereka memandang bahwa bermain sebagai perilaku yang bermakna. Misalnya, menurut Groos bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk berlatih peran di masa mendatang.

Akan tetapi orang tua (pendidik) seringkali menafsirkan dengan tafsiran salah bahwa anak yang sering bermain dapat mengganggu kegiatan belajar dan dapat menurunkan prestasi belajar. Seringkali orang tua beranggapan bahwa belajar dan bermain merupakan dua hal yang harus dipisah. Anggapan ini semakin diperkuat dengan sistem disekolah saat ini yang hampir tidak memberikan peluang bagi anak untuk bermain. System Fullday menjadikan anak kehilangan dunia bermian, mulai dari pagi sampai sore hari anak dijejali dengan mata pelajaran yang seringkali diberikan dengan metode yang membosankan, membuat anak jenuh dan tidak mendapatkan rasa fun. Waktu bermain mereka nyaris hilang dan diganti dengan kegiatan di sekolah yang seringkali membuat mereka mudah jenuh. Sistem ini ditambah dengan keinginan orang tua yang menambah jadwal anak dengan les-les yang bermacam-macam, dengan alasan menggali potensi anak.
System seperti diatas tidak jarang membuat anak menjadi lebih mudah stress dan cenderung individual (berkurangnya interaksi social dengan teman sebaya). Jika dilihat dari fungsinya bermain menurut Landreth merupakan bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosi, ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada anak-anak.

Sehingga dengan demikian belajar dan bermain merupakan dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Belajar sambil bermain dan bermian sambil belajar membuat anak merasa fun dan dalam pembelajaran menjadi lebih efektif. Dengan belajar sambil bermain anak tidak hanya dijejali dengan teori-teori abstrak dengan metode-metode yang membosankan.

Metode pembelajaran yang disertai dengan bermain bisa dilihat pada sekolah Tomoe yang dikepalai oleh bapak Kobayasi . Kurikulum yang diterapkan oleh bapak Kobayasi pada sekolah Tomoe di Jepang pada tahun 1940-an merupakan metode yang patut dijadikan contoh, di sekolah ini anak merupakan subjek dari pembelajaran itu sendiri. Bapak Kobayasyi menyakini bahwa setiap anak memiliki watak yang baik. Para siswa bebas memilih mata pelajaran yang ingin dipelajari terlebih dahulu, dan yang paling menarik adalah anak tetap merasa fun dalam belajar, bagi mereka belajar di sekolah Tomoe sama halnya dengan bermian. Para murid tidak ingin melewatkan satu haripun untuk membolos di sekolah ini termasuk juga dengan Totto chan yang sebelumnya dikenal nakal di sekolah lamanya. Kiranya inilah sekolah yang diidamkan oleh anak-anak saat ini, sebuah sekolah dengan sistem bermain sambil belajar sehingga membuat anak menjadi fun bahkan tidak mau kehilangan seharipun tanpa ke sekolah.

B. BERMAIN DAN FUNGSINYA
B.1. Definisi Bermain
Dilihat dari sudut pandang psikologi, sejak akhir tahun 1800-an bermain dipandang sebagai aktivitas yang penting untuk anak. Sebelumnya, bermain hanya dipandang sebagai ekspresi dari kelebihan energi yang dimiliki oleh anak-anak atau sebagai bagian dari ritual budaya dan agama. Dalam perkembangan selanjutnya para ahli memiliki perubahan pandangan terhadap bermain, mereka berpendapat bahwa bermain merupakan suatu perilaku yang bermakna. Misalnya menurut Groos bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk melatih peran di masa yang akan datang untuk bertahan hidup. Sedangkan Hall melihat bermain sebagai rekapitulasi perkembangan suatu ras dan merupakan media penting untuk menyatakan kehidupan dalam diri (inner life) anak.

Erikson mendefinisikan bermain sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman untuk menciptakan situasi model serta dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan.

Moustakas mendefinisikan permainan sebagai ‘pembiaran pergi’, kebebasan untuk mengalami, membenamkan seseorang secara total dalam momen tersebut sehingga tidak ada lagi beda antara diri dan objek, diri sendiri dan orang lain. Energi, hidup, spirit, kejutan, peleburan, kesadaran, dan pembaharuan semuanya adalah kualitas dalam permainan.

Menurut McCune, Nicolich, & Fenson bermain dibedakan dari perilaku yang lain dalam hal:
a. Ditujukan demi kesenangan sendiri
b. Lebih fokus kepada makna daripada hasil akhir
c . Diarahkan pada eksplorasi subjek untuk melakukan sesuatu pada objek
d. Tanpa mengharapkan hasil serius
e. Tidak diatur oleh aturan eksternal
f . Adanya keterikatan aktif dari pemainnya.

Sedangkan menurut Dwi Sunar ciri-ciri yang membedakan antara bermain dengan aktifitas yang lain adalah :
a. Aktifitas bermain bisa menimbulkan efek yang menyenangkan dan gembira.
b. Aktifitas bermain bisa dilakukan secara spontanitas dan sukarela serta tidak ada unsur paksaan.
c. Dalam permainan ada aturan yang diciptakan oleh pemainnya sendiri dan sifatnya insidentil.
d. Dalam bermain anak bisa termotivasi untuk menyenangi permainan, misalnya anak betah berlama-lama dan mencari alat permianan.

Sedangkan Garvey dan Piaget menambahkan bahwa permainan haruslah: (a) menyenangkan; (b) spontan, sukarela, motivasinya instrinsik; (c) fleksibel; dan (d) berkait dengan pertumbuhan fisik dan kognitif.

B.2Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak
Ada beberapa factor yang mempengaruhi terhadap permainan anak diantaranya :
1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.
2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.
3. Jenis Kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.
4.Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.
5. Status social ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

B.3Fungsi Bermain
Bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan emosional, fisik, sosial dan nalar mereka. Pertama kemampuan emosional. Berinteraksi dengan permainan, seorang anak belajar bagaimana meningkatkan toleransi mereka terhadap kondisi yang secara potensial dapat menimbulkan frustrasi. Kegagalan membuat rangkaian sejumlah obyek dan mengkonstruksi suatu bentuk tertentu dapat menyebabkan anak mengalami frustrasi. Mendampingi anak pada saat bermain, pendidik (orang tua, guru) dapat melatih anak untuk belajar bersabar, mengendalikan diri dan tidak cepat putus asa dalam mengkonstruksi sesuatu. Bimbingan yang baik dan mengarahkan anak untuk dapat mengendalikan dirinya bermanfaat bagi anak di kemudian hari agar tidak cepat frustrasi dalam menghadapi permasalahan.
Kedua kemampuan Fisik. Secara fisik, bermain memberikan peluang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan motorik. Permainan seperti dalam olahraga mengembangkan kelenturan, kekuatan serta ketahanan otot pada anak, tanpa disadari permainan yang mengikutsertakan fisik merupakan bagian olah raga. Permainan dengan kata-kata (mengucapkan kata-kata) merupakan suatu kegiatan melatih otot organ bicara sehingga kelak pengucapan kata-kata menjadi lebih baik.

Ketiga kemampuan sosial. Bermain juga mengajarkan pada anak untuk berinteraksi secara sosial, berlatih untuk saling berbagi dengan orang lain, meningkatkan tolerasi sosial, dan belajar berperan aktif untuk memberikan kontribusi sosial bagi kelompoknya. Di samping itu, dalam bermain anak juga belajar menjalankan perannya, baik yang berkaitan dengan gender (jenis kelamin) maupun yang berkaitan dengan peran dalam kelompok bermainnya. Misalnya dalam permainan perang-perangan seorang anak belajar menjadi pimpinan, kapten sedangkan lainnya menjalankan peran sebagai pendukung. Dalam hubungannya dengan gender, anak-anak melakukan permainan stereotype sesuai dengan budaya dan masyarakat setempat. Misalnya, anak-anak perempuan bermain masak-masakan, sementara anak laki-laki bermain perang-perangan. Dalam hal ini anak-anak menjalani proses pembentukan identifikasi diri dengan bercermin pada hal-hal yang ada di tengah masyarakat.
Keempat kemampuan kognitif. Melalui bermain, anak juga berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan nalarnya, karena melalui permainan serta alat-alat permainan anak-anak belajar mengerti dan memahami suatu gejala tertentu. Kegiatan ini sendiri merupakan suatu proses dinamis di mana seorang anak memperoleh informasi dan pengetahuan yang kelak dijadikan landasan dasar pengetahuan dalam proses belajar di kemudian hari.
Kelima meningkatkan kreatifitas anak. Permainan tradisional merupakan bukti wujud dari kreatifitas anak, anak mampu menciptakan peralatan mainan dari benda-benda sekitar misalnya membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, membuat mahkota raja dari kulit daun nangka dan sebagainya.
Keenam bermain menjadi terapi. Bermain dan alat-alat permainan memiliki fungsi terapeutik. Kurikulum sekolah yang lebih menekankan pada mata pelajaran lebih banyak dengan menerapkan sistem fullday, ditambah tuntutan orang tua untuk berprestasi lebih tinggi membuat anak rentan terhadap timbulnya stress. Sehingga proses belajar anak sebaiknya dilakukan melalui metode bermain atau dengan alat-alat permainan. Menjadikan permainan dan alat-alat bermain sebagai media menyenangkan. Dalam permainan mengandung motivasi instrinsik, memberi kesenangan dan kepuasan bagi siapa yang terlibat.

B.4. Macam-macam permainan dan manfaatnya
A. Permainan Aktif
A.1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.
A.2.Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.
A.3.Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, atau memainkan alat musik.
A.4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
A.5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif
B.1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
B. 2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.
B. 3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

B.5. Belajar dan Bermain
Belajar tidak harus selalu dilakukan didalam ruang kelas, akan tetapi juga bisa dilakukan diluar ruangan, belajar dapat dilakukan dengan sebuah permainan. Dalam pembelajaran yang dilakukan dengan cara bermain harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan, kemampuan dan perilaku anak. Memberikan unsur-unsur pengetahuan dalam permainan yang diberikan disesuaikan dengan usia aanak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Membeikan kpercayaan kepada anak. Merupakan faktor penting untuk menumbuhkan percayaan diri pada anak. Beberapa riset menunjukan bahwa anak yang merasa mampu melakukan sesuatu lebih banyak berhasil dibanding mereka yang merasa tidak mampu.
b. Menjaga dan memelihara lingkungan belajar. Pada dasarnya anak kecil suka keteraturan. Ganngguan bisa datang secara instrinsik (dari anak) dan bisa pula datang dari ekstrinsik (luar). Gangguan instrinsik biasanya muncul karena ketidaktenangan pada anak, rasa lelahdan kegelisahan. Sedangkan fktor ekstrinsik suasana lingkungan yang tidak mendukung, bising, setingan kelas yang tidak efektif. Maka menjaga suasana kelas agar selau nyaman merupakan hal yang penting.

Menurut Dwi Sunar ada beberapa cara mengajaka anak belajar sambil bermain:
a. mengajak anak agar bisa merasa bebas mengekspresikan diri.
b. Membiarkan anak tumbuh di lingkungan yang terbuka sehingga dapat menyerap pengalaman dan pendapat baru.
c. Sedapat mungkin anak-anak didorong untuk memanipulasi dan menilai ide-ide
d. Memberi kesempatan pada anak untuk menjadi apa adanya
e. Mengajak dan mendorong anak untuk mempertimbangkan lebih dari satu penyelesaian dalam tiap masalah
f. menetapkan kedisiplinan, akan tetapi pelanggaran yang dilakukan tidak harus dengan hukuman
g. menerima keadaan yang sedikit berantakan
h. menghargai prestasi yang di peroleh anak
i. membiarkan anak tetap bermain jika mereka menikmati
j. memberikan dukungan dan arahan tanpa harus ikut campur
k. membiasakan anak memperkenalkan dongeng
l. mendorong anak agar mampu berimajinasi

C. PEMBAHASAN
Ciri khas dari dunia anak adalah bermain, permainan bagi mereka merupakan suatu hal yang menyenangkan tanpa beban, bahkan bermain tidak hanya digemari oleh anak-anak saja orang dewasapun menggemari permainan. Bermain menjadikan jiwa seseorang mejadi bebas tanpa tekanan. Demikian juga dengan dunia anak yang identik dengan dunia bermain. Melalui kegiatan bermain anak mampu mencapai perkembangan fisik, intelektual, sosial dan emosional, anak memiliki jiwa yang bebas tanpa tekanan.

Akan tetapi saat ini seringkali ditemui anak lebih mudah stress dan aktifitas bermain mereka mulai berkurang bahkan nyaris tidak ada, bahkan yang paling memprihatinkan lagi adalah saat ini permainan anak cenderung mengarah kepada sikap agresif dan impulsif. Sebuah laporan yang dilaporkan oleh Sausan bahwa saat ini permainan anak yang marak adalah video-game, permainan ini cenderung memberikan ransangan terhadap anak untuk menjadi impulsif dan agresif. Anak yang hanyut dengan video-game sampai pada tingkat yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru sebaliknya amat agresif, mereka bisa seperti orang linglung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bisa juga sangat ganas. Perilaku mereka sangat agresif karena pengaruh adegan yang disaksikan, bukan karena dorongan kecerdasan. Laporan diatas merupakan contoh salah satu permaian saat ini.

Demikian pula dengan belajar, anak seringkali merasa mudah jenuh degan metode belajar klasik yang lebih cenderung sebagai transfer ilmu pengetahuan. Metode tersebut menjadikan anak lebih mudah jenuh dan setengah-setengah. Bermain seperti yang dijelaskan oleh Erikson bahwa bermain sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan menciptakan situasi model dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan.

Belajar sambil bermain menjadi alternatif yang dapat memberikan peluang pada anak untuk mempersepsikan bahwa apa yang dipelajari merupakan sutau hal yang menyenangkan. Melalui bermain anak-anak belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak juga belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya. Melalui bermain anak-anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya.

C.1 Metode Pembelajaran dengan Bermain
Selama ini seringkali sekolah dan ruang kelas dipersepsikan sebagai tempat yang formal dan tidak bisa mengekspresikan diri dengan bebas. Maka dengan belajar dan bermain diharapkan peserta didik dapat mengekspresikan diri dengan bebas, serta dapat membangun kepercayan diri yang kuat. Ekspresi anak yang bebas dan tanpa tekanan dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Pembelajaran dengan bermain menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat menjadikan suasana belajar menjadi hidup dan lebih efektif. Metode ini memiliki prinsip :
a. seorang anak senantiasa dalam pertumbuhan dan perubahan, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh lingkungan.
b. Pada dasarnya anak kecil senang sekali belajar. Tugas utama pendidik adalah mendorong, memberi kesempatan belajar dan membiarkan anak belajar sendiri.
c. Anak kecil dapat menyerap hampir semua yang dipelajarinya dari lingkungan. untuk meningkatkan belajar, lingkungan harus “dipersiapkan” sehingga anak bebas memilih kegatan belajar.
d. Anak kecil belajar melalui gerakan-gerakan dan gerakan ini tidak boleh dibatasi kecuali bila membahayakan dirinya
e. Dalam masa tertentu anak lebih mudah belajar suatu kecakapan tertentu dibandingkan masalah lain
f. Kegiatan sensorik motoris memainkan peran penting dalam belajar bagi anak.
g. Anak harus bebas bergerak dan memilih kegiatan yang disenangi, dengan kebebasan yang disiplin dan mandiri
h. Guru, orang tua tidak boleh memaksa untuk belajar sesuatu dan tidak boleh mengganggu apa yang dipelajari oleh anak
i. anak harus mengikuti iramanya sendiri sesuai dengan taraf kematangannya dan tanpa paksaan untuk menyesuaikan diri dengan anak lain
j. mengembangkan kepercayaan pada dirinya sendiri bila dia berhasil melaksanakan tugas sederhana.

Dengan prinsip-prinsip ini pendidik (guru, orang tua) dapat berinovasi menciptakan permainan-permainan edukatif. Misalnya dalam pelajaran sains dengan melakukan eksperimen kecil untuk menunjukkan bagaimana gunung berapi meletus. Eksperimen kecil ini bisa dilakukan dengan mencampur 8 sendok makan cuka, 4 sendok makan air jeruk dan 4 sendok air biasa, ditetesi dengan pewarna makanan. Botol ditimbun dengan tanah sampai bibir botol, kemudian mengambil soda kue dan dibungkus dengan tisu, masukkan bungkusan soda kue ke botol.

Ketika soda kue tercampur dengan larutan jeruk dan cuka maka akan terjadi reaksi kimia. Luapan lava merah tampak seperti gunung meletus akan keluar dari botol. Reaksi yang terjadi antara cuka dan soda kue adalah mengeluarkan karbondioksida. Cuka yang ditambah dengan asam dari jeruk akan bereaksi terhadap soda kue dan mengeluarkan gelembung gas karbondioksida. Gelembung gas karbondioksida akan memaksa larutan merah keluar dari timbunan pasir atau tanah. Permainan ini dapat menunjukkan bagaimana gunung berapi meletus.

Para pendidik dapat berinovasi dengan permainan yang memanfaatkan beda-benda disekitar dalam menyampaikan pelajaran. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh para siswa di sekolah Tomoe, berbagai eksperimen kecil mereka lakukan. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk belajar pertanian dengan seorang guru pertanian bapak Sosaku yang berasal dari pendidikan rendah. Hebatnya dari pendidikan yang diterapkan sekolah Tomoe adalah mereka tidak memandang dari mana dan bagaimana asal pendidikan guru yang mengajarinya. Para siswa Tomoe justru menyukai guru dari petanian tersebut .

D. PENUTUP
Dunia anak menjadi dunia yang sangat menyenangkan terlebih apabila para pendidik (orang tua, guru) memberikan sebuah peluang untuk mengekspresikan diri dan membangun kepercayaan diri mereka bahwa mereka mampu. Semua itu dapat dilatih dengan melalui permainan. Bermain merupakan bentuk ekspresi mereka, maka belajar dan bermain merupakan dua hal yang tidak dapat dipungkiri.

Permainan menjadi sebuah media berlatih untuk menajamkan kemampuan yang dimiliki oleh anak. Demikian pula dalam pembelajaran, seorang pendidik dalam hal ini adalah orang tua dan guru bukan menjadi pengatur akan tetapi lebih berfungsi sebagai mediator. Membiarkan anak berekspresi serta memberikan fasilitas bermain. Anak merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan, maka memberikan kesempatan pada mereka untuk menikmati dunianya merupakan bentuk rasa syukur dan kasih sayang.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: